Masalah kepemimpinan bukan semata-mata soal siapa yang paling layak duduk di kursi, tetapi siapa yang mampu menahan dirinya dari nafsu terhadap kursi itu. Dalam tradisi Islam, kekuasaan bukan hadiah bagi mereka yang paling menginginkannya. Ia adalah amanah yang berat.
Al-Qur’an mengingatkan:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.”
(QS. An-Nisa: 58). .
Ayat ini menempatkan kepemimpinan dalam kerangka amanah, bukan kepemilikan. Jabatan bukan sesuatu yang dapat ditagih sebagai hak pribadi hanya karena seseorang merasa berjasa, senior, populer, atau memiliki banyak pendukung. .
Lebih keras lagi, Nabi Muhammad SAW pernah mengingatkan Abdurrahman bin Samurah:
“Janganlah engkau meminta jabatan. Jika engkau diberi jabatan karena meminta, engkau akan dibebani dengannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). .
Hadis ini menjadi cermin yang relevan bagi siapa pun yang berada dalam arena kepemimpinan. Keinginan terhadap jabatan bukan bukti kesiapan memikul amanah. Bahkan, hasrat yang terlalu besar terhadap kekuasaan justru patut dicurigai karena bisa membuat seseorang lebih sibuk mendapatkan posisi daripada mempersiapkan diri mempertanggungjawabkannya.
Al-Qur’an juga mengingatkan manusia agar tidak mengikuti hawa nafsu dalam menjalankan amanah:
“Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.”
(QS. Shad: 26)
Di sinilah kritik terhadap ambisi personal memperoleh relevansinya. Ambisi yang tidak dikendalikan dapat mengubah pengabdian menjadi pencarian posisi. Konsolidasi berubah menjadi lobi. Silaturahmi berubah menjadi kalkulasi dukungan. Pengabdian berubah menjadi investasi politik organisasi.
Yang lebih berbahaya adalah ketika ambisi itu memakai bahasa yang suci: demi Persyarikatan, demi dakwah, demi kaderisasi. Sebab tidak semua yang mengatasnamakan organisasi otomatis bebas dari kepentingan pribadi. .
Muhammadiyah membutuhkan kepemimpinan yang memiliki keberanian untuk berkata: “Jika dipercaya, saya siap. Jika tidak dipercaya, saya tetap mengabdi.” Di situlah perbedaan antara orang yang mencintai Persyarikatan dan orang yang mencintai posisinya di Persyarikatan mulai terlihat. .
Sebab orang yang mencintai organisasi tidak berhenti bekerja ketika namanya tidak masuk daftar. Ia tetap berkhidmat meski tidak memperoleh kursi. Sebaliknya, jika pengabdian tiba-tiba surut setelah ambisi tidak terpenuhi, kita patut bertanya: yang diperjuangkan selama ini Persyarikatan ataukah posisi di dalamnya? .
Nabi juga mengingatkan bahwa kepemimpinan pada akhirnya adalah pertanggungjawaban:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim). .
Maka kursi kepemimpinan sesungguhnya bukan tempat meninggikan diri. Ia adalah tempat menambah beban pertanggungjawaban.
Kursi bisa dikejar dengan ambisi. Tetapi amanah hanya layak dipikul dengan kerendahan hati.
Dan barangkali di situlah ukuran paling sederhana seorang kader: ketika tidak mendapatkan kursi, apakah ia kehilangan semangat mengabdi? Jika iya, mungkin yang ia cintai bukan amanahnya, melainkan kursinya. (*)
