Dakwah Bahagia dan Jalan Pengabdian Kader IMM di Dunia Kampus

*) Oleh : Moch. Muzaki
TKK DPD IMM Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Di tengah kehidupan kampus yang semakin sibuk, keras, dan penuh persaingan, dakwah sering kali dipahami sebatas ceramah atau kegiatan formal keagamaan. Padahal hakikat dakwah jauh lebih luas daripada itu. Dakwah adalah jalan menghadirkan cahaya, menebarkan harapan, dan membawa manusia menuju kehidupan yang lebih bermakna. Dakwah bukan sekadar berbicara tentang agama, tetapi tentang bagaimana nilai-nilai Islam hidup dalam ilmu, sikap, karya, dan pengabdian.

Islam sendiri datang membawa kabar gembira. Allah Swt dalam Al-Baqarah ayat 25 menyampaikan kabar bahagia bagi orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga yang penuh kenikmatan. Begitu pula dalam QS. Al-An’am ayat 48 ditegaskan bahwa para rasul diutus sebagai pembawa kabar gembira sekaligus pemberi peringatan. Dari sini terlihat bahwa dakwah sejatinya bukan menghadirkan ketakutan semata, tetapi menyampaikan harapan, ketenangan, dan jalan keselamatan hidup.

Karena itu, dakwah seharusnya dilakukan dengan hati yang lembut dan penuh hikmah. Allah Swt memerintahkan agar menyeru manusia dengan hikmah, pelajaran yang baik, dan dialog yang santun. Dakwah yang akan menghadirkan solusi dari permasalahan yang ada.

Bagi kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dakwah bukan aktivitas sampingan. Dakwah adalah ruh perjuangan. IMM bukan hanya organisasi mahasiswa biasa, melainkan ladang ibadah dan ruang pengabdian. Berorganisasi di IMM berarti belajar menjadikan setiap aktivitas sebagai bagian dari ibadah kepada Allah. Rapat, diskusi, kajian, aksi sosial, hingga perjuangan intelektual di kampus dapat bernilai ibadah apabila diniatkan karena Allah dan dijalankan dengan penuh amanah.

Dalam perjalanan kaderisasi IMM, terdapat nilai penting bahwa seorang kader harus memiliki religiusitas yang utuh. Hubungan kepada Allah (hablumminallah), hubungan kepada manusia (hablumminannas), dan hubungan kepada alam (hablum minal ‘alam) harus berjalan seimbang. Serta yang paling penting adalah pengembangan diri untuk kesuksesan karir. Tidak cukup menjadi pribadi yang rajin ibadah ritual tetapi abai terhadap persoalan sosial. Tidak cukup pula aktif berbicara tentang kemanusiaan tetapi jauh dari nilai spiritual. Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah, ilmu, amal, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Dakwah kampus juga tidak boleh berhenti pada slogan. Dakwah harus hadir dalam tindakan nyata. Mahasiswa perlu menjadi agen pencerahan yang menghadirkan budaya ilmu, membangun tradisi diskusi sehat, memperjuangkan keadilan, serta menghidupkan gerakan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat. Kampus harus menjadi ruang tumbuhnya intelektual yang religius, bukan hanya tempat mengejar gelar akademik semata.

Sayangnya, tantangan gerakan mahasiswa hari ini semakin kompleks. Individualisme, apatisme organisasi, hilangnya loyalitas, hingga krisis nilai menjadi persoalan yang nyata. Banyak mahasiswa kehilangan arah perjuangan karena organisasi hanya dijadikan formalitas atau batu loncatan kepentingan pribadi. Di sinilah pentingnya menanamkan kembali kesadaran bahwa perjuangan di organisasi adalah bagian dari jalan pengabdian. IMM harus menjadi tempat melatih keikhlasan, kesabaran, tanggung jawab, dan keberanian moral.

Kader IMM juga dituntut menjadi pribadi yang berani menyampaikan kebenaran. Amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan ilmu, akhlak, dan keteladanan. Seorang kader harus mampu menjadi penengah di tengah konflik, membawa manfaat di tengah masyarakat, dan menjadi teladan dalam kehidupan kampus maupun sosial.

Semua perjuangan itu membutuhkan ilmu. Rasulullah saw bersabda bahwa siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan jalannya menuju surga. Hadis ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekadar alat mencari pekerjaan, tetapi cahaya kehidupan. Karena itu, mahasiswa harus menjadikan belajar sebagai bagian dari ibadah dan jalan dakwah. Ilmu yang dipelajari harus melahirkan manfaat, bukan hanya kebanggaan akademik.

Selain menuntut ilmu, umat Islam juga memiliki kewajiban menyampaikan kebaikan walaupun hanya satu ayat. Dakwah bukan monopoli ustaz atau ulama besar, melainkan tanggung jawab setiap muslim sesuai kemampuan yang dimiliki.

Di era media sosial hari ini, menyebarkan tulisan baik, memberi nasihat santun, dan menghadirkan konten bermanfaat juga merupakan bagian dari dakwah.

Pada akhirnya, dakwah bahagia adalah dakwah yang mengajak manusia menuju kehidupan yang lebih baik dengan penuh cinta dan harapan. Dunia ini hanyalah ladang menuju akhirat. Karena itu hidup perlu direncanakan dengan baik: memperkuat ibadah ritual, membangun kepedulian sosial, serta bekerja dan berkarya secara profesional sebagai bentuk kontribusi kepada umat dan bangsa.

IMM melalui gerakan dakwah dan perkaderannya memiliki tanggung jawab besar melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan berkemajuan. Generasi yang menjadikan organisasi sebagai jalan ibadah, menjadikan ilmu sebagai cahaya perjuangan, serta menjadikan dakwah sebagai sarana menghadirkan manfaat bagi sesama.

Sebab sejatinya, dakwah bukan hanya tentang berbicara. Dakwah adalah tentang menghadirkan cahaya, menebarkan kebahagiaan, dan menjadi jalan kebaikan bagi manusia dan peradaban. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search