Terkadang kita merasa penting. Ketika nama kita tidak disebut, kita pun merasa tidak enak hati. Hal itu juga pernah saya rasakan. Saya hadir sebagai tamu undangan dalam suatu acara, tetapi nama saya tidak disebut. Saat datang, saya tidak disambut dan tidak ditempatkan di tempat khusus. Di sisi lain, saya juga pernah hadir sebagai peserta biasa, tetapi justru nama saya disebut.
Padahal, jika kita renungkan, dunia ini tetap berjalan dengan atau tanpa kehadiran kita. Saya pernah menjadi pengurus di beberapa organisasi. Sebelum saya menjadi pengurus, organisasi tersebut sudah ada dan berjalan dengan pengurus yang lain. Setelah saya tidak lagi berada di dalamnya, akan ada orang lain yang menggantikan. Artinya, organisasi tetap berjalan, dengan atau tanpa saya di dalamnya.
Maka, janganlah kita sombong dengan posisi yang kita miliki saat ini. Suatu hari nanti, kita pun akan dilupakan dan dianggap tidak berarti. Saya teringat seorang ustaz yang sangat rendah hati. Ketika pertama kali saya undang, karena baru pertama hadir, saya bertanya, “Ustaz XXX, ya?” Beliau menjawab, “Bukan.” Saya persilakan duduk di depan, tetapi beliau berkata, “Saya hanya jamaah, di sini saja,” sambil duduk membaur di tengah jamaah. Barulah ketika MC memanggil, beliau maju ke mimbar.
Dalam kitab Shifah al-Shafwah, Ibnu al-Jauzi meriwayatkan sebuah kisah tentang Abdullah bin Mubarak yang sarat makna kerendahan hati.
Dikisahkan, bahwa suatu hari Abdullah bin Mubarak pernah mendatangi sebuah tempat penampungan air. Saat itu, banyak orang berkerumun untuk minum. Abdullah bin Mubarak pun mendekat untuk mengambil air, tetapi tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Ia harus berdesakan dan terdorong oleh orang-orang yang sama-sama ingin minum.
Setelah berhasil keluar dari kerumunan, beliau berkata, “Tidak terasa hidup kecuali dalam keadaan seperti ini,” yakni ketika tidak ada orang yang mengenali dan memuliakan dirinya.
Kisah ini menggambarkan betapa seorang ulama besar justru merasakan ketenangan saat tidak dikenal dan tidak diperlakukan istimewa. Bagi beliau, hidup yang “ringan” adalah ketika seseorang terbebas dari beban popularitas dan penghormatan manusia, sehingga dapat menjaga keikhlasan dan kerendahan hati di hadapan Allah.
Pengalaman dan kisah tersebut mengingatkan bahwa sejatinya kita bukan pusat dari segala sesuatu; dunia tetap berjalan dengan atau tanpa kehadiran kita. Rasa ingin diakui sering kali muncul, tetapi yang lebih penting adalah menjaga kerendahan hati dan keikhlasan dalam setiap peran yang kita jalani. Posisi, jabatan, atau penghargaan hanyalah sementara, sedangkan sikap rendah hati akan meninggalkan makna yang lebih dalam serta menghadirkan ketenangan bagi diri kita. (*)
