Kemudian Al-Qur’an menyebut حُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ, hukum atau penilaian jahiliyah dalam QS Al-Ma’idah ayat 50:
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
“Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang meyakini?”
Jika yang pertama berbicara tentang cara memandang, yang kedua menyentuh cara menentukan ukuran dan mengambil keputusan.
Manusia tidak hanya melihat dunia. Ia juga memberikan penilaian terhadap dunia.
Ia menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia menentukan apa yang baik dan apa yang buruk. Ia menentukan siapa yang layak dihormati dan siapa yang pantas direndahkan.
Pertanyaannya kemudian: dari mana ukuran itu berasal?
Apakah dari wahyu? Dari akal yang sehat? Dari ilmu? Ataukah semata-mata dari kepentingan diri, hawa nafsu, kelompok, dan kebiasaan yang telah diwariskan?
Di sinilah bahaya jahiliyah.
Seseorang mungkin memiliki banyak ilmu, tetapi ukuran yang digunakan untuk menilai tetap keliru. Ia mungkin memiliki data yang sangat banyak, tetapi data itu digunakan hanya untuk membenarkan kepentingannya.
Karena itu, Islam tidak hanya mengajarkan manusia untuk mengetahui sesuatu. Islam juga mengajarkan manusia untuk memiliki ukuran kebenaran.
Ilmu tanpa petunjuk dapat membuat manusia semakin pintar membela kesalahan. Akal tanpa akhlak dapat berubah menjadi alat pembenaran. Informasi tanpa hikmah dapat membuat manusia semakin banyak bicara tetapi semakin sedikit memahami.
Maka wahyu bukan musuh akal.
Wahyu justru memberikan arah agar akal tidak kehilangan jalan.
Selanjutnya Al-Qur’an menyebut تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ dalam QS Al-Ahzab ayat 33.
Ayat ini berada dalam konteks khusus pembicaraan kepada istri-istri Nabi ﷺ. Karena itu, ayat tersebut tidak boleh dipahami secara serampangan seolah-olah Al-Qur’an sedang mengatakan bahwa perempuan adalah sumber kerusakan masyarakat.
Yang perlu kita renungkan adalah konsep tabarruj sebagai bentuk perilaku lahiriah yang menonjolkan penampilan dengan cara yang tidak sesuai dengan tuntunan Allah.
Dalam konteks kehidupan modern, manusia hidup dalam masyarakat yang sangat visual. Penampilan dapat menjadi identitas. Media sosial membuat manusia semakin mudah menampilkan dirinya kepada publik. Apa yang dipakai, ke mana pergi, apa yang dimiliki, bahkan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya dapat dipertontonkan kepada jutaan orang.
Persoalannya bukan sekadar tentang pakaian.
Persoalan yang lebih dalam adalah ketika penampilan mulai menggantikan substansi.
Manusia akhirnya sibuk membangun citra dirinya di hadapan manusia, tetapi lupa membangun kualitas dirinya di hadapan Allah.
Ia bertanya, “Bagaimana orang melihat saya?”
Tetapi lupa bertanya, “Bagaimana Allah melihat saya?”
Ia takut kehilangan penilaian manusia, tetapi tidak takut kehilangan keikhlasan.
Di sinilah Al-Qur’an mengajarkan bahwa manusia memiliki nilai yang jauh lebih dalam daripada sekadar apa yang terlihat oleh mata.
Dan yang terakhir adalah حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ, fanatisme jahiliyah dalam QS Al-Fath ayat 26.
Ini mungkin salah satu bentuk jahiliyah yang sangat mudah kita temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Manusia memang membutuhkan kelompok. Kita membutuhkan keluarga, masyarakat, organisasi, komunitas, dan lingkungan. Identitas sosial bukanlah sesuatu yang otomatis salah.
