Sayangnya, potensi itu belum selalu dikelola secara strategis.
Kita sering sangat serius membangun infrastruktur masjid, tetapi belum cukup serius membangun infrastruktur manusia.
Kita memperindah arsitektur, tetapi belum selalu memperkuat arsitektur sosial umat.
Padahal, bangunan yang megah tidak otomatis melahirkan masyarakat yang kuat.
Yang mengubah masyarakat adalah manusia. Dan manusia harus dibentuk.
Di sinilah masjid mempunyai posisi strategis.
Masjid adalah Rumah Ilmu
Rasulullah SAW bersabda:
وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ، وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ
“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya bersama-sama, kecuali ketenangan turun kepada mereka, rahmat meliputi mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya.” (HR Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa masjid memiliki fungsi intelektual. Masjid adalah tempat ilmu tumbuh dan diwariskan.
Karena itu, masjid tidak cukup hanya menyelenggarakan ceramah. Ia perlu membangun tradisi keilmuan: tahsin, tahfiz, tafsir, hadis, fikih, pendidikan keluarga, literasi, diskusi, pelatihan, mentoring, hingga pengembangan kepemimpinan.
Umat membutuhkan Muslim yang bukan hanya saleh secara individual, tetapi juga cerdas membaca zaman dan mampu memberikan solusi.
Jamaah adalah Modal Sosial
Setiap masjid sebenarnya memiliki kekayaan yang sering tidak dihitung: potensi jamaahnya.
Di antara jamaah mungkin ada dokter, guru, dosen, pengusaha, pedagang, profesional, teknisi, mahasiswa, pelajar dan berbagai profesi lainnya.
Namun potensi tersebut sering berjalan sendiri-sendiri.
Karena itu, masjid perlu mengenal jamaahnya. Bukan untuk mengontrol, melainkan untuk membangun sinergi.
Siapa yang membutuhkan pekerjaan?
Siapa yang memiliki usaha?
Siapa yang membutuhkan beasiswa?
Siapa yang mempunyai kompetensi?
Siapa yang dapat menjadi mentor?
Siapa yang dapat membina pemuda?
Ketika potensi tersebut terhubung, masjid tidak lagi hanya menjadi tempat berkumpulnya jamaah.
Masjid berubah menjadi pusat jejaring kekuatan umat.
