Gagasan: Meninjau Ulang Akar Ketertinggalan Umat Islam

Gagasan: Meninjau Ulang Akar Ketertinggalan Umat Islam
*) Oleh : Prof Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang
www.majelistabligh.id -

Ahmed T. Kuru dalam bukunya Islam, Otoritarianisme, dan Ketertinggalan mengajukan pertanyaan yang sangat mendasar: mengapa dunia Islam yang pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan dan peradaban pada abad ke-8 hingga ke-12 justru mengalami kemunduran dalam sains, teknologi, ekonomi, dan politik pada masa modern?
Pertanyaan itu penting karena secara historis umat Islam pernah melahirkan ilmuwan besar seperti Al-Khwarizmi, Ibnu Sina, Ibnu al-Haytham, Nasiruddin al-Tusi, dan Ibnu al-Shatir. Pada masa itu, dunia Islam menjadi pusat inovasi yang dikagumi dunia.

Kuru menjelaskan kemunduran tersebut melalui terbentuknya aliansi antara penguasa politik (umara) dan kelompok ulama yang kemudian menghasilkan budaya intelektual yang kurang mendukung kebebasan berpikir. Dalam analisisnya, perdebatan antara Al-Ghazali dan Ibnu Rusyd sering dijadikan simbol pertarungan antara pendekatan teologis dan rasional dalam tradisi Islam.

Namun, ada pertanyaan yang layak diajukan kembali: apakah fokus pada tokoh, kelompok, dan peristiwa sejarah sudah cukup untuk menjelaskan kemunduran umat Islam?

Dari Tokoh Menuju Gagasan
Sejarah ilmu pengetahuan menunjukkan bahwa kemajuan peradaban tidak ditentukan oleh siapa tokohnya, melainkan oleh gagasan mana yang bertahan dan gagasan mana yang dikoreksi.

Dalam revolusi astronomi, Nicolaus Copernicus tidak sibuk memperdebatkan kepribadian para pendahulunya. Ia memeriksa model alam semesta yang berlaku pada zamannya dan menemukan bahwa model heliosentris lebih sederhana dan lebih mampu menjelaskan fenomena astronomi dibanding geosentris.

Demikian pula Galileo Galilei. Ia tidak berfokus pada otoritas Aristoteles, tetapi pada validitas gagasan Aristoteles. Ketika fakta empiris menunjukkan kelemahan suatu teori, teori tersebut harus direvisi.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa kemajuan lahir ketika masyarakat berani menguji gagasan, bukan sekadar menghormati tokoh.

Pentingnya Tradisi Rasional dalam Islam
Islam pada masa keemasannya berkembang karena membuka ruang bagi observasi, logika, dan penelitian.
Al-Qur’an sendiri berulang kali mengajak manusia untuk berpikir:
Apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi?” (QS. Al-A’raf: 185)
Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.” (QS. Yunus: 101)
Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas intelektual bukan ancaman bagi iman, melainkan bagian dari pengamalan iman itu sendiri.

Karena itu, jika terdapat pemahaman keagamaan yang membuat umat enggan berpikir kritis, menolak penelitian, atau menganggap pertanyaan ilmiah sebagai ancaman terhadap agama, maka pemahaman tersebut perlu dievaluasi secara serius.

Membedakan Akidah dan Penjelasan Ilmiah
Salah satu tantangan yang sering muncul dalam sejarah pemikiran Islam adalah pencampuran antara wilayah aqidah dan wilayah sains.

Akidah berbicara tentang keyakinan terhadap Allah, para rasul, kitab-kitab, malaikat, hari akhir, dan takdir. Sains berbicara tentang bagaimana alam bekerja melalui pengamatan, eksperimen, dan penalaran.
Ketika keduanya dicampur secara tidak proporsional, sering muncul konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Bentuk bumi, gerak planet, teori gravitasi, atau struktur atom tidak menentukan sah atau tidaknya keimanan seseorang. Sebaliknya, pengetahuan ilmiah justru dapat memperluas kekaguman manusia terhadap ciptaan Allah.
Para ulama klasik yang besar pada umumnya memahami perbedaan ini. Mereka tidak menjadikan teori ilmiah tertentu sebagai bagian dari rukun iman.

Bahaya Sakralisasi Pendapat Manusia
Salah satu penyebab stagnasi intelektual dalam berbagai peradaban adalah ketika suatu pendapat manusia dianggap tidak boleh dikritik. Dalam Islam, tidak ada manusia yang maksum selain para nabi. Karena itu, pendapat ulama, filsuf, ilmuwan, maupun penguasa tetap terbuka untuk dikaji ulang.

Imam Malik pernah berkata:
“Setiap orang dapat diterima dan ditolak pendapatnya kecuali penghuni kubur ini.”
Beliau menunjuk makam Rasulullah ﷺ.

Pernyataan tersebut menunjukkan tradisi intelektual Islam yang sehat: menghormati ulama tanpa mengkultuskannya.

Membangun Kembali Peradaban Ilmu
Jika umat Islam ingin kembali menjadi pelopor ilmu pengetahuan, maka fokus utama bukanlah mengulang polemik tokoh-tokoh masa lalu, melainkan membangun budaya intelektual yang sehat.

Budaya tersebut setidaknya memiliki beberapa ciri:
Menghormati tradisi tanpa menjadikannya dogma.
Memisahkan wilayah akidah dari wilayah penelitian ilmiah.
Membiasakan kritik ilmiah yang berbasis argumentasi.
Mengembangkan logika dan metodologi berpikir.
Menjadikan Al-Qur’an sebagai inspirasi pencarian ilmu, bukan alasan untuk menghentikannya.
Mendorong generasi muda untuk menghasilkan gagasan baru, bukan sekadar mengulang pendapat lama.

Gagasan yang Memajukan Peradaban Manusia
Kemunduran umat Islam tidak dapat dijelaskan hanya oleh tokoh tertentu, kelompok tertentu, atau peristiwa sejarah tertentu. Yang lebih penting adalah menelaah gagasan-gagasan yang hidup dalam masyarakat: gagasan yang mendorong kemajuan dan gagasan yang menghambatnya.

Sejarah menunjukkan bahwa peradaban maju ketika keberanian menguji gagasan lebih besar daripada kecenderungan mengkultuskan otoritas. Umat Islam pernah memimpin dunia karena tradisi ilmiah yang kuat, keterbukaan intelektual, dan keberanian berpikir. Maka kebangkitan peradaban Islam pada masa depan juga harus dimulai dari sana: membangun kembali budaya ilmu, nalar kritis, dan semangat pencarian kebenaran yang menjadi ruh ajaran Islam sejak wahyu pertama turun: “Iqra'” — Bacalah.  (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search