Dari Masjid, Umat Islam Bangkit

Dari Masjid, Umat Islam Bangkit
*) Oleh : Abudin Robbani
Direktur UMMUL QURO INSTITUTE.
www.majelistabligh.id -

Ada sebuah ironi yang layak kita renungkan. Masjid semakin banyak dan semakin megah. Kubah berdiri menjulang, karpet semakin nyaman, sound system semakin canggih, dan berbagai fasilitas semakin lengkap.

Tetapi di tengah kemegahan itu, masih muncul pertanyaan mendasar: apakah umat yang lahir dari masjid juga semakin kuat?

Pertanyaan ini penting karena masjid bukan sekadar bangunan. Masjid adalah institusi strategis umat. Jika masjid hidup, umat memiliki pusat pembinaan. Jika masjid mati secara fungsi, umat kehilangan salah satu basis terpenting untuk membangun kekuatan sosialnya.

Dari Masjid, Umat Islam Bangkit
Ilustrasi kegiatan pemuda di Masjid Ar Royyan Buduran Sidoarjo. (dok)

Karena itu, ukuran kemakmuran masjid tidak boleh berhenti pada bangunan yang megah dan banyaknya kegiatan. Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu membentuk manusia beriman, berilmu, berakhlak, mandiri, peduli, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Masjid: Jantung Kehidupan Umat

Al-Qur’an memberikan ukuran yang sangat jelas:

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Mereka itulah yang diharapkan termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk.”
QS At-Taubah [9]: 18.

Ayat tersebut memperlihatkan bahwa memakmurkan masjid memiliki dimensi yang jauh lebih luas daripada membangun fisiknya.

Masjid harus melahirkan manusia yang memiliki iman, ibadah, kepedulian sosial dan keberanian moral.

Dengan demikian, masjid yang makmur bukan sekadar masjid yang ramai. Masjid yang makmur adalah masjid yang mampu memakmurkan kehidupan manusia.

Di sinilah paradigma pengelolaan masjid perlu diperbarui.

Jangan hanya bertanya, berapa dana pembangunan yang terkumpul?
Tanyakan pula: berapa anak yang dibina? Berapa pemuda yang menjadi kader? Berapa keluarga yang mendapatkan pendampingan? Berapa dhuafa yang diberdayakan? Berapa pelaku usaha kecil yang dibantu? Berapa persoalan jamaah yang berhasil diselesaikan?

Jangan Hanya Membangun Gedung

Persoalan umat hari ini semakin kompleks. Pendidikan, ekonomi, ketahanan keluarga, pengangguran, kemiskinan, perkembangan teknologi digital, krisis keteladanan dan tantangan generasi muda membutuhkan jawaban yang sistematis.

Masjid memang tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan tersebut. Tetapi masjid memiliki modal sosial yang sangat besar: jamaah, kepercayaan masyarakat, sumber daya manusia, jaringan sosial, dana umat, serta legitimasi moral.

Tinggalkan Balasan

Search