Haedar Nashir: Membangun Tanpa Merusak

Haedar Nashir pada acara Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). (ist)
www.majelistabligh.id -

Kiprah Muhammadiyah dalam penanggulangan bencana dan pelestarian lingkungan bukan sekadar aksi relawan biasa, melainkan manifestasi dari tanggung jawab iman. Berlandaskan prinsip khalifatullah fil ardh, pengelolaan kekayaan alam harus berorientasi pada kemaslahatan bersama tanpa mengeksploitasi yang membawa kerusakan.

Pesan tegas tersebut disampaikan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat membuka Rapat Kerja Nasional Lembaga Resiliensi Bencana (LRB)–Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) di BBPPMPV Seni dan Budaya DIY, Jumat (11/9/2026).

“Sumber daya alam harus dikelola untuk membangun maslahat kehidupan dan tidak menjadi mudarat. Artinya, membangun tanpa merusak,” ujar Haedar.

Haedar menilai maraknya bencana alam di Indonesia tidak terlepas dari paradigma manusia dalam memperlakukan bumi. Ia mendorong lahirnya tata kelola alam berbasis ilmu pengetahuan dan sistem yang berkeadilan, bukan keserakahan ekonomi.

“Bagaimana paradigmanya? Tugas kita menyusun ilmu pengetahuan dan sistem. Di situlah Muhammadiyah terpanggil, bukan kapitalisme yang merusak dan mengeksploitasi,” tegasnya.

Atas dasar itu, Haedar meminta LRB-MDMC terus memperkuat ekosistem resiliensi yang mampu menjaga kelestarian lingkungan sekaligus menghadirkan kemaslahatan bagi kemanusiaan universal.

Tiga Pilar Ketangguhan MDMC

Dalam arahannya, Haedar membeberkan tiga kunci utama yang membuat gerakan kemanusiaan MDMC terus dipercaya dan berdaya tahan:

  1. Keikhlasan Kader

Nilai keikhlasan menjadi bahan bakar utama para relawan. “Ketika orang lain menjauhi lokasi bencana, relawan MDMC justru mendekat untuk menyelamatkan sesama. Di titik itulah uang tidak lagi berharga jika keikhlasan sudah tertanam kuat,” kata Haedar.

  1. Sistem yang Adaptif dan Otomatis

MDMC dituntut terus melakukan pembaruan agar tetap relevan dengan perkembangan zaman. Penguatan jejaring organisasi memungkinkan gerak cepat yang otomatis setiap kali bencana melanda.

  1. Penguatan Edukasi dan Regenerasi

Keberlanjutan gerakan sangat bergantung pada kualitas para aktornya. Selain menyiapkan kader-kader muda yang tangguh, MDMC bertugas memperluas edukasi mitigasi ke masyarakat non-urban agar kesiapsiagaan terbangun sejak sebelum bencana terjadi.

Haedar menegaskan bahwa mitigasi tidak boleh berhenti saat tanggap darurat usai, melainkan harus dibangun menjadi kesadaran kolektif. Melalui ikhtiar panjang LRB-MDMC, Muhammadiyah berkomitmen terus membentuk ekosistem masyarakat Indonesia yang tangguh, kohesif, dan siap menghadapi ancaman bencana. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search