Hakikat Kenikmatan Dunia

Hakikat Kenikmatan Dunia
*) Oleh : M. Mahmud, M.Pd.I
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jatim
www.majelistabligh.id -

Terlihat indah sebelum dimiliki, terasa biasa saja setelah didapatkan. Itulah hakikat dunia. Allah berfirman:
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya”. (QS. Al-Hadid: 20)

Dunia sering kali menjebak manusia dalam pemaknaan kenikmatan yang keliru. Harta yang berlimpah, jabatan yang tinggi, serta popularitas kerap dianggap sebagai puncak pencapaian hidup. Padahal, jika ditelisik melalui kacamata iman, kenikmatan materi tersebut hanyalah kulit luar yang sifatnya sementara dan menipu.

Secara hakiki, kenikmatan dunia memiliki beberapa sifat dasar yang wajib disadari oleh setiap muslim:

– Fana dan Sementara: Tidak ada kenikmatan fisik yang abadi. Tubuh akan menua, harta akan ditinggalkan, dan jabatan akan usai. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS. Ali ‘Imran: 185).
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا مَتَاعُ الْغُرُوْرِ
“Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya”.

– Alat, Bukan Tujuan: Kebahagiaan materi bukanlah muara akhir, melainkan sarana (wasilah) untuk mengumpulkan bekal menuju akhirat. Harta menjadi nikmat sejati jika disedekahkan, dan jabatan menjadi berkah jika digunakan untuk menegakkan keadilan.

– Ladang Ujian: Setiap nikmat yang dititipkan membawa konsekuensi pertanggungjawaban. Apakah kenikmatan tersebut membuat seseorang makin bersyukur atau justru memicu sifat sombong dan kelalaian?

Lantas, apa hakikat kenikmatan dunia yang sebenarnya?

Nikmat tertinggi di dunia bukanlah apa yang genggam oleh tangan, melainkan apa yang dirasakan oleh hati. Ketenangan jiwa (thuma’ninah), kelezatan dalam beribadah, serta rasa cukup (qana’ah) adalah bentuk kenikmatan hakiki yang tidak bisa dibeli dengan materi. Ketika seorang hamba merasa ridha atas ketetapan Allah dan hatinya terpaut pada-Nya, di situlah ia telah merasakan “surga sebelum surga” yang sebenarnya.

Mari kita ubah cara pandang kita terhadap dunia. Jangan biarkan dunia bertahta di dalam hati, melainkan cukup genggam ia di tangan. Manfaatkan setiap rezeki dan kesempatan yang ada hari ini untuk memperberat timbangan kebaikan di hari esok. Kebahagiaan sejati bukanlah tentang memiliki segalanya, melainkan tentang hati yang selalu merasa cukup dan dekat dengan Sang Pencipta.

1. Dualisme Kenikmatan: Antara Metabolisme Tubuh dan Kebutuhan Jiwa

Manusia diciptakan dari dua unsur: tanah (jasmani) dan tiupan ruh dari Allah (rohani). Kenikmatan fisik seperti makanan enak, tidur nyenyak, atau kemewahan hanya memberi asupan pada unsur tanah. Karakteristik nikmat fisik ini sangat terbatas: makin dituruti, tingkat pemuasannya makin menurun (law of diminishing returns). Piring kedua dari makanan lezat tidak lagi senikmat piring pertama.

Sebaliknya, kenikmatan rohani memiliki kapasitas tanpa batas. Ketika seseorang merasakan nikmatnya munajat di sepertiga malam atau manisnya kejujuran, jiwa mengalami pemenuhan hakiki. Dunia menjadi menjebak ketika manusia mencoba memuaskan dahaga jiwanya yang abadi menggunakan benda-benda duniawi yang fana.

2. Anatomi Tipu Daya Dunia (Ghurur)

Al-Qur’an secara spesifik menggunakan kata Mata’ul Ghurur (kesenangan yang menipu) untuk menggambarkan dunia. Tipu daya ini bekerja melalui tiga tahap psikologis:

– Ilusi Kepemilikan (Al-Milkiyyah): Manusia merasa benar-benar “memiliki” harta atau jabatannya, padahal status manusia hanyalah peminjam. Saat ajal tiba, barang pinjaman itu ditarik kembali secara paksa.

– Ilusi Keabadian (Al-Khulud): Kenikmatan dunia membuat manusia lupa akan kematian dan merasa seolah-olah masa depannya di dunia masih sangat panjang, sehingga menunda-nunda tobat dan amal saleh.

– Penyimpangan Fungsi (Inhiraf): Mengubah fasilitas menjadi tujuan. Fasilitas hidup (kendaraan, rumah, uang) yang seharusnya menjadi alat transportasi menuju ridha Allah justru dijadikan tujuan utama hidup.

3. Tiga Tingkatan Manusia dalam Memandang Nikmat

Dalam tradisi spiritual Islam, manusia terbagi menjadi tiga tingkatan ketika menerima kenikmatan dunia:

1) Awam: Fokus pada Bentuk NikmatMudah tertipu materi; bersyukur saat diberi, mengeluh/marah saat dicabut.
2) Khawas (Khusus): Fokus pada Pemberi Nikmat (Muni’m)Melihat setiap rezeki sebagai wujud kasih sayang Allah; menggunakan nikmat sesuai kehendak Sang Pemberi.
3) Khawasul Khawas: Fokus pada Pertanggungjawaban Memandang nikmat sebagai beban amanah dan ujian berat (Fitnah); takut jika nikmat tersebut menjadi Istidraj (uluran lulut).

4. Formula Manajemen Hati: Dunia di Tangan, Akhirat di Hati

Menebalkan pemahaman tentang hakikat dunia bukan berarti seorang muslim harus hidup miskin atau meninggalkan kemajuan zaman. Para sahabat Nabi seperti Utsman bin Affan dan Abdurrahman bin Auf adalah konglomerat pada zamannya, namun mereka memegang prinsip keduniaan secara tepat.

– Zuhud Hati, Bukan Zuhud Fisik: Zuhud yang benar bukan memakai pakaian compang-camping, melainkan ketika harta di tangan berkurang atau bertambah, kondisi hati tetap stabil dan tidak terguncang.

– Menjadikan Dunia Jembatan (Ghayah vs Wasilah): Harta yang ada di tangan langsung disalurkan menjadi aset akhirat (sedekah, pembuka lapangan kerja, penyokong dakwah). Dengan demikian, materi yang fana berhasil diubah (konversi) menjadi pahala yang abadi.

Hakikat kenikmatan dunia yang sejati terletak pada kemampuan seorang hamba untuk menembus batas fisik materi: melihat bahwa segala yang ada di bumi hanyalah bayangan, sedangkan wujud kebahagiaan yang asli adalah ketenangan saat berdekatan dengan Sang Pencipta. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search