Dalam perspektif buku The Real Enemy is Within: The Art of Mastering Yourself karya Cak Muhid, problem terbesar manusia bukan selalu kemiskinan, lingkungan, keadaan, ataupun dunia luar. Musuh paling berbahaya justru sering bersembunyi di balik dadanya sendiri: ego, hawa nafsu, kesombongan, dan mentalitas korban.
Karena itu, Iduladha sejatinya bukan hanya tentang penyembelihan hewan qurban. Ia adalah simbol perang besar manusia melawan dirinya sendiri.
Ironisnya, banyak orang mampu menyembelih sapi, tetapi tidak mampu menyembelih kesombongannya. Mampu menguliti kambing, tetapi tidak mampu menguliti egonya sendiri. Mampu membagikan daging qurban, tetapi masih pelit meminta maaf dan sulit menundukkan amarah.
Padahal darah hewan tidak pernah menjadi inti utama qurban.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
“Daging-daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat ini seperti tamparan keras bagi manusia yang sibuk pada simbol, tetapi gagal menyentuh substansi.
Nabi Ibrahim: Menang atas Dirinya Sendiri
Kisah Nabi Ibrahim عليه السلام bukan sekadar kisah ketaatan seorang nabi. Ia adalah kisah manusia yang berhasil memenangkan perang melawan dirinya sendiri.
Bayangkan betapa berat pertarungan batinnya:
-antara cinta kepada anak,
-rasa takut kehilangan,
-naluri seorang ayah,
-dan perintah Tuhan.
Namun Nabi Ibrahim tidak membiarkan emosinya memimpin dirinya. Beliau memilih tunduk kepada Allah, bukan tunduk kepada ego dan perasaannya sendiri.
Di situlah letak kemenangan terbesar manusia: bukan ketika berhasil menguasai dunia, tetapi ketika berhasil menguasai dirinya sendiri.
Karena banyak manusia terlihat hebat di luar, tetapi sebenarnya kalah total di dalam dirinya.
Kurban Modern: Ego yang Tidak Pernah Disembelih
Hari ini manusia hidup di zaman yang aneh:
-mudah tersinggung,
-haus validasi,
-ingin selalu dipuji,
-tidak siap dikritik,
-gemar menyalahkan keadaan,
-dan selalu merasa dirinya korban.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku tersebut, ego selalu ingin manusia merasa benar meskipun salah. Ego membenci introspeksi dan lebih suka mencari kambing hitam di luar dirinya.
Akibatnya, manusia sibuk menyalahkan:
-pemerintah,
-keluarga,
-pasangan,
-ekonomi,
-bahkan takdir.
Padahal bisa jadi sumber kehancurannya ada dalam dirinya sendiri:
-emosinya yang liar,
-hawa nafsunya yang rakus,
-lisannya yang kasar,
-dan egonya yang tidak pernah mau kalah.
Maka Iduladha datang untuk mengajarkan satu hal penting: bahwa yang paling layak disembelih pertama kali sebenarnya adalah ego manusia.
Banyak Orang Beragama, Tapi Belum Menguasai Dirinya
Ada orang rajin ibadah, tetapi masih mudah menghina orang lain. Ada yang rajin takbir, tetapi masih dipenuhi iri dan dengki. Ada yang berqurban setiap tahun, tetapi tetap menjadi budak amarah dan hawa nafsunya sendiri.
Ini menunjukkan bahwa problem manusia bukan sekadar kurang ritual, tetapi gagal mengendalikan dirinya sendiri.
Dalam buku The Real Enemy is Within dijelaskan bahwa perang terbesar manusia adalah jihad melawan dirinya sendiri.
Karena musuh paling licik bukan setan di luar sana, tetapi ego yang hidup diam-diam dalam dada manusia.
Ego itu tidak berteriak. Ia berbisik.
-Ia membuat manusia:
-merasa paling suci,
-merasa paling benar,
-merasa paling tersakiti,
-dan merasa selalu layak dimaklumi.
Idul Adha dan Kematian Ego
Hakikat kurban adalah latihan mematikan “aku”.
“Aku paling benar.” “Aku paling terluka.” “Aku paling berjasa.” “Aku paling layak dihormati.”
Padahal selama “aku” masih terlalu besar, manusia tidak akan pernah benar-benar tunduk kepada Allah.
Karena orang yang dikuasai ego akan sulit:
-menerima nasihat,
-mengakui kesalahan,
-meminta maaf,
dan memperbaiki diri.
Ia sibuk mempercantik citra luar, tetapi membiarkan isi batinnya rusak.
Iduladha bukan sekadar tentang hewan yang disembelih di tanah lapang. Iduladha adalah tentang manusia yang sedang belajar menyembelih sifat kebinatangan dalam dirinya sendiri.
Sebab boleh jadi, hewan kurban sudah mati… tetapi ego manusia masih hidup, bahkan semakin gemuk.
Dan mungkin, musuh terbesar yang harus benar-benar dikorbankan tahun ini bukan sapi atau kambing,
melainkan diri kita sendiri yang belum mau tunduk kepada Allah. (*)
