Bilingual Class SMP Muhammadiyah 15 Surabaya Hadirkan Guest Teacher Palestina dan Pakistan

Bilingual Class SMP Muhammadiyah 15 Surabaya Hadirkan Guest Teacher Palestina dan Pakistan
www.majelistabligh.id -

Program Bilingual Class SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya kembali menghadirkan pembelajaran berwawasan global melalui kegiatan Guest Teacher pada Kamis (14/2026). Kegiatan tersebut diikuti oleh murid Bilingual Class kelas 7, 8, dan 9 dengan menghadirkan dua guest teacher internasional, yaitu Sawsan Fathi Anabtawi dari Palestina dan Nabia Arooj dari Pakistan.

Mengangkat tema “The Impact of War”, kegiatan ini mengajak murid memahami berbagai dampak perang terhadap kehidupan manusia, khususnya keluarga, anak-anak, pendidikan, lingkungan, serta masa depan sebuah bangsa. Pembelajaran menjadi semakin bermakna karena materi disampaikan langsung oleh dua narasumber yang membawa perspektif dari Palestina dan Pakistan.

Bilingual Class SMP Muhammadiyah 15 Surabaya Hadirkan Guest Teacher Palestina dan Pakistan
guest teacher internasional Nabia Arooj dari Pakistan.

Kepala SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya, Ustaz Banjar, dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan Guest Teacher merupakan bagian dari upaya sekolah memperluas wawasan murid agar mampu memahami berbagai persoalan dunia.

“Anak-anak, hari ini kita mendapatkan kesempatan untuk belajar langsung dari dua guru tamu dari Palestina dan Pakistan. Jangan hanya belajar bahasanya, tetapi juga dengarkan pengalaman dan pesan kemanusiaan yang mereka sampaikan. Jadikan ilmu hari ini sebagai bekal untuk menjadi generasi yang mencintai perdamaian, menghargai perbedaan, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.”

Sementara itu, Direktur Bilingual Class, Mr. Adi Cahyono menegaskan program Bilingual Class tidak hanya berorientasi pada penguasaan bahasa asing, tetapi juga membangun wawasan global murid.

“Bilingual Class adalah ruang bagi anak-anak untuk melihat dunia lebih luas. Ketika kita menghadirkan guest teacher dari berbagai negara, murid tidak hanya menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi, tetapi juga belajar memahami sejarah, budaya, pengalaman, dan persoalan kemanusiaan dari perspektif yang berbeda.”

Dalam sesi pertama, Sawsan Fathi Anabtawi menyampaikan materi mengenai sejarah pendudukan Palestina dan dampak kemanusiaan perang. Presentasinya mengulas perjalanan sejarah Palestina, mulai dari periode 1947, pendudukan pada 1967, Intifada, hingga kondisi Gaza. Materi juga menyoroti besarnya dampak konflik terhadap masyarakat sipil, termasuk anak-anak, perempuan, dan kelompok rentan.

Sawsan juga menyampaikan pesan tentang harapan dan perjuangan masyarakat Palestina untuk memperoleh kebebasan dan kedaulatan. Dalam materi presentasinya terdapat pesan kuat, “Palestine will be free.”

Selanjutnya, Nabia Arooj membahas makna perang serta dampaknya terhadap manusia. Ia menjelaskan bahwa perang dapat menyebabkan keluarga kehilangan atau terpisah dari orang-orang yang dicintai, rumah dan lingkungan hancur, serta masyarakat terpaksa meninggalkan tempat tinggal demi keselamatan.

Nabia juga memberikan perhatian khusus terhadap dampak perang terhadap anak-anak. Menurut materi yang disampaikan, perang dapat menyebabkan sekolah ditutup, anak-anak kehilangan kesempatan belajar, mengalami ketakutan dan kecemasan, kehilangan masa bermain, serta menghadapi keterbatasan makanan dan air bersih.

“War always costs far more than it ever gives back. Real strength shows in protecting people, not in seeking conflict.”

Pesan tersebut menjadi salah satu refleksi penting bagi para murid bahwa kekuatan sejati bukanlah tentang memenangkan konflik, melainkan kemampuan melindungi manusia dan memilih jalan perdamaian.

Kegiatan Guest Teacher kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Para murid mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan kedua narasumber sekaligus melatih kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Melalui kegiatan ini, SMP Muhammadiyah 15 Boarding School Surabaya berharap murid Bilingual Class tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan bahasa yang baik, tetapi juga tumbuh menjadi generasi global yang memiliki empati, kepedulian, wawasan luas, serta komitmen terhadap perdamaian. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam materi Nabia Arooj, “Peace begins with each of us.” (didik hermawan)

 

Tinggalkan Balasan

Search