Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bangka Belitung menyelenggarakan kegiatan Training of Trainer (ToT) Satu Data Muhammadiyah (SatuMu) di Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung, Sabtu (29/8/2026), mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Kegiatan ini diikuti oleh 56 peserta yang terdiri dari unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Bangka Belitung, sebagai bagian dari upaya memperkuat pengelolaan, pembaruan, dan integrasi data Persyarikatan.
Pelaksanaan ToT SatuMu ini menjadi langkah penting dalam mendorong tertib administrasi dan pengelolaan data organisasi di lingkungan Muhammadiyah Bangka Belitung. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh penguatan pemahaman mengenai pentingnya data yang akurat, terbarui, dan terintegrasi untuk mendukung perkembangan serta pengambilan kebijakan Persyarikatan.

Administrasi Rapi, Ibadah yang Dipertanggungjawabkan
Kegiatan dibuka dengan sambutan Ketua PWM Bangka Belitung, Drs. H. Sahirman Jumlli, MSi yang turut didampingi Ketua PW ‘Aisyiyah Bangka Belitung, Hj. Suhada, SPd. Dalam sambutannya, Sahirman menegaskan, eksistensi Muhammadiyah tidak bertumpu pada popularitas maupun materi, melainkan pada pengabdian dan perjuangan yang tulus.
“Muhammadiyah tidak mencari hal yang seksi atau bahkan uang. Di Muhammadiyah kita hanyalah mengabdi dan berjihad. Muhammadiyah akan eksis karena oleh 6 hal: idiologi, organisasi, AUM, SDM, budaya organisasi, politik kebangsaan. Enam hal ini harus didukung administrasi yang baik agar dapat terwujud, sehingga kegiatan hari ini salah satu kegiatan untuk merapikan administrasi. Kita harus membangun kesadaran dalam merapikan administrasi, jangan sampai ada hal yang dilalaikan, karena berat tanggung jawabnya di akhirat,” ujar Sahirman.
Pernyataan Sahirman ini sekaligus menjadi kerangka berpikir mengapa urusan administrasi dan data tidak bisa dipandang remeh oleh Persyarikatan. Ia menyebut Muhammadiyah bertahan dan terus berkembang karena ditopang oleh enam pilar: ideologi (kejelasan visi gerakan), organisasi (struktur kepemimpinan dari pusat hingga ranting), AUM (Amal Usaha Muhammadiyah seperti sekolah, kampus, dan rumah sakit), SDM (kualitas kader dan pengurus), budaya organisasi (etos kerja dan nilai bersama), serta politik kebangsaan (peran Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa).
Baginya, keenam pilar tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa ditopang administrasi yang rapi, data keanggotaan yang jelas, struktur kepengurusan yang tercatat, hingga aset AUM yang terdokumentasi dengan baik.
Di titik inilah ToT SatuMu ditempatkan bukan sebagai agenda teknis semata, melainkan sebagai instrumen untuk merawat keenam pilar tersebut secara bersamaan. Data organisasi yang akurat, misalnya, membantu memetakan kekuatan SDM dan AUM di setiap daerah; sementara sistem yang terintegrasi memperkuat tata kelola organisasi sebagai bagian dari budaya kerja yang tertib.
Lebih jauh, Sahirman menautkan urusan administrasi dengan dimensi keimanan. Dengan menyebut bahwa kelalaian mengelola data adalah tanggung jawab yang “berat di akhirat”, ia menempatkan tertib administrasi setara dengan amanah ibadah bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan bagian dari pertanggungjawaban moral setiap pengurus Muhammadiyah, dari tingkat wilayah hingga ranting. Perspektif ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap kolom data yang diinput dalam sistem SatuMu, ada amanah yang melekat pada setiap individu yang mengelolanya.
SatuMu: Fondasi Digital Persyarikatan dari Pusat hingga Ranting
Materi inti ToT disampaikan langsung oleh narasumber dari tingkat pusat dan tim pengembang sistem, yaitu H. Amir Nashiruddin (Wakil Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi/MPI Pimpinan Pusat Muhammadiyah), Detta Dwi Prayitno (Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah), dan Rifan Ardyansyah (PMO LabMu). Kehadiran mereka memberi peserta dari PDM dan PCM kesempatan memperoleh pemahaman sekaligus pendampingan teknis langsung terkait pengelolaan sistem SatuMu.
Dari sisi teknologi, SatuMu merupakan bagian dari agenda besar transformasi digital yang tengah digarap Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui MPI. Platform berbasis website ini dirancang sebagai fondasi sistem satu data yang terhimpun dalam Direktori Organisasi Muhammadiyah (DOM), untuk mendukung administrasi persyarikatan dari tingkat pusat hingga ranting. Melalui DOM, berbagai layanan organisasi diintegrasikan dalam satu sistem, mulai dari data keanggotaan, pengelolaan iuran, hingga layanan administratif lainnya.
Secara teknis, SatuMu mencakup integrasi data, pemrosesan transaksi yang cepat, dan komunikasi antar aplikasi, yang semuanya dirancang untuk meningkatkan efisiensi. Salah satu tulang punggung sistem ini adalah e-KTAM, yang mengelola data identitas dan keanggotaan warga Muhammadiyah secara nasional dan terintegrasi. Selain itu, SatuMu juga terhubung dengan aplikasi MASA yang menyediakan layanan langsung bagi anggota, mulai dari pendaftaran e-KTAM, pengingat jadwal salat, Al-Qur’an digital, hingga informasi kegiatan Persyarikatan.
Dari pengalaman implementasi di berbagai wilayah, sistem ini terbukti membutuhkan kesiapan sumber daya manusia sebagai kunci keberhasilan. Sebagaimana disampaikan dalam kegiatan serupa di Sumatera Selatan, LabMu selaku pengembang ekosistem digital Muhammadiyah menilai bahwa kesiapan sumber daya manusia di tingkat wilayah dan daerah menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi sistem digital Persyarikatan. Inilah yang menjadikan pendekatan ToT, melatih trainer di setiap wilayah sebagai strategi yang dipilih secara nasional, alih-alih hanya sosialisasi satu arah. (*/tim)
