Tahun Baru Hijriyah: Momentum Hijrah Spiritual dan Moral

Tahun Baru Hijriyah: Momentum Hijrah Spiritual dan Moral
*) Oleh : Agus Priyadi, S.Pd.I.
Majelis Tabligh dan KMM PDM Banjarnegara
www.majelistabligh.id -

Perputaran waktu dalam Islam bukan sekadar pergantian angka atau perpindahan lembaran kalender. Ia adalah ritme ibadah, pengingat akan fana-nya dunia, dan peluang emas yang disediakan oleh Allah SWT bagi hamba-hamba-Nya untuk kembali bersuci. Di antara momentum pergantian waktu yang paling agung adalah ketika kita menyongsong datangnya bulan Muharram, bulan pembuka dalam kalender Hijriah.

Sebagai bulan pertama dalam sistem penanggalan Islam, Muharram membawa aura spiritual yang mendalam. Ia tidak hadir begitu saja; ia datang dengan membawa beban sejarah, kemuliaan syariat, dan limpahan pahala. Menyongsong Muharram berarti bersiap membuka lembaran baru kehidupan dengan tekad yang lebih kuat, meninggalkan kegelapan masa lalu, dan melangkah menuju cahaya rida Ilahi.

Di tengah hiruk-pikuk dunia yang sering kali melalaikan, Muharram hadir sebagai oase spiritual untuk meregenerasi iman yang mulai layu.

Muharram bukanlah bulan biasa. Ia adalah salah satu dari empat bulan yang Allah tetapkan secara khusus sebagai Asyhurul Hurum (bulan-bulan yang suci dan dihormati). Kedudukan istimewa ini termaktub secara eksplisit di dalam Al-Qur’an, di mana Allah melarang manusia untuk berbuat zalim, baik kepada diri sendiri maupun orang lain, selama bulan-bulan tersebut karena dosanya akan dilipatgandakan, begitu pula dengan pahala amalan saleh. Allah SWT berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu.” (QS. At-Taubah: 36).

Ayat di atas menegaskan bahwa tatanan waktu ini telah didesain langsung oleh Sang Pencipta sejak awal mula penciptaan alam semesta. Dari dua belas bulan yang ada, empat di antaranya memiliki proteksi spiritual yang ketat. Ibnu Abbas r.a. menjelaskan bahwa dalam bulan-bulan haram ini, perbuatan dosa bobotnya menjadi lebih besar, namun sebaliknya, amal saleh juga mendatangkan pahala yang jauh lebih agung. Oleh karena itu, menyongsong Muharram berarti meningkatkan kewaspadaan spiritual agar kita tidak mengotori bulan yang suci ini dengan kemaksiatan.

Untuk memahami secara detail apa saja empat bulan haram yang dimaksud dalam Al-Qur’an tersebut, kita musti merujuk pada penjelasan langsung dari Baginda Nabi Muhammad SAW. Dalam khotbah beliau saat Haji Wada’, beliau merinci nama-nama bulan tersebut, di mana Muharram menjadi salah satu bagian utamanya.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari, Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الزَّمَانَ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ، ثَلاَثٌ مُتَوَالِيَاتٌ: ذُو القَعْدَةِ، وَذُو الحِجَّةِ، وَالمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِي بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

Artinya: “Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana kondisinya ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak antara Jumada (Al-Akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari).

Selain statusnya sebagai bulan haram, Rasulullah SAW juga memberikan gelar khusus bagi bulan ini, yaitu Syarullah (Bulan Allah). Penyandaran kata “Bulan” kepada “Allah” (Idhafah) di sini berfungsi sebagai bentuk pengagungan, menunjukkan bahwa Muharram memiliki privilese yang tidak dimiliki oleh bulan-bulan lainnya, selain bulan Ramadhan.

Karena statusnya yang begitu mulia, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umatnya untuk menghidupkan bulan ini dengan ibadah puasa. Beliau menegaskan bahwa puasa di bulan Muharram adalah puasa yang paling utama setelah puasa wajib di bulan Ramadhan.

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ، وَأَفْضَلُ الصَّلَاةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلَاةُ اللَّيْلِ

Artinya: “Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa di bulan Allah, Muharram. Dan salat yang paling utama setelah salat fardhu adalah salat malam.” (HR. Muslim)

Ketika kita menyongsong bulan Muharram, agenda utama yang harus dipersiapkan dalam kalender ibadah kita adalah Puasa Asyura, yaitu puasa pada hari kesepuluh bulan Muharram. Hari Asyura adalah hari yang bersejarah, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi juga bagi umat-umat terdahulu. Pada hari tersebut, Allah menyelamatkan Nabi Musa AS. dan Bani Israil dari kejaran Firaun yang zalim.

Sebagai bentuk rasa syukur atas kemenangan kebenaran terhadap kebatilan, Nabi Musa AS berpuasa pada hari itu, yang kemudian diteruskan oleh Rasulullah SAW dan diwajibkan kepada umat Islam sebelum turunnya perintah puasa Ramadhan. Setelah puasa Ramadhan diwajibkan, puasa Asyura bergeser hukumnya menjadi sunah muakad (sangat dianjurkan).

Keutamaan puasa Asyura sangat luar biasa. Hanya dengan berpuasa satu hari, Allah menjanjikan pengampunan dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:

صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ، أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

Artinya: “Puasa hari Asyura, aku berharap kepada Allah agar ia menghapuskan dosa-dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Islam adalah agama yang menjunjung tinggi orisinalitas dan identitas spiritual. Ketika Nabi SAW mengetahui bahwa orang-orang Yahudi di Madinah juga mengagungkan hari Asyura dengan berpuasa, beliau ingin agar umat Islam memiliki pembeda dan tidak meniru (tasyabbuh) ritual mereka secara persis. Oleh karena itu, di akhir hayat, beliau bertekad untuk menambah puasa pada hari kesembilan (Tasu’a) pada tahun berikutnya, meskipun beliau wafat sebelum sempat melaksanakannya.

Dari Abdullah bin Abbas ra. beliau berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda:

لَئِنْ بَقِيتُ إِلَى قَابِلٍ لَأَصُومَنَّ التَّاسِعَ

Artinya: “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku akan berpuasa pada hari kesembilan (juga).” (HR. Muslim).

Berdasarkan hadis ini, para ulama menyimpulkan bahwa cara terbaik dalam mengamalkan puasa di bulan Muharram adalah dengan berpuasa pada tanggal 9 dan 10 Muharram, atau bahkan mengapitnya dari tanggal 9, 10, hingga 11 Muharram guna kesempurnaan dan kehati-hatian.

Meskipun penetapan Muharram sebagai awal tahun Hijriah baru dilakukan pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab ra., momentum ini secara historis tidak bisa dipisahkan dari spirit Hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis atau migrasi massal kaum muslimin demi mencari keamanan finansial dan fisik. Hijrah adalah sebuah deklarasi ideologis untuk membangun peradaban baru yang berlandaskan tauhid, keadilan, dan persaudaraan.

Di zaman sekarang, ketika pintu hijrah secara fisik telah tertutup setelah peristiwa Fathu Makkah (pembebasan kota Makkah), esensi hijrah tidak boleh padam. Kebangkitan umat dalam menyongsong Muharram harus dimaknai sebagai Hijrah Spiritual dan Moral.

Nabi SAW memberikan definisi yang sangat kontekstual mengenai siapa “Muhajir” (orang yang berhijrah) sejati di era modern ini melalui sabda beliau:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Artinya: “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya. Dan seorang muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Berdasarkan hadis sahih ini, menyongsong Muharram menuntut kita untuk melakukan transformasi diri secara radikal. Hijrah di era kontemporer ini mewujud dalam beberapa dimensi:

  1. Hijrah Keyakinan (I’tiqadiyyah): Meninggalkan segala bentuk khurafat, takhayul, dan kesyirikan yang sering kali justru marak dilakukan sebagian masyarakat di bulan Suro (Muharram) karena salah kaprah menganggap bulan ini sebagai bulan sial atau keramat yang menakutkan. Kita wajib berhijrah menuju tauhid yang murni dan bersih.
  2. Hijrah Ibadah (Amaliyyah): Mengubah pola ibadah yang tadinya sekadar rutinitas formalitas, menjadi ibadah yang khusyuk, ikhlas, dan sesuai dengan tuntunan sunah Nabi.
  3. Hijrah Akhlak (Khuluqiyyah): Meninggalkan tabiat-tabiat buruk seperti ghibah, adu domba, iri, dengki, dan korupsi, menuju akhlakul karimah yang membawa kedamaian bagi lingkungan sekitar.
  4. Hijrah Intelektual dan Ekonomi: Berpindah dari kebodohan menuju ilmu pengetahuan, serta dari sistem ekonomi yang eksploitatif dan ribawi menuju sistem yang berkeadilan dan berkah.

Menyongsong tahun baru Hijriah di bulan Muharram secara otomatis mengingatkan kita bahwa jatah usia kita di dunia ini terus berkurang. Setiap detak jarum jam membawa kita satu langkah lebih dekat ke liang lahat dan satu langkah lebih jauh dari dunia. Oleh karena itu, sikap terbaik seorang mukmin dalam menghadapi pergantian tahun adalah dengan melakukan Muhasabah.

Umar bin Khattab ra. pernah memberikan nasihat emas yang sangat berharga bagi kita semua:

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا، وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ

Artinya: “Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab (oleh Allah nanti), dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari pertunjukan yang agung (hari kiamat).” (Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Sunan-nya)

Muhasabah ini bukan untuk membuat kita putus asa atas dosa masa lalu, melainkan sebagai batu pijakan untuk merancang strategi perbaikan di tahun yang baru. Jika tahun lalu kita mendapati diri kita penuh dengan kelalaian, maka Muharram adalah pintu gerbang yang tepat untuk mengetuk pintu ampunan Allah dengan tobat yang nasuha.

Menyongsong bulan Muharram adalah momentum emas yang tidak boleh dilewatkan begitu saja dengan perayaan-perayaan seremonial yang hampa makna atau ritual-ritual yang tidak memiliki dasar syariat. Muharram adalah bulan suci (Asyhurul Hurum) yang sarat akan nilai spiritual, sejarah, dan syariat yang kokoh berdasarkan Al-Qur’an dan hadis-hadis yang sahih.

Mari kita sambut fajar Muharram dengan mempersiapkan fisik dan mental untuk melaksanakan puasa sunah Tasu’a dan Asyura, memperbanyak amal kebajikan, serta mengencangkan ikat pinggang untuk melakukan hijrah maknawi—yaitu bermigrasi dari segala hal yang dibenci oleh Allah menuju hal-hal yang dicintai dan diridai-Nya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kita hidayah, kekuatan, dan istikamah untuk mengarungi tahun baru Hijriah ini dengan kualitas iman dan takwa yang jauh lebih baik daripada tahun-tahun sebelumnya. Aamiin.

 

Tinggalkan Balasan

Search