Bahasa Semesta

*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Langit tak pernah menjelaskan birunya, laut tak pernah membela dalamnya. Hanya manusia, yang sibuk membuktikan dirinya.

Semakin dewasa, semakin sedikit jawaban yang kumiliki. Sebab kehidupan bukan teka-teki, melainkan ruang untuk menerima.

Barangkali makna lahir dari yang sederhana: sebuah maaf, sebuah pelukan, atau keikhlasan yang tak bersuara.

Jika nanti aku lenyap dari waktu, biarkan namaku larut bersama angin. Sebab yang benar-benar tinggal, bukan suara, melainkan pengaruh yang ditinggalkan.

Kemerdekaan itu adalah ketika mendapatkan balasan yang seluas-luasnya, dijauhkan dari neraka, dan kita menjejakkan kaki di surga.

ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

“… Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS Ali ‘Imran 3: 185)

Barakallahu fiikum.

 

Tinggalkan Balasan

Search