Islam Ala KH Ahmad Dahlan

Haedar Nashir
*) Oleh : Prof. Haedar Nashir
Ketua Umum PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Ada banyak cara untuk memahami KH Ahmad Dahlan. Beliau dapat dilihat sebagai ulama, pendidik, pendiri Muhammadiyah, pembaru Islam, atau tokoh pergerakan. Lantas kita mungkin bertanya-tanya soal Islam seperti apa yang sesungguhnya diperjuangkan KH KH Ahmad Dahlan?

Pertanyaan ini menjadi penting karena sosok KH Ahmad Dahlan sering kali dibaca dari hal-hal yang terlalu kecil. Misalnya, dari praktik ibadah tertentu yang pada zamannya masih mengikuti tradisi keagamaan yang lazim di kalangan masyarakat dan ulama. Dari sana muncul upaya untuk memasukkan KH Ahmad Dahlan ke dalam kotak mazhab tertentu, seolah-olah identitas seorang pembaru dapat ditentukan dari satu atau dua praktik fikih.

Padahal, membaca KH Ahmad Dahlan dari perkara semacam itu justru berisiko mengecilkan keluasan proyek pembaruannya.

KH Ahmad Dahlan memang lahir dan tumbuh dalam lingkungan santri tradisional. Beliau mempelajari khazanah keislaman yang lazim dipelajari para ulama pada masanya. Dalam fikih, beliau bersentuhan dengan Mazhab Syafi’i. Dalam tasawuf, beliau mengenal pemikiran Imam al-Ghazali. Beliau juga membaca karya-karya dari tradisi pemikiran Islam yang beragam.

Namun, KH Ahmad Dahlan tidak berhenti sebagai pembaca kitab. Beliau mengolah pengetahuan itu menjadi energi perubahan. Di situlah letak penting memahami Islam ala KH Ahmad Dahlan. Islam bagi beliau harus menjadi kekuatan yang mengubah kehidupan. Al-Qur’an harus dibaca dengan kesadaran bahwa setiap petunjuknya memiliki konsekuensi sosial. Agama menemukan maknanya ketika pengetahuan itu menjelma menjadi tindakan yang memperbaiki kehidupan manusia.

Karena itu, KH Ahmad Dahlan dapat disebut sebagai seorang mujadid dalam pengertian yang luas. Beliau berusaha mengembalikan umat kepada sumber ajaran Islam sekaligus membebaskan mereka dari keterbelakangan, kebodohan, kemiskinan, dan ketidakberdayaan.

Mencari Kebenaran dengan Pikiran Terbuka

Ada satu gambaran menarik tentang cara KH Ahmad Dahlan mencari kebenaran yang dikutip Kiai Hadjid. KH Ahmad Dahlan mengibaratkan perjumpaan seorang Muslim dan seorang Kristen yang sama-sama membawa kitab sucinya. Kedua kitab itu diletakkan di atas meja. Keduanya kemudian mengosongkan hati dari prasangka dan bersama-sama mencari tanda bukti yang menunjukkan kebenaran.

Ini menunjukkan bahwa KH Ahmad Dahlan memiliki sikap keilmuan yang jauh dari fanatisme sempit. Beliau tidak memandang sesuatu benar hanya karena telah menjadi kebiasaan. Beliau juga tidak menganggap sesuatu salah hanya karena datang dari luar lingkungan pemikirannya. Dalam ungkapan yang dinisbahkan kepadanya, “Al-nāsu a‘dā’u mā jahilū”, manusia cenderung memusuhi apa yang tidak diketahuinya.

KH Ahmad Dahlan tidak memilih untuk menutup diri dari perubahan tersebut. Beliau justru berusaha mengambil apa yang menurutnya baik, kemudian meletakkannya dalam kerangka ajaran Islam.

Karena itu, modernitas bagi KH Ahmad Dahlan bukan sesuatu yang harus ditelan mentah-mentah, tetapi juga bukan sesuatu yang harus ditolak hanya karena berasal dari luar tradisi Islam. Sekolah dengan sistem klasikal, penerbitan, organisasi, ilmu pengetahuan, pengelolaan zakat, pendidikan perempuan, dan berbagai bentuk kelembagaan modern dapat digunakan selama membawa kemaslahatan dan tidak bertentangan dengan prinsip Islam.

Islam ala KH Ahmad Dahlan dengan demikian adalah Islam yang memiliki akar kuat sekaligus memiliki keberanian untuk bergerak.

Dari Al-Ma’un ke Kehidupan Nyata

Barangkali salah satu cara terbaik memahami KH Ahmad Dahlan adalah melihat bagaimana beliau membaca Al-Qur’an.

Kisah tentang pengajaran Surah al-Ma’un sering kali menjadi contoh yang terus diulang. Tetapi kisah itu sebenarnya menyimpan gagasan yang jauh lebih besar. KH Ahmad Dahlan tidak mengajarkan Al-Ma’un sebagai teks yang cukup dibaca berulang-ulang. Beliau mengajarkannya sebagai panggilan untuk melihat manusia yang lapar, miskin, terlantar, dan tidak berdaya.

Al-Qur’an harus turun dari lisan ke kehidupan. Karena itu, keberagamaan KH Ahmad Dahlan memiliki konsekuensi sosial. Orang yang rajin beribadah tetapi membiarkan penderitaan di sekitarnya tidak dapat dianggap telah menangkap seluruh pesan agama. Kesalehan individual harus menemukan bentuk dalam kepedulian sosial. Di sinilah Islam ala KH Ahmad Dahlan menjadi sangat khas.

Mungkin karena itu KH Ahmad Dahlan sering disebut sebagai manusia amal. Tetapi menyebutnya demikian tidak berarti bahwa beliau miskin gagasan. Sebaliknya, amal-amal tersebut justru lahir dari cara berpikir yang mendasar tentang hubungan antara iman, ilmu, dan tindakan. Iman melahirkan kesadaran. Ilmu memberi arah. Amal membuat ajaran agama hadir dalam kehidupan.

Islam yang Berkemajuan

KH Ahmad Dahlan hidup dalam suasana kolonial ketika umat Islam menghadapi berbagai bentuk keterbelakangan. Pendidikan terbatas. Kemiskinan meluas. Perempuan memiliki akses pendidikan yang sangat terbatas. Pengetahuan modern berkembang di luar lembaga-lembaga pendidikan Islam. Umat membutuhkan cara baru untuk menghadapi perubahan zaman.

Dalam konteks itulah pembaruan KH Ahmad Dahlan harus dibaca. Beliau mendirikan sekolah dengan sistem klasikal. Beliau merintis penerbitan dan Taman Pustaka. Beliau mendorong pendidikan perempuan melalui Aisyiyah. Beliau mengembangkan pengajian dalam ruang publik. Beliau mengorganisasi zakat dan berbagai kegiatan sosial. Semua itu menunjukkan bahwa pembaruan Islam yang dibayangkannya bukan sekadar pembaruan wacana.

Pembaruan harus memiliki institusi. Gagasan yang baik membutuhkan sekolah. Kepedulian sosial membutuhkan organisasi. Pengetahuan membutuhkan penerbitan. Pemberdayaan perempuan membutuhkan lembaga. Pengamalan agama membutuhkan sistem yang membuat amal dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Islam ala KH Ahmad Dahlan pada akhirnya adalah Islam yang dilembagakan menjadi amal. Hal ini pula yang membuat pembaruannya memiliki daya tahan panjang. Sebuah ceramah mungkin selesai ketika penceramah turun dari mimbar.

Sebuah gagasan mungkin berhenti ketika pencetusnya tidak lagi berbicara. Tetapi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, perguruan tinggi, penerbitan, lembaga zakat, organisasi perempuan, dan berbagai amal usaha dapat terus bekerja melampaui usia pendirinya.

Jika seluruh perjalanan KH Ahmad Dahlan dibaca secara utuh, tampak bahwa pusat perhatiannya adalah bagaimana Islam menjadi kekuatan pembebasan. Beliau ingin umat Islam beragama sekaligus berilmu. Beriman sekaligus beramal. Taat kepada ajaran agama sekaligus mampu menghadapi perubahan zaman. Memiliki keyakinan yang kokoh sekaligus terbuka terhadap ilmu pengetahuan. Saleh secara personal sekaligus berguna bagi masyarakat. ||Referensi: Haedar Nashir, “Memahami Pemikiran dan Langkah KH Ahmad Dahlan”

 

Tinggalkan Balasan

Search