Dalam waktu dekat, kita akan menghadapi musim penghujan. Tetapi di daerah lain masih mengalami kemarau. Kondisi ini hendaknya menjadi peringatan sekaligus bahan muhasabah bagi kita semua.
Allah Swt berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ
Artinya: “Dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup.” QS. Al-Anbiya ayat 30.
Air adalah benda yang sangat penting dalam kehidupan. Manusia membutuhkannya untuk minum, memasak, mandi, bersuci dan memenuhi berbagai kebutuhan lainnya.
Tumbuhan membutuhkan air untuk tumbuh. Hewan membutuhkan air untuk bertahan hidup. Karena itu, air bukan sekadar benda yang keluar dari keran. Air adalah nikmat Allah dan amanah yang harus dijaga.
Sebagai makhluk yang memiliki kemampuan paling besar untuk mengeksploitasi alam, kita menjadi makhluk yang paling bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan air bagi seluruh makhluk hidup. Jangan sampai kita menjadi generasi yang menikmati air, tetapi justru merusak sumber-sumber air. Jangan sampai kita meminta hujan kepada Allah, tetapi pada saat yang sama kita membuang-buang air dan merusak lingkungan.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk memperhatikan soal penggunaan air. Allah Swt berfirman:
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” QS. Al-A’raf ayat 31.
Dari ayat ini kita diajarkan untuk tidak boros dan berlebih-lebihan dalam menggunakan air, termasuk saat menggunakannya untuk kepentingan ibadah seperti wudu dan mandi.
Imam An-Nawawi dalam kitab Khulashatul Ahkam fi Muhimmatis Sunan wa Qawa’idil Islam menyebutkan sebuah hadis peringatan Rasulullah kepada orang yang sedang berwudu:
قال لمتوضِّئٍ: لَا تُسْرِفْ
Artinya: “Rasulullah SAW berkata kepada seorang yang sedang berwudhu: ‘Jangan berlebihan.’
Rasulullah juga telah memberikan teladan bagaimana menggunakan air sebagaimana disebutkan dalam hadits dari Anas ra:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَغْتَسِلُ بِالصَّاعِ إِلَى خَمْسَةِ أَمْدَادٍ، وَيَتَوَضَّأُ بِالْمُدِّ
Artinya: “Rasulullah saw mandi menggunakan air sebanyak satu sha‘ hingga lima mud, sedangkan untuk berwudhu beliau menggunakan satu mud.” (Muttafaq ‘alaih).
Dalam riwayat lain dari Ummu ‘Imarah Al-Anshariyah ra disebutkan:
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم تَوَضَّأَ بِإِنَاءٍ فِيهِ قَدْرُ ثُلُثَيْ مُدٍّ
Artinya: “Bahwa Nabi Muhammad saw berwudu dengan sebuah wadah yang berisi air sekira dua pertiga mud.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i dengan sanad hasan).
Syekh Muhammad Nawawi Banten dalam kitab Qûtul Habîbil Gharîb, Tausyîh ‘alâ Fathil Qarîbil Mujîb juga menjelaskan:
وَأَمَّا مَكْرُوهَاتُ الْوُضُوءِ فَالْإِسْرَافُ فِي الْمَاءِ
Artinya: “Adapun perkara yang dimakruhkan dalam wudu adalah berlebihan dalam menggunakan air…”
Dalil-dalil ini menunjukkan bahwa Allah, Rasulullah, dan ulama memberikan perhatian serius terhadap penggunaan air. Perhatian ini harus kita aplikasikan dalam suasana musim kemarau seperti sekarang ini.
Selain masalah air, musim kemarau juga mengajarkan kepada kita tentang kepedulian kepada sesama. Ketika kita masih memiliki air, sementara saudara kita kesulitan mendapatkannya, maka bantulah mereka. Allah Swt berfirman:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” QS. Al-Ma’idah ayat 2.
Selain ikhtiar lahir, pada kondisi kemarau seperti ini, mari kita kuatkan ikhtiar batin dengan memperbanyak istighfar kepada Allah Swt. Allah Swt berfirman tentang Nabi Nuh as:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
Artinya: “Maka aku berkata kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu.’ QS. Nuh ayat 10–11. (*)
