Tahun Baru Hijriah selalu mengingatkan kita pada sebuah peristiwa besar dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah. Selama ini, hijrah sering dimaknai sebagai perpindahan tempat atau perubahan dalam aspek ibadah semata. Padahal, hijrah sesungguhnya adalah keberanian meninggalkan keadaan yang tidak baik menuju keadaan yang lebih baik.
Dalam konteks kehidupan saat ini, semangat hijrah itu tetap relevan. Hanya saja medan perjuangannya berbeda. Jika Rasulullah saw berhijrah untuk menyelamatkan akidah dan membangun peradaban, maka masyarakat Indonesia hari ini dituntut berhijrah dari pola hidup konsumtif menuju pola hidup yang produktif.
Kondisi ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat tidaklah ringan. Harga kebutuhan pokok cenderung meningkat, biaya pendidikan terus bertambah, sementara lapangan pekerjaan tidak selalu tumbuh secepat jumlah pencari kerja. Banyak keluarga harus bekerja lebih keras untuk mempertahankan kualitas hidup yang sama seperti beberapa tahun lalu.
Di tengah situasi tersebut, ironisnya budaya konsumtif justru semakin menguat. Kemudahan belanja melalui aplikasi digital, promosi yang hadir setiap hari, serta gaya hidup yang dipamerkan melalui media sosial sering kali mendorong masyarakat membeli sesuatu bukan karena kebutuhan, melainkan karena keinginan. Akibatnya, tidak sedikit orang yang pendapatannya habis untuk memenuhi gaya hidup, sementara tabungan, investasi, dan modal usaha nyaris tidak tersedia.
Di sinilah makna hijrah ekonomi menjadi penting. Hijrah ekonomi bukan berarti hidup dalam kekurangan atau menolak kenikmatan dunia. Hijrah ekonomi adalah perubahan cara berpikir dalam mengelola rezeki:
- Dari sekadar menjadi pembeli menjadi pencipta nilai.
- Dari menghabiskan penghasilan menjadi mengembangkan penghasilan.
- Dari orientasi kesenangan sesaat menuju kemaslahatan jangka panjang.
Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, langkah pertama yang beliau lakukan bukanlah membangun kemewahan, tetapi membangun fondasi masyarakat yang kuat. Masjid didirikan sebagai pusat pembinaan umat, persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar dipererat, dan aktivitas ekonomi masyarakat dikembangkan. Artinya, hijrah tidak berhenti pada perpindahan, tetapi dilanjutkan dengan kerja keras membangun kehidupan yang lebih baik.
Pelajaran ini sangat relevan bagi Indonesia saat ini. Bonus demografi yang dimiliki bangsa ini hanya akan menjadi berkah apabila diiringi dengan produktivitas. Generasi muda perlu didorong menjadi pelaku usaha, inovator, petani modern, pengembang teknologi, dan profesi-profesi produktif lainnya. Bangsa yang besar tidak akan maju hanya dengan menjadi pasar bagi produk orang lain.
Pada tingkat keluarga, semangat hijrah produktif dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Membiasakan membuat perencanaan keuangan, membedakan kebutuhan dan keinginan, mengurangi pembelian yang tidak mendesak, serta menyisihkan sebagian pendapatan untuk investasi atau usaha produktif. Langkah kecil seperti ini mungkin tampak sederhana, tetapi dampaknya akan sangat besar jika dilakukan secara konsisten.
Islam sendiri mengajarkan keseimbangan antara konsumsi dan produktivitas. Rasulullah saw bersabda bahwa tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Pesan ini bukan hanya tentang sedekah, tetapi juga dorongan agar umat Islam menjadi pribadi yang mampu memberi manfaat bagi orang lain melalui kerja dan produktivitasnya.
Tahun Baru Hijriah seharusnya menjadi momentum muhasabah, termasuk dalam urusan ekonomi. Sudahkah penghasilan yang kita peroleh dikelola dengan baik? Sudahkah kita menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat? Ataukah kita masih terjebak dalam kebiasaan menghabiskan lebih banyak daripada menghasilkan?
Hijrah yang paling berat memang bukan berpindah tempat, melainkan berpindah pola pikir. Namun sejarah mengajarkan bahwa setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama. Sebagaimana hijrah Nabi menjadi awal lahirnya peradaban Islam yang gemilang, hijrah dari konsumtif menuju produktif juga dapat menjadi awal kebangkitan ekonomi keluarga, masyarakat, dan bangsa.
Memasuki Tahun Baru Hijriah 1448 H, mungkin inilah saat yang tepat untuk bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana hijrah ekonomi yang telah kita lakukan? Karena pada akhirnya, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya yang dimiliki, tetapi juga oleh kualitas manusia dalam mengelola dan memanfaatkannya. Semangat hijrah mengajarkan bahwa masa depan yang lebih baik selalu dimulai dari keberanian untuk berubah hari ini. (*)
