Duta Besar (Dubes) Republik Islam Iran untuk Indonesia, HE Mohammad Boroujerdi, mengatakan bahwa embargo ekonomi berkepanjangan yang diprakarsai Amerika Serikat (AS), justru mendorong Iran semakin mandiri. Dukungan rakyat adalah kekuatan untuk bertahan.
Hal ini dipaparkan oleh Mohammad Boroujerdi, dalam agenda Ambassador Talk, yang digelar oleh Lembaga Hubungan dan Kerja Sama Internasional (LHKI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, yang mengangkat tema “Surviving Sanction: Iran’s Economic Resilience and Innovation under Embargo.”
Dalam diskusi tersebut, Dubes Mohammad Boroujerdi, menambahkan bahwa sebelum Revolusi Islam 1979, Iran memang memiliki citra yang baik di mata dunia Barat. Akan tetapi, indikator kemajuannya masih rendah. Tingkat literasi hanya mencapai 30 persen.
Pascarevolusi, Iran justru menunjukkan lonjakan signifikan dalam berbagai sektor. Jumlah mahasiswa meningkat pesat. Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang. Pembangunan infrastruktur pendidikan menjangkau hingga daerah-daerah terpencil.
“Ini menjadi bukti bahwa tekanan eksternal tidak selalu berujung pada kemunduran, melainkan dapat menjadi pemicu kemajuan jika direspons dengan strategi yang tepat,” ucap Dubes Boroujerdi.
Ia juga menyinggung catatan sejarah terkait Nelson Mandela. Pejuang kesetaraan rasial asal Afrika Selatan itu pernah berkonsultasi dengan Iran dalam merumuskan strategi perjuangan. Berdasarkan arahan Ayatollah Khamenei, Mandela mengubah pendekatan dari perjuangan bersenjata menjadi penggalangan dukungan rakyat berbasis kebulatan tekad dan solidaritas. Strategi tersebut kemudian terbukti efektif dan mengantarkan kemenangan bagi Afrika Selatan pada 1994.
Boroujerdi menekankan bahwa kekuatan utama suatu negara tidak terletak pada persenjataan, melainkan dukungan rakyatnya. Hal ini tercermin dari kondisi masyarakat Iran saat ini yang dinilai tetap solid mendukung pemerintah. Sebagai contoh, adanya gerakan “Jan Fada” menunjukkan kesiapan warga untuk berkorban demi negara. Hingga kini, sebanyak 31 juta warga Iran telah mendaftar dalam gerakan tersebut.
“Pemerintah Iran juga terus mendorong investasi di sektor pendidikan dan penelitian dengan mengintegrasikan dunia akademik, industri, dan pemerintahan. Peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi prioritas,” katanya.
Ia menuturkan, pemerintah menerapkan standar tinggi dalam rekrutmen pegawai negeri. Sebagai contoh, ada persyaratan minimal lulusan S2 untuk bergabung di Kementerian Luar Negeri Iran.
Boroujerdi juga menegaskan bahwa serangan terhadap infrastruktur sipil dan pusat penelitian tidak akan melemahkan Iran. Menurutnya, kekuatan utama negara tersebut terletak pada kapasitas intelektual para ilmuwan yang tidak dapat dihancurkan secara fisik. (*/tim)
