Bencana Silih Berganti, Saatnya Manusia Berkaca

Bencana Silih Berganti, Saatnya Manusia Berkaca
*) Oleh : M. Azrul Tanjung
Ketua Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Pusat Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Dari NTT, Karhutla Kalimantan, hingga Erupsi Anak Krakatau
Indonesia kembali diingatkan bahwa hubungan manusia dengan alam tidak pernah dapat dipisahkan. Dalam beberapa waktu terakhir, berbagai peristiwa bencana terjadi di sejumlah wilayah negeri ini, mulai dari bencana di Nusa Tenggara Timur, kebakaran hutan dan lahan yang kembali menghantui sejumlah wilayah di Kalimantan, hingga aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. Bencana seolah datang silih berganti, meninggalkan duka, kerugian, kerusakan lingkungan, serta trauma bagi masyarakat yang mengalaminya.

Pemerintah bergerak, relawan turun tangan, bantuan disalurkan, dan masyarakat berusaha bangkit. Namun, setelah keadaan mulai mereda, sering kali kita kembali kepada rutinitas semula, hingga bencana berikutnya datang dan kembali mengingatkan kita bahwa ada persoalan yang jauh lebih mendasar dalam hubungan manusia dengan alam.

Dalam situasi seperti ini, pertanyaan penting yang perlu kita ajukan bukan hanya mengapa bencana terjadi, tetapi juga mengapa dampak bencana semakin besar dan mengapa kerentanan masyarakat terhadap bencana semakin tinggi. Sebagai umat beriman, tentu kita meyakini bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang terjadi di luar pengetahuan dan ketentuan Allah SWT. Takdir adalah bagian dari keimanan. Namun, menjadikan bencana semata-mata sebagai takdir tanpa melakukan evaluasi terhadap perilaku manusia adalah cara pandang yang tidak lengkap.

Allah SWT telah memberikan manusia akal, ilmu pengetahuan, dan amanah untuk mengelola bumi. Karena itu, keimanan kepada takdir harus berjalan bersama ikhtiar, tanggung jawab, dan kesadaran untuk mencegah kerusakan yang dapat dilakukan oleh manusia sendiri.

Bencana Bukan Sekadar Takdir
Sebagai bagian dari ikhtiar Muhammadiyah dalam menjaga lingkungan, saya memandang bahwa rangkaian bencana yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia harus dilihat secara utuh dan proporsional. Tidak semua bencana merupakan akibat langsung dari kesalahan manusia. Erupsi Gunung Anak Krakatau, misalnya, merupakan fenomena geologis yang berkaitan dengan dinamika vulkanik bumi. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk menghentikan aktivitas gunung api.

Namun, manusia memiliki tanggung jawab untuk memahami karakteristik ancaman tersebut, membangun sistem mitigasi yang kuat, menata ruang secara bijaksana, serta memastikan masyarakat memiliki pengetahuan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan bencana. Dengan demikian, menerima takdir tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar. Justru karena kita beriman kepada Allah SWT, kita dituntut untuk melakukan segala upaya yang dapat dilakukan guna mengurangi risiko dan mencegah dampak yang lebih besar.

Persoalan yang harus menjadi perhatian serius adalah ketika aktivitas manusia telah mengganggu keseimbangan ekologis. Kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan, misalnya, tidak dapat dilihat hanya sebagai persoalan api dan asap. Di baliknya terdapat persoalan tata kelola hutan dan lahan, perubahan tutupan vegetasi, kerusakan ekosistem gambut, pembukaan lahan, serta perilaku manusia yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan.

Ketika hutan kehilangan kemampuan untuk menyimpan air dan menyerap karbon, ketika lahan gambut mengalami kerusakan, dan ketika tutupan vegetasi terus berkurang, maka ekosistem kehilangan salah satu benteng alaminya dalam menghadapi perubahan iklim dan berbagai ancaman bencana.

Al-Qur’an telah memberikan peringatan yang sangat kuat tentang persoalan tersebut. Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”

Ayat tersebut sangat relevan untuk kita renungkan dalam konteks krisis lingkungan yang terjadi hari ini. Kerusakan lingkungan bukan semata-mata persoalan teknis, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Ketika manusia mengambil sumber daya alam secara berlebihan, merusak hutan, mencemari air, menghasilkan emisi secara tidak terkendali, dan mengabaikan daya dukung lingkungan, sesungguhnya manusia sedang mempertaruhkan keberlangsungan kehidupannya sendiri.

Keseimbangan Alam yang Mulai Terganggu
Allah SWT juga mengingatkan dalam QS Ar-Rahman ayat 7–8 tentang pentingnya keseimbangan atau mizan. Allah menciptakan alam dengan keseimbangan dan manusia diperintahkan agar tidak merusak keseimbangan tersebut. Prinsip ini seharusnya menjadi dasar dalam melihat pembangunan dan pengelolaan sumber daya alam.

Pembangunan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak infrastruktur yang berhasil dibangun, seberapa besar investasi yang masuk, atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi yang dicapai. Pembangunan juga harus diukur dari kemampuan kita menjaga hutan, air, tanah, udara, laut, dan seluruh ekosistem agar tetap mampu menopang kehidupan generasi sekarang dan generasi yang akan datang.

Krisis lingkungan juga tidak dapat dilepaskan dari persoalan karbon. Hutan memiliki fungsi penting dalam menyerap dan menyimpan karbon. Ketika hutan rusak dan terbakar, bukan hanya pohon yang hilang, tetapi karbon yang tersimpan dalam vegetasi dan tanah juga dapat dilepaskan ke atmosfer. Pada saat yang sama, berkurangnya tutupan hutan berarti berkurangnya kemampuan alam dalam menyerap karbon.
Karena itu, menghadapi perubahan iklim tidak cukup hanya dengan berbicara mengenai pengurangan emisi, tetapi juga harus disertai dengan upaya memperkuat ekosistem yang memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan karbon.

Dalam konteks inilah bencana yang terjadi berulang perlu dibaca sebagai sebuah peringatan. Alam memiliki kemampuan untuk melakukan pemulihan, tetapi kemampuan tersebut tidak terbatas. Ketika tekanan terhadap lingkungan semakin besar, sementara kemampuan ekosistem untuk memulihkan diri semakin berkurang, maka risiko ekologis juga meningkat.

 

Tinggalkan Balasan

Search