Buku 70 Tahun Prof. Syamsul Anwar:  Kepakaran di Tengah Arus Informasi Instan

www.majelistabligh.id -

Di tengah era di mana otoritas keilmuan kerap tergerus oleh derasnya arus informasi instan di media sosial, kehadiran sosok akademisi yang tekun dan mendalam menjadi makin krusial.

Merayakan keteguhan itu, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah meluncurkan sebuah buku festschrift atau persembahan bertajuk “Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran” di Prime UMY Hotel Convention & Dormitory, Senin, (31/8/2026).

Buku persembahan ini diterbitkan khusus untuk memperingati ulang tahun ke-70 Prof. Dr. Syamsul Anwar, M.A., seorang Guru Besar Hukum Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah. Lebih dari empat dekade, beliau telah mendedikasikan hidupnya dalam panggung keilmuan Islam Indonesia.

Di dalam buku ini, Prof. Syamsul Anwar diulas sebagai figur yang memadukan dua karakter langka: seorang fakih—ahli hukum Islam dengan pemahaman metodologis yang mendalam—sekaligus sosok yang zahid, yakni pribadi yang bersahaja dan senantiasa menjaga diri dari kemewahan keduniawian. Rekam jejak dan kesederhanaan beliau dihadirkan sebagai teladan konkret bagi generasi muda akademisi di tengah godaan popularitas dangkal.

Selain merangkum rekam jejak biografis, buku ini merekam gagasan serta kontribusi pemikiran besar beliau dari kacamata para kolega, murid, dan sesama pakar. Ulasan yang tersaji mencakup sumbangsih Prof. Syamsul Anwar dalam pengembangan ushul fikih kontemporer, perumusan Manhaj Tarjih Muhammadiyah, hingga gagasan visionernya dalam penentuan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang menjadi pijakan penting peradaban Islam modern.

Secara kritis, buku ini menghadirkan refleksi atas fenomena “pudarnya kepakaran”. Di saat kepakaran sering digantikan oleh opini populer tanpa riset mendalam, Prof. Syamsul Anwar berdiri teguh membela tradisi keilmuan yang berbasis riset otoritatif dan metodologis.

Prof. Syamsul Anwar adalah benteng keilmuan yang memadukan kedalaman fikih dan kesederhanaan hidup. Di era ketika kepakaran sering tergerus opini serba instan, beliau hadir memberi arah dan pegangan yang jernih bagi umat.

Karya ini tak sekadar menjadi bentuk apresiasi atas dedikasi panjang seorang ulama intelektual, tetapi juga cermin yang mengajak umat untuk kembali menghargai kedalaman ilmu di era yang riuh oleh dangkalnya informasi. || chusnun

 

Tinggalkan Balasan

Search