Suhadi M. Sahli: Selalu Berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah

KH. Drs. Suhadi M. Sahli, M.Ag.
www.majelistabligh.id -

Bertempat di Masjid Al-Muhajirin, Jl. Jojoran I/77, Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surabaya menyelenggarakan kajian rutin Kitab Riyadhus Shalihin.

Kajian subuh yang berlangsung penuh khidmat ini menghadirkan penceramah KH. Drs. Suhadi M. Sahli, M.Ag., Wakil Ketua PDM Kota Surabaya, yang membawakan materi bertajuk “Perbuatan yang Dibenci Allah.”

Dalam ceramahnya, Kiai Suhadi menekankan salah satu perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah Swt, yakni sikap berpaling dari Al-Qur’an dan melupakan ajaran-ajaran-Nya. Beliau mengutip Surah Al-Kahfi ayat 57 untuk menjelaskan bahwa predikat orang yang paling zalim diberikan kepada mereka yang telah diberi peringatan melalui ayat-ayat Allah, namun justru berpaling dan bersikap acuh tak acuh.

“Seseorang yang berpaling dari petunjuk Allah akan ditutup hatinya dan disumbat telinganya. Akibatnya, mereka tidak dapat memahami kebenaran serta kehilangan hidayah,” tegas Kiai Suhadi di hadapan para jamaah.

Lebih lanjut, Kiai Suhadi menguraikan berbagai dampak buruk dan kerugian fatal yang dialami oleh orang-orang yang menjauhi Al-Qur’an:

  1. Kehidupan yang Sempit (Maisyatan Dhanka): Sebagaimana termaktub dalam Surah Thaha ayat 124, barang siapa yang berpaling dari Al-Qur’an akan dianugerahi kehidupan yang penuh kesempitan, kegelisahan, hingga penderitaan batin di dunia, serta siksa kubur yang berat di alam barzakh.
  2. Dikumpulkan dalam Keadaan Buta: Pada hari kiamat kelak, mereka yang melupakan ayat-ayat Allah akan dibangkitkan dan dikumpulkan dalam keadaan buta tanpa memiliki argumentasi (hujah) di hadapan Allah Swt.
  3. Tersesat dari Jalan Kebenaran: Mengutip hadis riwayat Imam Malik, Kiai Suhadi mengingatkan pentingnya berpegang teguh pada dua perkara, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, agar selamat dan tidak tersesat selamanya.
  4. Terjerumus dalam Kegelapan dan Kerugian: Orang yang tidak menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup akan terus-menerus berada dalam kegelapan moral dan kebingungan arah hidup.

Guna menghindarkan diri dari sifat berpaling tersebut, Kiai Suhadi mengajak jemaah untuk membaca Al-Qur’an secara benar (haqqo tilawatihi). Beliau memaparkan tiga tingkatan utama dalam berinteraksi dengan Al-Qur’an, yaitu melafalkan bacaan sesuai tajwid melalui lisan, memahami isi dan kandungan artinya menggunakan akal, serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari melalui perbuatan nyata.

Sesi kajian dilanjutkan dengan dialog interaktif bersama jemaah. Salah satu pertanyaan membahas tentang tiga golongan orang beriman yang berisiko gagal masuk surga, yaitu orang yang murtad, orang yang berbuat syirik (musyrik), serta orang yang bangkrut (al-muflis) di akhirat karena pahala kebaikannya habis tergerus oleh kezaliman dan perbuatan buruknya kepada sesama manusia.

Melalui kajian rutin ini, PCM Gubeng berharap masyarakat dan jemaah Masjid Al-Muhajirin terus meningkatkan kecintaan, pemahaman, dan pengamalan terhadap Al-Qur’an dan Sunnah dalam kehidupan sehari-hari agar terhindar dari murka Allah Swt. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search