Al-Qur’an sedang mengajak kita bercermin kepada diri sendiri.
Sebab salah satu penyakit manusia adalah mudah menemukan jahiliyah pada orang lain, tetapi sulit menemukan sisa-sisanya dalam dirinya sendiri.
Kita melihat fanatisme orang lain, tetapi tidak melihat fanatisme kita.
Kita mengkritik prasangka orang lain, tetapi lupa memeriksa prasangka kita.
Kita menilai perilaku orang lain, tetapi lupa bertanya apakah hati kita telah benar-benar bersih.
Maka mungkin inilah makna penting membaca Al-Qur’an: bukan hanya mencari ayat untuk menilai orang lain, tetapi menemukan ayat yang membuat diri kita sendiri merasa sedang dinilai oleh Allah.
Jahiliyah mungkin telah berganti bentuk.
Berhala mungkin tidak lagi selalu berupa patung.
Fanatisme tidak selalu memakai nama suku.
Kesombongan tidak selalu berbentuk kekuasaan.
Dan kebodohan tidak selalu berarti tidak memiliki informasi.
Seseorang bisa hidup di tengah jutaan informasi, tetapi tetap jahil dalam membaca kehidupan.
Seseorang bisa memiliki gelar, tetapi tetap jahil dalam memahami dirinya.
Seseorang bisa aktif dalam kelompok agama, tetapi tetap terjebak fanatisme.
Seseorang bisa banyak berbicara tentang Allah, tetapi salah memahami cara memandang ujian yang Allah berikan kepadanya.
Karena itu, perjuangan keluar dari jahiliyah bukan hanya perjuangan mengganti zaman.
Ia adalah perjuangan mengganti cara pandang.
Dari prasangka menuju husnuzan kepada Allah.
Dari hawa nafsu menuju petunjuk wahyu.
Dari pencitraan menuju keikhlasan.
Dari fanatisme kelompok menuju keadilan dalam mencari kebenaran.
Dan akhirnya, dari manusia yang hanya melihat dunia dengan matanya sendiri menuju manusia yang belajar membaca kehidupan di bawah cahaya wahyu.
Mungkin itulah pertanyaan yang paling layak kita bawa pulang setelah membaca ayat-ayat tentang jahiliyah:
Bukan “Siapa yang masih jahiliyah?”
Tetapi:
“Bagian mana dari diriku yang masih harus disinari wahyu?”
Sebab Al-Qur’an bukan hanya cahaya yang menerangi jalan di depan kita.
Ia juga cermin yang memperlihatkan gelap yang masih tersembunyi di dalam diri kita. (*)
