Tak ada yang lebih indah dari sujud kita di sepertiga malam terakhir. Saat dunia tenggelam dalam sunyi, dan hamba yang lain terlelap dalam mimpi, kita berdiri memenuhi panggilan-Nya, mengetuk pintu langit dengan doa-doa yang paling tulus.
Firman Allah,
وَمِنَ الَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهٖ نَا فِلَةً لَّكَ ۖ عَسٰۤى اَنْ يَّبْعَـثَكَ رَبُّكَ مَقَا مًا مَّحْمُوْدًا
“Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS Al-Isra’ 17: 79)
Sujud kita memang mengarah ke bumi, tetapi rintihan hati dan munajat kita menembus pintu langit.
Di sanalah seorang hamba berada pada posisi paling dekat dengan Rabb-nya. Di atas sajadah, semua kesombongan runtuh. Yang tersisa hanyalah hati yang lemah, penuh harap, dan mengakui bahwa tanpa Allah, kita bukanlah siapa-siapa.
Tahajud mengajarkan bahwa kemuliaan tidak lahir dari tingginya kedudukan di mata manusia, melainkan dari kerendahan hati di hadapan Allah.
Karena itu, jangan pernah lelah menyambut sepertiga malam. Karena bisa jadi, di atas sajadah yang basah oleh air mata, Allah sedang menulis takdir terbaik untuk hidup kita.
Semoga bermanfaat.
