Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah berharap proses pencarian jurnalis dan awak kapal yang hilang di perairan Gunung Anak Krakatau saat meliput erupsi dapat segera membuahkan hasil.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, menyampaikan apresiasi kepada seluruh tim dan aparat yang terus bekerja hingga memasuki hari kelima.
“Kita mengapresiasi seluruh pihak dan aparat yang masih terus mencari hingga saat ini. Kita dorong dan doakan mudah-mudahan bisa segera ketemu,” ujar Haedar.
Ia mendorong tim penyelamat untuk memanfaatkan berbagai jalur, peralatan, serta teknologi pendukung agar para korban segera ditemukan.
“Gunakan berbagai jalur dan teknologi yang bisa mendeteksi keberadaan mereka jika diperlukan,” tambahnya.
Haedar juga mengungkapkan keprihatinannya atas musibah di Gunung Anak Krakatau maupun bencana lain di Indonesia yang tidak terprediksi. Menurutnya, keterlibatan warga lokal sangat penting untuk membantu proses pengamatan di lapangan.
“Saya pikir perlu juga bekerja sama dengan masyarakat sekitar supaya segera ada titik terang,” katanya.
Selain itu, Muhammadiyah mengajak publik untuk menyatukan potensi dalam melakukan mitigasi, membangun resiliensi, dan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana di daerah masing-masing dengan mematuhi arahan otoritas terkait.
“Status yang ditetapkan pemerintah itu kan sebenarnya batas minimal. Namun, kewaspadaan adalah tanggung jawab kita semua,” tegasnya.
Ia mengingatkan masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana—khususnya di sekitar gunung berapi—untuk selalu siaga dan tidak meremehkan peringatan bahaya.
“Jangan mengabaikan letusan gunung berapi meskipun kita warga setempat. Anak-anak muda yang terbiasa mendaki gunung juga sebaiknya menahan diri dulu,” tutup Haedar.
Kelima jurnalis yang hilang tersebut berangkat dari kawasan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, menuju perairan Gunung Anak Krakatau pada 27 September 2026. Mereka hendak meliput aktivitas vulkanik gunung api yang sedang meningkat.
Kelima jurnalis itu adalah M. Bagus Khoirunnas dari LKBN Antara, Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Wajidi dari Anadolu Agency, dan Donal Husni, jurnalis lepas. Mereka berada dalam satu speedboat bersama tiga orang awak kapal lainnya. Komunikasi dengan rombongan kemudian terputus. (*/tim)
