Penguatan filantropi Islam seperti zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dinilai menjadi fondasi utama dalam membangun kemandirian ekonomi umat serta mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.
Hal tersebut ditegaskan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Anwar Abbas, dalam program Dialog Ekonomi Kerakyatan bertajuk “Ekonomi Berkeadilan: Mewujudkan Kesejahteraan Melalui Zakat, Wakaf, dan Filantropi Islam” yang ditayangkan secara daring, Kamis (3/9/2026).
Anwar menyoroti kiprah Muhammadiyah dalam mengelola instrumen Ziswaf secara profesional dan terukur melalui Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu). Menurutnya, pengelolaan filantropi di Muhammadiyah tidak sekadar berfokus pada pengumpulan dana, melainkan pada dampak nyata pemberdayaan masyarakat.
“Gerakan filantropi ini tidak lepas dari peran Lazismu yang kini perkembangannya bahkan telah menjangkau mancanegara,” ujar Anwar.
Masjid sebagai Pusat Pemberdayaan
Selain lembaga amil, Anwar menggarisbawahi posisi strategis masjid sebagai pilar penyelesaian masalah sosial dan ekonomi jemaah. Mengacu pada nilai-nilai Surah Al-Ma’un yang diajarkan pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, masjid seharusnya tidak sekadar menjadi tempat ibadah ritual semata.
Ia mendorong agar penyaluran dana zakat dan sedekah diprioritaskan untuk masyarakat di lingkungan terdekat masjid, seperti tingkat Rukun Tetangga (RT). Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai lebih efektif dalam mengatasi masalah permodalan, kemiskinan, dan peningkatkan kesejahteraan warga setempat.
“Masjid harus hadir memberi solusi atas persoalan jemaah di sekitarnya. Dengan prioritas penyaluran dana secara lokal, manfaat keberadaan masjid akan terasa lebih dekat dan nyata dalam mencerahkan masyarakat,” jelasnya.
Di sisi lain, menghadapi era digital, Anwar menekankan pentingnya modernisasi tata kelola filantropi Islam. Pemanfaatan platform digital perlu diakselerasi untuk memperluas jangkauan edukasi serta mempermudah penghimpunan dana Ziswaf.
Guna mendukung hal itu, Anwar mengimbau agar institusi pendidikan Muhammadiyah mulai menanamkan jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) dan kepedulian sosial sejak dini.
“Membangun budaya dan mentalitas harus dilakukan sedini mungkin. Sekolah-sekolah kita harus menyiapkan generasi muda bukan hanya sebagai pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja yang berjiwa filantropis,” pungkas Anwar. (*/tim)
