Dakwah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Namun, dakwah bukan sekadar aktivitas menyampaikan nasihat, ceramah, atau mengajak orang melakukan kebaikan.
Dalam perspektif Kitab Tauhid karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, dakwah harus berangkat dari tujuan yang paling mendasar, yaitu mengajak manusia mentauhidkan Allah. Karena itu, salah satu bab penting dalam kitab tersebut adalah “Dakwah kepada Syahadat La Ilaha Illallah.” Syahadat ini berarti tidak ada sesembahan yang benar selain Allah.
Dasar utama pembahasan ini adalah firman Allah dalam QS. Yusuf ayat 108:
قُلْ هٰذِه سَبِيْلِيْٓ اَدْعُوْٓا اِلَى اللّٰهِ ۗعَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَا۠ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗوَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَآ اَنَا۠ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
“Katakanlah, “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (seluruh manusia) kepada Allah dengan bukti yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk golongan orang-orang musyrik.” (QS. Yusuf ayat 108)
Ayat ini menunjukkan bahwa dakwah merupakan jalan Rasulullah saw. dan orang-orang yang mengikutinya. Dakwah dilakukan bukan berdasarkan perkiraan, kepentingan pribadi, atau sekadar mengikuti kebiasaan, tetapi dengan ilmu dan pemahaman yang benar. Seorang dai harus mengetahui apa yang ia sampaikan agar dakwah tidak berubah menjadi ajakan berdasarkan pendapat pribadi.
Hal yang sangat penting dalam dakwah adalah keikhlasan. Berdakwah kepada tauhid berarti mengajak manusia agar mengagungkan Allah, bukan mengagungkan dai, kelompok, organisasi, atau kepentingan tertentu. Seseorang dapat berbicara tentang agama, tetapi jika tujuan utamanya adalah popularitas, pujian, pengaruh, atau keuntungan pribadi, maka ruh dakwah telah mengalami masalah.
Dalam pembahasan Kitab Tauhid, ikhlas menjadi peringatan penting karena manusia terkadang mengajak kepada kebenaran, tetapi tanpa sadar sebenarnya sedang mengajak orang lain kepada kepentingan dirinya sendiri.
Rasulullah saw memberikan contoh yang sangat jelas ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman. Beliau memerintahkan agar perkara pertama yang disampaikan kepada mereka adalah syahadat La Ilaha Illallah atau mengajak mereka mentauhidkan Allah. Setelah mereka menerima tauhid, barulah dijelaskan kewajiban salat, kemudian zakat. Urutan ini menunjukkan bahwa tauhid merupakan kewajiban pertama dan harus menjadi prioritas sebelum kewajiban-kewajiban lainnya.
Dakwah kepada La Ilaha Illallah juga tidak cukup dengan mengajak manusia mengucapkan kalimat tersebut. Seorang Muslim perlu memahami konsekuensinya. Mengucapkan La Ilaha Illallah berarti mengarahkan seluruh bentuk ibadah hanya kepada Allah dan meninggalkan segala bentuk penyembahan kepada selain-Nya.
Karena itu, dakwah tauhid sekaligus mengingatkan manusia terhadap bahaya syirik, seperti menggantungkan keselamatan kepada jimat, sesaji, ramalan, kekuatan gaib, atau meminta pertolongan kepada selain Allah dalam perkara yang menjadi kekhususan-Nya.
Bagi mahasiswa dan generasi muda, prinsip ini penting agar dakwah tidak kehilangan orientasi. Dakwah harus dilakukan dengan ilmu, keikhlasan, hikmah, dan tujuan memperbaiki manusia. Keberhasilan dakwah bukan terutama diukur dari banyaknya pengikut atau tingginya popularitas seorang dai, tetapi dari sejauh mana manusia semakin mengenal Allah, memurnikan ibadah kepada-Nya, dan meninggalkan kesyirikan.
Dengan demikian, dakwah kepada La Ilaha Illallah merupakan inti perjuangan dakwah Islam. Ia dimulai dari keikhlasan seorang dai, dibangun di atas ilmu, dan diarahkan untuk mengembalikan manusia kepada penghambaan yang murni kepada Allah. Dakwah yang benar bukan mengajak manusia kepada diri kita, tetapi mengajak manusia kepada Allah. (*)
