Di tengah banyaknya keluhan masyarakat mengenai melambungnya biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT), sebuah cerita menyejukkan datang dari Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Universitas Muhammadiyah Maumere (Unimof) membuat sebuah kebijakan yang tidak biasa, yakni mengizinkan mahasiswanya membayar biaya kuliah menggunakan hasil bumi dan hasil laut.
Bagi masyarakat Flores dan sekitarnya, kebijakan ini bukan sekadar inovasi, melainkan sebuah jembatan yang menghubungkan mimpi generasi muda dengan realitas ekonomi keluarga mereka.
Kebijakan humanis ini tidak lahir begitu saja dari meja rapat. Semua bermula beberapa tahun lalu, ketika seorang mahasiswa menghadap pihak kampus dengan wajah lesu. Hasil panen orang tuanya menumpuk, sulit terjual, dan mereka tidak memegang uang tunai untuk melunasi biaya semester.
Melihat kondisi tersebut, pihak kampus tidak menutup pintu. Pihak universitas berinisiatif membantu memasarkan komoditas yang dibawa mahasiswa tersebut. Hasil penjualannya kemudian dialokasikan langsung untuk membayar biaya pendidikannya.
Sejak saat itu, aroma cengkeh, tumpukan kemiri, kelapa, kakao, pisang, jagung, padi, hingga hasil tangkapan nelayan menjadi pemandangan yang sah di lingkungan kampus. Semuanya dikonversi menjadi uang untuk masa depan anak-anak petani dan nelayan.
Rektor Unimof periode 2021–2025, Erwin Prasetyo, menegaskan bahwa skema ini adalah wujud nyata keberpihakan kampus terhadap masyarakat ekonomi lemah. “Pendidikan tinggi seharusnya menjadi hak yang membebaskan, bukan beban yang memenjarakan masa depan,” kata Erwin Prasetyo
Kuliah Dulu, Bayar Setelah Kerja
Selain menerima hasil bumi, Unimof yang kini menaungi 2 fakultas dengan 11 program studi berakreditasi B ini, juga menawarkan skema luar biasa lainnya. Mahasiswa diberikan opsi untuk mencicil biaya kuliah hingga 6 tahun atau 72 kali cicilan bulanan tanpa bunga sama sekali.
Kebijakan ini dirancang agar mahasiswa bisa fokus menyelesaikan studi terlebih dahulu. Setelah lulus dan memasuki dunia kerja, barulah mereka melunasi sisa biayanya. Kampus pun tetap memfasilitasi kebutuhan administrasi alumni, seperti legalisir fotokopi ijazah, agar mereka tidak kesulitan mencari kerja.
Ditambah dengan program beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP), beasiswa LazisMu, serta berbagai potongan biaya, Unimof benar-benar menutup celah bagi kata “putus kuliah”.
Langkah inklusif yang diambil Unimof adalah bukti bahwa keterbatasan ekonomi di wilayah timur Indonesia tidak boleh menjadi alasan redupnya kecerdasan bangsa. Melalui kelonggaran ini, putra-putri daerah Flores dapat mengenyam pendidikan tinggi tanpa harus merantau jauh dan meninggalkan kampung halaman mereka.
Pada akhirnya, Unimof tidak hanya sedang mencetak sarjana. Mereka sedang menanam benih-benih harapan di atas tanah NTT, memastikan bahwa keringat para petani dan nelayan yang menetes di ladang dan lautan, bertransformasi menjadi toga dan ijazah di tangan anak-anak mereka. (*/tim)
