Doa Nabi Saw Minta Hujan dan Saat Kekeringan

www.majelistabligh.id -

Ketika hujan tak kunjung turun, pertanyaan yang sederhana sering muncul: apa doa yang dibaca ketika meminta hujan?

Dalam tuntunan Tarjih Muhammadiyah, ada beberapa doa yang bersumber dari riwayat Nabi saw. Doa-doa itu tidak hanya digunakan ketika kemarau. Ketika hujan turun terlalu deras dan mulai membahayakan, Nabi saw juga mengajarkan doa agar hujan dialihkan ke tempat yang memberikan manfaat.

Artinya, istisqa tidak berhenti pada permintaan agar hujan turun. Yang dimohon adalah hujan yang menjadi rahmat.

Dalam Putusan Tarjih Muktamar XX di Garut 1976, salah satu doa yang dicantumkan ketika meminta hujan adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا طَبَقًا مَرِيعًا غَدَقًا عَاجِلًا غَيْرَ رَائِثٍ

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang merata, yang menyuburkan, yang lebat, segera dan tidak terlambat.”

Doa tersebut pendek, tetapi isinya cukup lengkap. Yang diminta bukan sekadar air yang turun dari langit. Hujan diharapkan menjadi ghayth yang memberi pertolongan, menyegarkan, merata, menyuburkan, lebat, dan datang tanpa terlambat.

Doa lain yang dicantumkan dalam pembahasan khutbah istisqa adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِ عِبَادَكَ وَبَهَائِمَكَ، وَانْشُرْ رَحْمَتَكَ، وَأَحْيِ بَلَدَكَ الْمَيِّتَ، اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

“Ya Allah, berilah minum hamba-hamba-Mu dan hewan-hewan-Mu, sebarkanlah rahmat-Mu, dan hidupkanlah negeri-Mu yang telah mati. Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak tertunda.”

Doa Nabi Saw Ketika Kekeringan

Ada hadis panjang dari ‘Aisyah yang menggambarkan ketika masyarakat mengadukan kekeringan kepada Nabi saw. Beliau kemudian keluar menuju tempat salat dan berdoa:

الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مَلِكِ يَوْمِ الدِّينِ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ، أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ وَاجْعَلْ مَا أَنْزَلْتَ لَنَا قُوَّةً وَبَلَاغًا إِلَى حِينٍ

“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yang menguasai hari pembalasan. Tiada Tuhan selain Allah, yang melaksanakan apa yang Dia kehendaki. Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin. Turunkanlah hujan kepada kami dan jadikanlah apa yang Engkau turunkan itu kekuatan dan bekal bagi kami untuk waktu yang lama.”

Doa ini menarik karena dimulai dengan pujian kepada Allah, kemudian pengakuan tauhid, lalu pengakuan tentang posisi manusia sebagai pihak yang membutuhkan.

اللَّهُمَّ أَنْتَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْغَنِيُّ وَنَحْنُ الْفُقَرَاءُ

“Ya Allah, Engkaulah Allah yang tiada Tuhan selain Engkau, Yang Maha Kaya, sementara kami adalah miskin.”

Baru setelah itu permohonan disampaikan:

أَنْزِلْ عَلَيْنَا الْغَيْثَ

“Turunkanlah hujan kepada kami.”

Dengan susunan seperti ini, doa istisqa tidak sekadar meminta sesuatu. Ia dimulai dari pengakuan tentang siapa Allah dan siapa manusia.

Ketika Hujan Terlalu Deras

Bagaimana jika hujan justru sudah turun, tetapi terlalu deras?

Tuntunan Nabi saw juga memberikan doa untuk keadaan tersebut. Putusan Tarjih mencantumkan:

اللَّهُمَّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا، اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالظِّرَابِ، وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami dan jangan Engkau turunkan atas kami. Ya Allah, turunkanlah hujan di atas bukit-bukit, dataran tinggi, lembah-lembah, dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Doa ini memperlihatkan satu hal penting: Islam tidak mengajarkan manusia meminta hujan secara membabi buta. Yang dimohon adalah hujan yang tepat, bermanfaat, dan tidak menimbulkan kerusakan.

Doa dalam Khutbah Istisqa

Dalam tuntunan khutbah istisqa, doa juga menjadi bagian penting. Setelah khutbah, imam memperbanyak istighfar dan doa. Imam kemudian mengangkat kedua tangan dan menghadap kiblat dengan membelakangi jamaah.

Karena itu, doa meminta hujan tidak harus menunggu pelaksanaan salat istisqa. Dalam tuntunan Tarjih, permohonan hujan dapat dilakukan secara perorangan maupun berkelompok. Jika dilakukan bersama-sama, imam dapat berdoa di masjid, di luar masjid, atau dalam khutbah Jumat. Jamaah pun dapat mengangkat tangan dan mengikuti doa tersebut.

Dengan kata lain, ketika kemarau datang, umat memiliki ruang yang luas untuk berdoa. Salat istisqa adalah salah satu bentuknya, tetapi doa meminta hujan juga dapat dipanjatkan tanpa salat.

Meminta Hujan yang Membawa Manfaat

Dari berbagai doa tersebut, ada satu pola yang cukup kuat. Nabi saw tidak sekadar mengajarkan, “Ya Allah, turunkan hujan.” Yang diminta adalah hujan yang menjadi rahmat, menyuburkan tanah, memberi minum manusia dan hewan, menghidupkan negeri yang kering, serta tidak mendatangkan bahaya.

Karena itu, salah satu doa yang paling ringkas untuk diingat adalah:

اللَّهُمَّ اسْقِنَا غَيْثًا مُغِيثًا مَرِيئًا مَرِيعًا نَافِعًا غَيْرَ ضَارٍّ، عَاجِلًا غَيْرَ آجِلٍ

“Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, yang menyegarkan, yang menyuburkan, yang bermanfaat dan tidak membahayakan, yang segera dan tidak tertunda.”

Di situlah doa istisqa menemukan maknanya. Manusia memohon air, tetapi yang sebenarnya dimohon adalah rahmat Allah melalui air yang membawa kehidupan. Wallahu a‘lam bish-shawab.|| sumber: Salinan Keputusan Muktamar Tarjih XX di Garut tahun 1976

 

Tinggalkan Balasan

Search