Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Material yang keluar saat erupsi gunung api ini mengandung mineral dan partikel silika tajam menyerupai serpihan kaca yang membahayakan kesehatan.
Berukuran sangat halus, abu vulkanik mudah terhirup masuk ke saluran pernapasan. Paparan jangka panjang perlu diwaspadai karena berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan.
Ketua Emergency Medical Team (EMT) Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), dr. Corona Rintawan, menjelaskan bahwa abu vulkanik dapat menyebabkan gangguan pernapasan dengan tingkat keparahan beragam, mulai dari iritasi hingga peradangan. Risiko ini patut diwaspadai, terutama bagi penderita penyakit pernapasan seperti asma dan bronkitis, karena abu vulkanik dapat memperburuk kondisi mereka.
“Sekarang mungkin efeknya belum terasa, tetapi dalam jangka panjang baru kelihatan,” ujar Corona, Selasa (8/9/2026).
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik dapat mengiritasi mata dan kulit. Abu yang mencemari sungai, sumur, maupun sumber mata air juga menurunkan kualitas air sehingga berpotensi mengganggu kesehatan warga yang menggunakannya untuk kebutuhan harian.
Kelompok rentan—seperti anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan pernapasan—diimbau memberikan perhatian ekstra. Mengurangi aktivitas di luar rumah saat terjadi hujan abu menjadi langkah pencegahan utama.
Jika terpaksa beraktivitas di luar, dr. Corona menyarankan penggunaan masker N95 atau N100 karena lebih efektif menyaring partikel halus. Namun, jika jenis tersebut sulit didapat atau harganya melonjak, warga tetap dianjurkan memakai masker medis atau kain yang ada.
“Jika tidak memungkinkan membeli masker ideal, gunakan saja masker yang tersedia daripada tidak sama sekali,” tegasnya.
Untuk area dalam rumah, warga diimbau rutin membersihkan lingkungan dan menjaga kebersihan diri. Sebelum menyapu abu vulkanik, basahi permukaan terlebih dahulu agar partikelnya tidak kembali beterbangan dan terhirup.
Masyarakat diminta tetap tenang serta mematuhi arahan resmi dari pemerintah dan Kementerian Kesehatan. Jika mengalami gejala gangguan pernapasan atau keluhan lain setelah terpapar abu, segera periksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
“Intinya, jangan meremehkan. Bagi kelompok rentan, sebisa mungkin hindari aktivitas di luar rumah,” pungkasnya. (*/tim)
