Antara Kapan dan Kafan

*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Kita sering bertanya kepada Allah, “Ya Allah, kapan?”

Kapan menikah.

Kapan punya anak.

Kapan rezeki lapang.

Kapan doa-doa dikabulkan.

Seolah hidup hanya tentang menunggu waktu terbaik versi kita. Padahal ada satu takdir yang tidak pernah kita tanyakan kapan, tapi pasti datang. Kafan (kematian).

Antara kapan dan kafan.

Kita sibuk menunggu “kapan” bahagia datang, namun lupa mempersiapkan diri untuk pulang. Takdir Allah itu bukan hanya tentang waktu yang kita tunggu. Tapi juga tentang waktu yang menunggu kita.

Dan, kematian, tidak pernah menunda.

Karena itu yang perlu kita ubah bukan pertanyaan “kapan?”

Tapi kesiapan saat waktunya benar-benar tiba. Sudah sejauh apa perjalanan kita menuju pulang?

Dulu aku juga sering bertanya, “Ya Allah, kapan?”

Kapan hidup terasa lebih ringan.

Kapan doaku dijawab.

Kapan takdirku terasa indah.

Sampai suatu hari aku sadar…

Aku terlalu sibuk menunggu “kapan”, dan hampir lupa bahwa ada takdir lain yang pasti datang tanpa perlu ditanya waktunya. Kafan.

Bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk menyadarkan, bahwa hidup ini bukan hanya tentang menunggu bahagia, tapi tentang mempersiapkan diri untuk kembali.

Firman Allah,

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَـنْظُرْ نَـفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ بِۢمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr 59: 18)

Kalau akhir-akhir ini kamu juga sedang banyak bertanya, “kapan”, ini saatnya mulai menyiapkan “pulang”.

Bahwa yang lebih penting dari, “kapan aku mendapatkan, adalah “bagaimana aku pulang.”

Barakallahu fiikum.

 

Tinggalkan Balasan

Search