Jangan-Jangan Jahiliyah Itu Masih Ada dalam Diri Kita

Jangan-Jangan Jahiliyah Itu Masih Ada dalam Diri Kita
*) Oleh : Muhammad Hidayatulloh
Pengurus PRM Berbek dan Pengasuh Kajian Tafsir Al Qur'an di Masjid Al Huda Berbek Sidoarjo.
www.majelistabligh.id -

Masalah muncul ketika kecintaan kepada kelompok membuat seseorang kehilangan keadilan terhadap kebenaran.

Ketika orang kita yang salah tetap kita bela.

Ketika orang lain yang benar tetap kita tolak.

Ketika sebuah pendapat dianggap benar hanya karena datang dari guru kita.

Ketika pendapat lain dianggap salah hanya karena datang dari kelompok yang berbeda.

Pada titik itu, manusia tidak lagi bertanya:

“Apa yang benar?”

Ia mulai bertanya:

“Siapa yang mengatakan?”

Padahal kebenaran tidak menjadi benar hanya karena datang dari orang yang kita cintai. Sebaliknya, sesuatu tidak otomatis menjadi salah hanya karena datang dari orang yang tidak kita sukai.

Inilah ujian besar bagi seorang Muslim.

Kita diperintahkan untuk menghormati ulama, mencintai guru, menjaga adab kepada orang saleh, dan menghargai tradisi keilmuan. Tetapi penghormatan kepada manusia tidak boleh membuat manusia ditempatkan pada posisi yang hanya layak bagi wahyu.

Ulama adalah pembimbing.

Guru adalah pendidik.

Kiai adalah orang yang kita hormati.

Tetapi mereka tetap manusia.

Mereka dapat benar dan dapat keliru. Karena itu, kecintaan kepada guru seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Allah dan semakin memahami wahyu, bukan membuat kita berhenti menggunakan akal dan berhenti mencari kebenaran.

Di sinilah empat wajah jahiliyah tersebut menjadi sangat menarik untuk kita renungkan.

ظَنٌّ — prasangka.

حُكْمٌ — penilaian.

تَبَرُّجٌ — perilaku yang menampakkan diri.

حَمِيَّةٌ — fanatisme.

Jika dirangkai sebagai sebuah perjalanan, jahiliyah dapat bermula dari cara kita berpikir, kemudian masuk ke cara kita menilai, tampak dalam cara kita berperilaku, lalu mengeras menjadi fanatisme kelompok.

Karena itu, jangan-jangan masalah jahiliyah bukan hanya berada di luar diri kita.

Jangan-jangan ia juga sedang mengetuk pintu hati kita.

Ketika kita berprasangka buruk kepada Allah, apakah di sana ada ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ?

Ketika kita menilai manusia hanya berdasarkan kepentingan dan kelompok, apakah di sana ada حُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ?

Ketika kita lebih sibuk membangun citra daripada memperbaiki diri, apakah di sana ada sebagian karakter تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ?

Dan ketika kita membela kelompok meskipun mengetahui kesalahannya, apakah di sana mulai tumbuh حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ?

Pertanyaan-pertanyaan itu bukan untuk menghakimi orang lain.

Justru sebaliknya.

 

Tinggalkan Balasan

Search