Hijrah bukan sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah gerakan spiritual, sosial, dan peradaban. Di Makkah, kaum muslimin hidup dalam tekanan berat. Dakwah tauhid berhadapan dengan tradisi penyembahan berhala yang telah mengakar kuat. Kaum lemah, terutama budak dan orang miskin, menjadi sasaran penindasan karena mereka tidak memiliki perlindungan sosial. Dalam situasi inilah hijrah menjadi jalan penyelamatan iman sekaligus strategi membangun masyarakat Islam yang merdeka dan bertauhid.
Saat ini pemberhalaan berupa kecintaan pada kekuasaan, jabatan dan harta sehingga membelenggu kehidupan hingga melupakan kepada tugas suci sebagai manusia yang peduli pada lingkungan sosial untuk mengabdi kepada Sang Pencipta.
Kokohnya Penyembahan Berhala
Makkah sebelum hijrah merupakan pusat penyembahan berhala. Ka‘bah yang dibangun Nabi Ibrahim sebagai rumah tauhid telah dikelilingi oleh simbol-simbol kesyirikan. Masyarakat Quraisy bukan hanya menjadikan berhala sebagai objek ibadah, tetapi juga menjadikan tradisi nenek moyang sebagai benteng untuk menolak kebenaran. Karena itu, dakwah Nabi Muhammad menghadapi perlawanan keras, sebab tauhid tidak hanya menggugat keyakinan, tetapi juga mengguncang struktur sosial, ekonomi, dan kehormatan elite Quraisy.
Al-Qur’an menggambarkan bahwa mengikuti tradisi nenek moyang secara buta dapat menjadi penghalang besar bagi penerimaan kebenaran. Hal ini sebagaimana firman-Nya :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘Tidak, kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa pun dan tidak mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 170)
Inilah potret yang sangat relevan untuk menggambarkan kondisi masyarakat Makkah. Penyembahan berhala sulit dihentikan bukan semata-mata karena persoalan teologis, tetapi karena ia telah menjadi budaya, identitas sosial, dan kepentingan ekonomi. Berhala-berhala itu menjadi simbol status dan kekuasaan. Maka, ketika Islam datang membawa kalimat tauhid, “lā ilāha illā Allāh”, Dengan tauhid, maka bukan hanya mengoreksi ibadah, tetapi juga membongkar fondasi peradaban jahiliyah.
Hijrah dalam konteks ini menjadi peristiwa pemutusan diri dari sistem yang memelihara penyembahan berhala. Kaum muslimin diperintahkan untuk menjaga iman, meskipun harus meninggalkan tanah kelahiran, keluarga, harta, dan kenyamanan hidup. Allah menegaskan keutamaan orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjuang di jalan-Nya. Sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah: 218)
Dengan demikian, hijrah mengajarkan bahwa iman tidak cukup hanya diyakini dalam hati. Iman harus diwujudkan dalam keberanian mengambil jarak dari sistem yang merusak tauhid. Ketika lingkungan tidak lagi memberi ruang bagi tegaknya kebenaran, maka hijrah menjadi pilihan mulia untuk menyelamatkan agama dan membangun kehidupan baru yang lebih bermartabat.
Pembebasan Bertauhid
Dalam konteks kekinian, hijrah dari pemberhalaan pada kekuasaan, jabatan, dan harta telah membuat manusia asing terhadap Tuhannya. Mereka telah memproduksi perilaku yang tak peduli pada warga miskin dan lemah. Budaya serakah dan kedzaliman menjadi dominan. Oleh karenanya, hijrah menjadi jalan keluar dari situasi kezaliman itu. Al-Qur’an mengecam orang-orang yang tetap tinggal dalam lingkungan penindasan padahal mereka memiliki kemampuan untuk keluar dan menyelamatkan iman. Hal ini dinarasikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ ۖ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ ۚ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا ۚ فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri, malaikat bertanya, ‘Dalam keadaan bagaimana kamu dahulu?’ Mereka menjawab, ‘Kami dahulu orang-orang yang tertindas di bumi.’ Malaikat berkata, ‘Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di dalamnya?’ Maka tempat mereka adalah Jahanam, dan itulah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisā’: 97)
Hijrah merupakan bentuk tanggung jawab iman. Ketertindasan memang nyata, tetapi seorang mukmin tidak boleh menyerah selamanya kepada sistem yang merampas kebebasan beragama. Selama masih ada jalan untuk menyelamatkan iman, maka hijrah menjadi langkah yang diperintahkan dan dimuliakan. Allah juga memberi harapan besar kepada orang yang berhijrah karena ingin menjaga agamanya. Hal ini termaktub sebagaimana firman-Nya :
وَمَنْ يُهَاجِرْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُرَاغَمًا كَثِيرًا وَسَعَةً ۚ وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۗ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
“Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya ia akan mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nisā’: 100)
Pesan agung ayat ini bahwa hijrah bukan kekalahan, melainkan pembukaan jalan baru. Orang yang meninggalkan pemberhalaan karena Allah tidak sedang kehilangan masa depan. Justru Allah menjanjikan keluasan, jalan keluar, dan kemuliaan. Hijrah membuktikan bahwa ketika manusia menutup pintu kebenaran, Allah membuka pintu pertolongan dari arah yang tidak disangka. Kaum muslimin memang lemah secara materi, tetapi mereka kuat karena bersama Allah. Mereka dikejar manusia, tetapi dijaga oleh Pemilik langit dan bumi. Mereka hidup di tengah sistem yang memutus harapan hidup tetapi Allah membuka ruang dan membuka jalan bagi peradaban berbasis tauhid.
1 Muharram bukan sekadar mengganti angka tahun, tetapi menjadi momentum memperbarui kesadaran menghidupkan tauhid, memperkuat keberanian moral, dan membangun kehidupan yang lebih adil. Hijrah bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi prinsip hidup sepanjang zaman dengan meninggalkan segala bentuk pemberhalaan, kezaliman, dan kehinaan menuju ketaatan, kemerdekaan iman, dan peradaban yang diridhai Allah.
Surabaya, 16 Juni 2026
