Cinta Kepada Allah: Ruh Tauhid dan Kompas Kehidupan Muslim

Hairul Warizin
*) Oleh : Dr. Hairul Warizin, S.E., M.M.
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Cinta kepada Allah merupakan salah satu tanda paling penting dari keimanan. Tauhid tidak cukup hanya dipahami sebagai keyakinan bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan, Pencipta, dan Pengatur alam semesta. Tauhid juga harus melahirkan kecintaan yang paling tinggi kepada Allah. Karena itu, hati seorang mukmin seharusnya menjadikan Allah sebagai Zat yang paling dicintai, ditaati, dan diagungkan.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 165:

وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman sangat kuat cintanya kepada Allah.”

Ayat ini memberikan gambaran yang jelas tentang perbedaan antara orang beriman dan orang yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan. Orang-orang yang menyekutukan Allah dapat mencintai sesuatu sebagaimana mereka mencintai Allah.

Adapun orang beriman memiliki cinta yang lebih kuat kepada Allah daripada kepada apa pun selain-Nya. Inilah salah satu makna penting cinta dalam tauhid sebagaimana dibahas Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam Kitab Tauhid, khususnya Bab 31 tentang cinta kepada Allah.

Namun, cinta kepada Allah bukan berarti manusia tidak boleh mencintai selain Allah. Islam justru mengakui bahwa manusia memiliki kecenderungan mencintai keluarga, harta, pekerjaan, dan kehidupan dunia.

Allah berfirman dalam QS. At-Taubah ayat 24 bahwa manusia mencintai orang tua, anak, saudara, pasangan, keluarga, harta, perdagangan, dan tempat tinggal. Semua kecintaan tersebut pada dasarnya adalah sesuatu yang manusiawi. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya.

Di sinilah kita perlu memahami dua bentuk cinta. Pertama, mahabbah ibadah, yaitu cinta yang disertai ketundukan, pengagungan, kepatuhan, dan penghambaan. Cinta seperti ini hanya boleh diberikan kepada Allah. Kedua, mahabbah thabi’iyyah, yaitu cinta alami manusia kepada orang tua, anak, pasangan, keluarga, harta, ilmu, dan kehidupan dunia. Cinta ini dibenarkan selama tidak mengalahkan cinta kepada Allah.

Misalnya, seorang mahasiswa boleh mencintai keluarganya. Namun, ketika keluarganya mengajak melakukan sesuatu yang bertentangan dengan perintah Allah, ia harus tetap memilih ketaatan. Demikian pula seseorang boleh mencintai harta dan pekerjaan, tetapi tidak boleh mengorbankan kejujuran, salat, dan prinsip agama demi keuntungan.

Cinta kepada Allah juga tidak cukup hanya diucapkan. Allah memberikan ukuran yang jelas dalam QS. Ali ‘Imran ayat 31:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

“Katakanlah, ‘Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu.’”

Ayat ini menunjukkan bahwa cinta kepada Allah harus dibuktikan dengan mengikuti Rasulullah saw. Cinta melahirkan ketaatan, sedangkan ketaatan menjadi bukti bahwa cinta tersebut benar-benar hidup dalam hati.

Rasulullah saw juga bersabda bahwa ada tiga perkara yang membuat seseorang merasakan manisnya iman: Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada segala sesuatu selain keduanya, ia mencintai seseorang semata-mata karena Allah, dan ia membenci kembali kepada kekufuran sebagaimana ia membenci dilemparkan ke dalam api. (HR. Bukhari dan Muslim).

Cinta kepada Allah juga harus berjalan bersama khauf dan raja’. Mahabbah berarti mencintai Allah, khauf berarti takut kepada kemurkaan dan hukuman-Nya, sedangkan raja’ berarti berharap kepada rahmat dan ampunan-Nya. Ketiganya harus seimbang. Cinta mendorong kita mendekat kepada Allah, takut mencegah kita melakukan kemaksiatan, sedangkan harapan membuat kita tidak berputus asa ketika melakukan kesalahan.

Karena itu, pertanyaan penting bagi seorang muslim bukan hanya, “Apakah saya mencintai Allah?”, tetapi juga, “Apakah Allah menjadi yang paling saya cintai?”

Jawabannya terlihat dalam pilihan hidup: ketika kepentingan pribadi bertentangan dengan perintah Allah, ketika harta berhadapan dengan kejujuran, ketika keluarga mengajak kepada kesalahan, dan ketika kenyamanan harus dikorbankan demi ketaatan.

Pada akhirnya, cinta kepada Allah bukan sekadar perasaan yang tersimpan di dalam hati. Ia harus menjadi kekuatan yang menggerakkan kehidupan. Cinta kepada Allah adalah ruh tauhid, sumber ketaatan, dan kompas yang mengarahkan seorang muslim dalam menjalani kehidupan menuju rida-Nya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search