“A wise person is not one who has a lot of wealth, but one who is good at managing his life’s needs.”
“(Orang bijak bukanlah yang banyak hartanya, melainkan yang pandai mengelola kebutuhan hidupnya).”
Di tengah kondisi dunia yang semakin tidak menentu, ketegangan geopolitik seperti konflik antara Amerika Serikat dan Iran turut berdampak pada kehidupan masyarakat. Blokade Selat Hormuz di Teluk Persia sebagai jalur utama distribusi minyak, gas alam cair, dan kebutuhan industri dunia menyebabkan harga bahan pokok, pupuk, serta energi meningkat. Akibatnya, ancaman inflasi dan gangguan keamanan ekonomi semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
Islam mengajarkan umatnya agar hidup sederhana, hemat, dan tidak berlebihan dalam menggunakan nikmat Allah Swt. Firman Allah Swt :
وَلَا تُسْرِفُوٓا۟ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلْمُسْرِفِينَ
“… dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”(QS. Al-A’raf: 31)
Ayat ini mengajarkan agar manusia menggunakan rezeki secara bijaksana, tidak boros, serta mampu mengendalikan keinginan duniawi demi kemaslahatan hidup. Rasulullah saw bersabda:
كُلْ, وَاشْرَبْ, وَالْبَسْ, وَتَصَدَّقْ فِي غَيْرِ سَرَفٍ, وَلَا مَخِيلَةٍ
“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR. Ibnu Majah No. 3605)
Karena itu, salah satu solusi menghadapi krisis ialah membangun kemandirian pangan keluarga dengan menanam sayuran dan buah-buahan di sekitar rumah. Selain menghemat pengeluaran, langkah ini juga menjadi upaya menjaga ketahanan pangan keluarga.
Hidup hemat, sederhana, dan mandiri merupakan bagian dari ajaran Islam. Dengan sikap bijak dalam mengelola kebutuhan, insyaallah keluarga akan lebih kuat menghadapi berbagai tantangan ekonomi global.
Semoga bermanfaat.
