Jangan Wariskan Kemanjaan pada Anak

Jangan Wariskan Kemanjaan pada Anak
*) Oleh : Sukardi
Dosen Program Studi Manajemen Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Pemandangan anak masih disuapi orang tua ketika usianya sudah cukup besar bukan lagi sesuatu yang sulit ditemukan. Begitu pula anak yang hendak berangkat sekolah, bersepatu masih dipakaikan oleh orang tuanya di dalam mobil.

Tas dibawakan, botol minum disiapkan, rambut dirapikan, bahkan barang barang kecil yang tertinggal pun orang tua yang sibuk mencarikannya. Semua dilakukan demi kasih sayang.

Benarkah semua bentuk pelayanan kepada anak semacam ini merupakan bentuk kasih sayang yang sesungguhnya?

Banyak memberi pelayanan dalam membangun kenyamanan anak kadang justru membangun ketergantungan, dan tidak membangun kemandirian anak menghadapi kehidupan.

Masa kanak-kanak memang masa bermain. Karena itu, mendidik anak seharusnya dilakukan dengan suasana yang menyenangkan. Anak tidak perlu dibebani pekerjaan orang dewasa. Tetapi bermain bukan berarti bebas dari tanggung jawab.

Di balik permainan, anak tetap perlu belajar mandiri, disiplin, bekerja, menghadapi kesulitan, dan menyelesaikan persoalan sederhana sesuai usianya.

Persoalannya, sebagian orang tua justru berlomba memberikan pelayanan kehidupan yang serba mudah pada anak. Anak tinggal meminta, orang tua menyediakan.

Anak lapar, disuapi. Anak berpakaian, dibantu. Sepatu dikenakan. Kamar berantakan, orang tua membereskan. Piring kotor, ada yang mencuci. Ketika anak menghadapi sedikit kesulitan, orang tua segera turun tangan.

Anak akhirnya tumbuh dengan satu kebiasaan: ada masalah, orang lain yang menyelesaikan. Padahal kehidupan tidak selalu menyediakan kenyamanan.

Ajarkan Anak Menghadapi Persoalan Nyata

Menarik untuk melihat kehidupan anak-anak dari keluarga yang secara ekonomi sederhana. Banyak anak keluarga buruh sejak kecil justru telah dibiasakan melakukan pekerjaan sederhana: makan sendiri, mencuci piring sendiri, menyapu halaman, menata kamar tidur, menyiapkan pakaian dan perlengkapan sekolah.

Ketika memasuki usia remaja, mereka semakin terbiasa membantu pekerjaan rumah dan memahami bahwa kehidupan membutuhkan usaha. Bukan berarti kemiskinan harus dipertahankan agar anak menjadi tangguh. Bukan pula anak harus dipaksa bekerja berat.

Yang penting adalah pembiasaan anak untuk bertanggung jawab. Anak perlu belajar bahwa untuk bisa terpenuhi setiap kebutuhan mempunyai proses.

Makanan tidak tiba di meja dengan sendirinya. Rumah tidak menjadi bersih tanpa ada yang membersihkan. Pakaian tidak otomatis tercuci dan tersetrika. Uang tidak muncul begitu saja ketika anak meminta.

Pembelajaran semacam itu jauh lebih penting daripada sekadar mengajarkan anak memperoleh nilai akademik tinggi.

Anak yang selalu dilayani bisa saja tumbuh cerdas secara akademik, tetapi belum tentu mampu mengurus dirinya sendiri. Sebaliknya, anak yang terbiasa melakukan pekerjaan sederhana akan memiliki pengalaman menghadapi persoalan nyata.

Ia belajar mencoba, salah, memperbaiki, dan menyelesaikan pekerjaan sampai tuntas. Di sinilah keluarga sesungguhnya menjadi sekolah pertama bagi anak untuk berlatih kemandirian.

Bangun Ketahanan Hidup untuk Anak

Orang tua tentu tetap harus membantu anak. Tetapi bantuan seharusnya diberikan secara bertahap. Ketika anak belum mampu, orang tua mendampingi. Setelah mampu, biarkan anak melakukannya sendiri. Jangan karena pekerjaan anak lebih lambat atau hasilnya belum maksimal, kemudian orang tua mengambil alih.

Merapikan tempat tidur mungkin terlihat sepele. Mencuci piring sendiri mungkin dianggap pekerjaan kecil. Menyiapkan tas sekolah mungkin bukan prestasi besar. Tetapi dari pekerjaan kecil itulah tumbuh rasa tanggung jawab.

Anak juga perlu dikenalkan dengan pekerjaan yang menantang sesuai usianya. Bukan untuk mengeksploitasi tenaga anak, melainkan untuk membangun ketahanan hidup.

Anak belajar bahwa tidak semua keinginan harus segera terpenuhi, tidak semua pekerjaan menyenangkan, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan dengan meminta bantuan orang lain.

Tantangan kecil hari ini dapat menjadi latihan menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan. Orang tua perlu membedakan antara memanjakan dan menyayangi.

Memanjakan berarti mengambil alih sesuatu yang sebenarnya sudah mampu dilakukan anak. Menyayangi berarti menyiapkan anak agar suatu saat mampu mandiri.

Kasih sayang bukan selalu menyediakan jalan yang mudah. Kadang kasih sayang justru berarti membiarkan anak berusaha, mencoba, bahkan mengalami kegagalan kecil yang aman.

Dari sanalah anak belajar bahwa kesulitan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari. Kita tentu berharap anak-anak kelak menjadi manusia yang mandiri, kemandirian tidak bisa terbentuk secara tiba-tiba ketika anak sudah dewasa, dan kemandirian harus ditanamkan sejak kecil melalui kebiasaan sehari-hari.

Jangan sampai ketika anak sudah dewasa, orang tua masih harus menyiapkan segala kebutuhannya. Jangan sampai anak memasuki dunia kerja tanpa kemampuan mengurus diri, tanpa disiplin, tanpa ketahanan menghadapi tekanan, dan selalu berharap ada orang lain yang membereskan persoalannya.

Tugas orang tua bukan membuat kehidupan anak selalu mudah. Tugas orang tua adalah mempersiapkan anak mampu menjalani kehidupan.

Karena itu, mulai sekarang barangkali kita perlu mengurangi pelayanan yang tidak perlu. Biarkan anak makan sendiri. Pakailah sepatu sendiri. Rapikan tempat tidur sendiri. Cuci piring sendiri. Siapkan perlengkapan sekolah sendiri.

Berikan pekerjaan rumah sesuai kemampuan, dan secara bertahap, beri mereka tanggung jawab yang lebih besar. Jangan wariskan kemanjaan kepada anak.|| sumber: suara aisyiyah

 

Tinggalkan Balasan

Search