Di tengah derasnya arus modernisasi yang kerap mengaburkan batasan antara kebenaran dan kebatilan, peran para penghafal Al-Qur’an (hamalatul Qur’an) kini jauh lebih krusial. Mereka tidak lagi sekadar menjaga keaslian teks lisan, melainkan memikul misi strategis sebagai benteng pertahanan umat dalam menjaga nilai-nilai luhur agama.
Pesan mendalam ini ditegaskan oleh K.H. Ma’ruf Amin saat memberikan sambutan pada Wisuda Hafidz ke-16 Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah, Selasa (16/6/2026). Ia mengingatkan adanya berbagai gerakan yang berusaha menjauhkan masyarakat dari tuntunan kitab suci, terutama dalam tata kelola kehidupan sosial yang sarat akan kepentingan dan hawa nafsu.
“Banyak gerakan untuk membelokkan kita dari pembimbingan dan tuntunan Al-Qur’an. Itulah mengapa tugas para hamalatul Qur’an menjadi berat, yaitu menjaga umat supaya tidak mengalami tahwil (pembelokan) atau talbis (penyamaran),” tegas K.H. Ma’ruf Amin di hadapan 350 wisudawan dan wisudawati.
Dari Sekadar Menghafal Menuju Tadabbur
Untuk menjalankan misi besar tersebut, K.H. Ma’ruf Amin menyoroti pentingnya transisi fundamental dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an. Menghafal kalam Ilahi (tilawah) memang langkah awal yang mulia, namun tingkatannya harus dinaikkan menuju pemahaman mendalam, penelaahan kritis, dan tadabbur (iqra’).
“Jangan Al-Qur’an itu hanya sekadar dibaca dan dihafal. Esensi iqra’ itu bukan hanya membaca, tetapi juga at-tathallu’ (mendalami), im’anun-nazhar (merenungkan, meneliti), dan mentadaburi Al-Qur’an itu sendiri,” tambahnya.
Sejalan dengan visi tersebut, Menteri Agama RI Nasaruddin Umar turut menekankan metodologi keilmuan spesifik untuk mencapai puncak pemahaman Al-Qur’an. Menurutnya, proses belajar harus menyeimbangkan tiga aspek utama:
- Concentration (konsentrasi logika)
- Contemplation (kontemplasi spiritual)
- Consecration (kepasrahan total kepada Allah Swt)
Sebagai informasi, Yayasan Tahfidz Sulaimaniyah yang berdiri sejak tahun 2005 terus konsisten berfokus pada pendidikan tahfidz Al-Qur’an. Selain menghafal, yayasan ini juga membekali para santri dengan pemahaman ilmu hadis sebagai metodologi utama untuk membedah dan memahami makna terdalam dari setiap ayat suci. (*/tim)
