Antara Amanah dan Ujian Kesombongan

Antara Amanah dan Ujian Kesombongan
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Setiap nikmat yang melekat pada diri manusia baik berupa jabatan, harta, ilmu pengetahuan, hingga popularitas pada hakikatnya adalah amanah yang membawa konsekuensi besar. Sayangnya, batas antara rasa syukur dan perangkap kesombongan sering kali sangat tipis. Di saat seseorang merasa berhasil meraih sesuatu karena kehebatan dirinya sendiri, di situlah benih sombong mulai menggerogoti hati.

Dalam pandangan Islam, kedudukan atau kelebihan bukanlah tanda keutamaan seseorang di hadapan Allah, melainkan instrumen ujian. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:
وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖ
Artinya: Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu beberapa derajat atas sebagian (yang lain) untuk menguji kamu atas apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat hukuman-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An’am: 165)

Ketika amanah dipahami secara benar, seseorang akan merasa takut dan berhati-hati. Ia menyadari bahwa seluruh apa yang ada padanya harus dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Sebaliknya, ketika amanah bergeser menjadi ajang pemuas ego, manusia rentan jatuh ke dalam perangkap kibr (kesombongan)

Pelajaran dari Sejarah: Korun dan Kesombongan

Al-Qur’an mengabadikan kisah Korun sebagai ikhtiar pembelajaran bagi umat manusia. Korun dikaruniai perbendaharaan harta yang sangat melimpah, namun ia terperosok ke dalam kesombongan dengan mengatasnamakan keahlian pribadinya. Ia berkata,
قَالَ اِنَّمَآ اُوْتِيْتُهٗ عَلٰى عِلْمٍ عِنْدِيْۗ
Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku.” (QS. Al-Qashash: 78).

Akibat dari hilangnya rasa sadar bahwa harta tersebut adalah amanah, Allah membenamkan Korun beserta seluruh kekayaannya ke dalam bumi. Kisah ini menjadi peringatan keras bahwa menganggap keberhasilan semata-mata atas jerih payah sendiri tanpa melibat-sertakan karunia Allah adalah awal dari kebinasaan.

Ciri-Ciri Kesombongan yang Terselubung

Rasulullah SAW mendefinisikan kesombongan secara tegas dalam hadis riwayat Muslim: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Dalam konteks mengemban amanah, kesombongan sering hadir dalam bentuk yang halus:

– Enggan Menerima Kritik: Merasa diri paling tahu dan menutup diri dari nasihat atau masukan orang lain.

– Meremehkan Orang Lain: Menganggap orang di bawahnya tidak memiliki kemampuan atau kedudukan yang setara.

– Menuntut Pengakuan: Selalu ingin dipuji atas pencapaian dan kontribusinya

Merawat Hati dari Perangkap Kesombongan

Agar amanah tidak berubah menjadi sumber bencana spiritual, beberapa ikhtiar hati perlu terus dilatih:

– Sentiasa Mengingat Asal Usul: Manusia diciptakan dari tanah dan akan kembali ke tanah. Tidak ada alasan mendasar bagi makhluk yang lemah untuk bersikap sombong.

– Menyadari Sifat Sementara Amanah: Jabatan akan berakhir, harta akan ditinggalkan, dan kesehatan akan menurun. Semua itu hanya titipan sementara.

– Memperbanyak Istighfar dan Doa: Memohon kepada Allah agar dijauhkan dari sifat ujub (bangga diri) dan sombong, serta diberikan keikhlasan dalam menjalankan tugas.

Mari kita renungkan bahwa akhir dari perjalanan hidup manusia tidak ditentukan oleh seberapa besar jabatan yang pernah dipangku atau seberapa banyak harta yang berhasil dikumpulkan, melainkan oleh kebersihan hati saat mengembalikan semua amanah tersebut kepada pemilik-Nya. Kesombongan mungkin memberikan kenikmatan semu berupa pujian sesama manusia, tetapi ketawaduanlah yang akan menyelamatkan kita di hadapan Allah SWT.

Amanah adalah beban yang berat, sedangkan kesombongan adalah racun yang merusaknya. Semoga kita tidak tergolong ke dalam kelompok orang-orang yang terpedaya oleh kelebihan diri, melainkan menjadi hamba yang senantiasa sadar bahwa setiap kelebihan adalah beban tanggung jawab yang menuntut kerendahan hati. Dan Semoga Allah senantiasa menjaga hati kita agar tetap tawaduk dalam mengemban setiap titipan-Nya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search