Jangan-Jangan Jahiliyah Itu Masih Ada dalam Diri Kita

Jangan-Jangan Jahiliyah Itu Masih Ada dalam Diri Kita
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

#Empat Peringatan Al-Qur’an tentang Cara Berpikir, Menilai, Berperilaku, dan Membela Kelompok

Ketika mendengar kata jahiliyah, pikiran kita biasanya segera pergi ke masa sebelum Islam. Kita membayangkan masyarakat Arab yang hidup sebelum datangnya Rasulullah ﷺ, ketika penyembahan berhala, fanatisme kesukuan, peperangan, dan berbagai bentuk penyimpangan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Seolah-olah jahiliyah adalah sebuah masa yang telah selesai setelah Islam datang.

Tetapi Al-Qur’an memberikan gambaran yang jauh lebih dalam. Kata jahiliyah tidak hanya digunakan untuk menunjuk sebuah zaman. Al-Qur’an mengaitkannya dengan cara berpikir, cara menilai, perilaku, dan fanatisme manusia. Karena itu, persoalannya bukan hanya apakah kita hidup setelah datangnya Islam, tetapi apakah seluruh cara berpikir dan perilaku kita benar-benar telah keluar dari karakter jahiliyah.

Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ungkapan yang menarik: ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ atau prasangka jahiliyah dalam QS Ali ‘Imran ayat 154, حُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ atau hukum jahiliyah dalam QS Al-Ma’idah ayat 50, تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ atau tabarruj jahiliyah dalam QS Al-Ahzab ayat 33, dan حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ atau fanatisme jahiliyah dalam QS Al-Fath ayat 26.

Keempatnya berada dalam konteks ayat yang berbeda. Karena itu, kita tidak boleh menyederhanakannya menjadi satu pengertian yang kaku. Namun, jika direnungkan, keempat istilah tersebut memberikan cermin yang sangat kuat bagi kehidupan manusia.

Jahiliyah ternyata dapat dimulai dari cara kita memandang kenyataan.

Dalam QS Ali ‘Imran ayat 154, Allah menyebut adanya ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ, prasangka jahiliyah. Ayat tersebut turun dalam konteks Perang Uhud, ketika sebagian orang mengalami keguncangan dan memiliki prasangka yang tidak benar terhadap Allah.

Ini menarik. Sebab masalah pertama yang disebut sebagai jahiliyah bukanlah semata-mata perilaku fisik, melainkan prasangka di dalam pikiran.

Manusia mengalami sebuah peristiwa, kemudian memberikan penafsiran terhadap peristiwa tersebut. Ketika mendapatkan kesulitan, misalnya, seseorang bisa saja berkata dalam hatinya, “Allah tidak menyayangiku.” Ketika mengalami kegagalan, ia merasa hidupnya telah berakhir. Ketika menghadapi ujian, ia menganggap Allah sedang meninggalkannya.

Padahal sebuah peristiwa dan pemaknaan manusia terhadap peristiwa itu adalah dua hal yang berbeda.

Di sinilah pentingnya wahyu.

Wahyu mengajarkan manusia bahwa tidak semua yang terlihat buruk pada pandangan pertama benar-benar buruk dalam keseluruhan perjalanan hidup. Manusia hanya melihat sebagian dari kenyataan, sedangkan Allah mengetahui keseluruhannya.

Karena itu, seorang mukmin tidak hanya membutuhkan mata untuk melihat kejadian. Ia membutuhkan iman untuk membaca makna di balik kejadian.

Inilah salah satu perbedaan antara cara pandang yang dibimbing wahyu dengan cara pandang jahiliyah. Jahiliyah membuat manusia menjadikan keterbatasan pandangannya sebagai ukuran mutlak. Wahyu mengajarkan manusia untuk menyadari bahwa pengetahuan manusia terbatas.

Maka ketika musibah datang, pertanyaan seorang mukmin bukan hanya, “Mengapa ini terjadi kepadaku?” Tetapi juga, “Apa yang Allah sedang ajarkan kepadaku melalui peristiwa ini?”

Ketika mendapatkan nikmat, ia tidak hanya bertanya, “Apa yang bisa aku nikmati?” tetapi juga, “Untuk apa Allah memberikan nikmat ini kepadaku?”

Ketika gagal, ia tidak buru-buru menyimpulkan bahwa Allah sedang menjauhinya.

Sebab terkadang manusia hanya melihat pintu yang tertutup, sementara Allah sedang mengarahkannya kepada jalan yang belum ia lihat.

 

Tinggalkan Balasan

Search