Pada tahun 2010, Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah mengeluarkan keputusan monumental yang menegaskan bahwa hukum merokok adalah haram. Keputusan ini didasarkan pada argumen medis dan agama yang kuat : rokok secara nyata merusak kesehatan diri sendiri serta membahayakan orang lain (perokok pasif). Namun, lebih dari satu dekade sejak fatwa tersebut digaungkan, realita di lapangan justru berbicara sebaliknya.
Indonesia masih menjadi salah satu negara dengan jumlah perokok aktif tertinggi di dunia.
Bahkan, fenomena ini telah bergeser ke arah yang kian mengkhawatirkan: rokok kini mulai menjangkiti anak-anak usia Sekolah Dasar (SD).
Melihat anak kecil dengan lihai mengisap batang rokok bukan lagi pemandangan yang asing di sudut-sudut perkampungan maupun pinggiran kota besar.
Mengapa anak-anak yang belum genap berumur belasan tahun ini sudah akrab dengan tembakau? Jawabannya tidak tunggal, melainkan sebuah lingkaran setan yang melibatkan psikologis anak dan kelalaian lingkungan.
Mengapa Anak Usia SD Mulai Merokok?
Secara psikologis, anak usia SD berada pada fase meniru (modeling) yang sangat kuat. Mereka adalah pengamat yang ulung namun belum memiliki filter yang matang untuk membedakan mana yang baik dan buruk.
Ada beberapa faktor utama yang memicu kebiasaan fatal ini:
* Pengaruh Lingkungan dan Keluarga:
Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Ketika anak tumbuh di lingkungan di mana ayah, kakak, atau paman mereka merokok setiap hari, rokok dianggap sebagai sesuatu yang “normal” dan bagian dari kedewasaan. Lingkungan yang permisif ini membuat anak tidak lagi melihat rokok sebagai benda berbahaya.
* Tekanan Sosial (Peer Pressure):
Di usia sekolah, keinginan untuk diterima dalam kelompok pertemanan sangatlah besar. Anak-anak sering kali saling menantang. Menolak rokok bisa membuat mereka dicap “penakut”, “banci”, atau “tidak gaul”.
Demi gengsi dan pengakuan, mereka akhirnya menyerah pada kepulan asap.
* Rasa Ingin Tahu yang Tinggi: Anak-anak memiliki rasa penasaran yang besar terhadap apa yang dilakukan oleh orang dewasa. Mengisap rokok dianggap sebagai jembatan untuk terlihat lebih tua dan keren.
* Akses Mudah dan Harga Murah:
Ini adalah masalah struktural yang krusial. Di Indonesia, rokok sangat mudah didapatkan di warung-warung kelontong tanpa ada pembatasan usia pembeli. Terlebih lagi, rokok masih bisa dibeli secara ketengan (eceran) dengan harga yang sangat murah, sehingga keterbatasan uang saku anak SD bukan lagi menjadi penghalang.
> Dampak Fatal Sejak Dini: Merokok di usia dini mengganggu tumbuh kembang fisik anak, memicu kecanduan nikotin yang jauh lebih kuat di masa depan, serta merusak fungsi organ vital seperti otak dan paru-paru yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Langkah Konkret dan Strategis: Apa yang Harus Dilakukan?
Menghadapi kenyataan ini, kita tidak bisa hanya mengandalkan fatwa atau sekadar marah-marah. Mencegah dan menghentikan anak dari kebiasaan merokok membutuhkan pendekatan yang persuasif, konsisten, dan penuh kasih sayang.
Jika Anda adalah orang tua, guru, atau bagian dari masyarakat yang peduli, berikut adalah langkah strategis yang bisa diterapkan:
1. Terapkan Keteladanan Nyata
Anak meniru apa yang Anda lakukan, bukan apa yang Anda katakan. Jika Anda meminta anak berhenti merokok sambil Anda sendiri memegang rokok, pesan itu tidak akan pernah sampai. Jika Anda seorang perokok, langkah terbaik adalah berkomitmen untuk berhenti.
Jika belum mampu, jadikan rumah dan kendaraan Anda sebagai area yang sepenuhnya bebas asap rokok.
Jangan pernah menyuruh anak membelikan rokok di warung.
2. Edukasi Bahaya Tanpa Menghakimi
Gunakan bahasa yang mudah dipahami sesuai usia mereka. Alih-alih menakut-nakuti dengan gambar penyakit yang abstrak, jelaskan dampak langsungnya pada kehidupan mereka. Misalnya, jelaskan bahwa rokok bisa membuat paru-paru rusak, menghambat pertumbuhan fisik mereka sehingga terancam stunting (kerdil), membuat napas cepat tersengal-sengal saat main bola, hingga menurunkan prestasi di sekolah.
3. Kenali dan Pantau Lingkungan Sosial Anak
Cari tahu dengan siapa anak Anda bermain. Bukan untuk membatasi ruang geraknya secara otoriter, melainkan untuk memastikan ia berada di lingkaran yang sehat.
Dukung anak untuk mengikuti aktivitas luar ruangan yang positif seperti klub olahraga, les seni, atau mengaji. Kesibukan yang produktif akan menyita waktu mereka dari pengaruh buruk teman sebaya.
4. Dengarkan Alasan Anak (Komunikasi Dua Arah)
Jika Anda telanjur mendapati anak Anda mencoba merokok, hindari langsung mengamuk atau memukulnya.
Reaksi yang terlalu keras justru akan membuat anak menjauh dan merokok secara sembunyi-sembunyi di luar rumah. Ajak anak berdiskusi empat mata dengan tenang saat suasananya cair. Tanyakan dengan lembut apa alasannya mencoba (apakah karena stres, ikut-ikutan teman, atau sekadar penasaran), lalu carikan solusi bersama.
5. Manfaatkan Bantuan Profesional
Nikotin adalah zat adiktif yang sangat kuat. Jika anak sudah berada pada tahap kecanduan dan sulit untuk berhenti sendiri, jangan ragu untuk mencari bantuan medis atau psikologis. Anda bisa memanfaatkan layanan konseling atau klinik berhenti merokok yang kini sudah banyak disediakan oleh fasilitas kesehatan dan puskesmas.
Kesimpulan
Fatwa haram dari Muhammadiyah adalah sebuah panduan moral dan hukum Islam yang kuat, namun ia membutuhkan “kaki” berupa aksi nyata dari masyarakat untuk bisa tegak berdiri. Menyelamatkan generasi muda dari bahaya rokok adalah tanggung jawab kolektif.
Dengan membangun komunikasi yang terbuka di rumah, memberikan teladan yang baik, serta menutup celah akses rokok bagi anak, kita sedang menyelamatkan masa depan bangsa ini dari kepulan asap yang merusak. (*)
