Jangan Menjadi dan Menyiapkan Manusia-Manusia Ternak

Jangan Menjadi dan Menyiapkan Manusia-Manusia Ternak
*) Oleh : Angga Adi Prasetya, M.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan Sekbid Dakwah PDPM Malang
www.majelistabligh.id -

Momentum Iduladha selalu menghadirkan pemandangan yang menggugah hati. Hewan-hewan ternak dibawa menuju tempat penyembelihan. Ada kambing, sapi, dan domba yang berjalan tanpa memahami ke mana mereka diarahkan. Mereka hanya mengikuti naluri dan arahan.

Namun di balik ibadah kurban itu, sejatinya Allah sedang mengajarkan satu pelajaran besar kepada manusia: jangan sampai manusia justru hidup seperti hewan ternak.

Allah Swt memberikan peringatan yang sangat tajam dalam Al-Qur’an:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ*
Dan sungguh, Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) banyak dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami, mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat, mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar. Mereka itu seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.”
> (QS Al-A’raf: 179)

Ayat ini sangat relevan ditadabburi saat Iduladha. Hewan ternak memang tidak diberi akal untuk memahami hakikat hidup. Tetapi manusia diberi hati, mata, telinga, ilmu, bahkan wahyu. Maka ketika manusia tetap hidup hanya mengikuti hawa nafsu, enggan menerima nasihat, dan menolak kebenaran, derajatnya justru bisa lebih rendah daripada hewan ternak.

Lebih berbahaya lagi, hari ini bukan hanya muncul manusia-manusia yang sulit menerima nasihat, tetapi juga lahir generasi yang sedang disiapkan menjadi “manusia ternak”: generasi yang hanya mengikuti arus, mudah dikendalikan hawa nafsu, malas berpikir, anti kritik, dan alergi terhadap kebenaran.

Mereka dibesarkan bukan dengan ilmu dan adab, tetapi hanya dengan hiburan tanpa arah. Sibuk mengejar validasi, tetapi miskin evaluasi diri. Mudah tersinggung ketika dikoreksi, tetapi santai ketika melanggar syariat.

Padahal Islam mendidik manusia agar memiliki hati yang hidup.

Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim ‘alaihissalam mendidik putranya, Nabi Ismail ‘alaihissalam.

Ketika Nabi Ibrahim mendapat perintah yang sangat berat untuk menyembelih putranya sendiri, beliau tidak mendidik Ismail dengan kekerasan ataupun paksaan. Beliau mengajak Ismail berdialog dengan penuh keimanan.

Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an:

فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ “Maka ketika anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: ‘Wahai anakku! Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?’”

Lalu Ismail menjawab dengan jawaban yang luar biasa:

قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ**
Ismail menjawab: ‘Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.’”
> (QS Ash-Shaffat: 102)

Inilah hasil pendidikan iman dan nasihat.

Ismail bukan anak yang liar terhadap arahan orang tua. Ia tidak marah ketika dinasihati. Tidak memberontak ketika diperintah Allah. Tidak mendahulukan ego dan hawa nafsu. Ia tumbuh menjadi anak yang lembut hatinya karena dibina dengan tauhid, keteladanan, dan dialog penuh hikmah.

Bandingkan dengan fenomena hari ini. Banyak anak sulit menerima arahan. Sedikit dinasihati langsung tersinggung. Sedikit dikoreksi langsung melawan. Bahkan tidak sedikit orang tua yang justru takut menasihati anaknya sendiri.

Padahal salah satu tanda sifat hewani adalah keras hati ketika dinasihati.

Ia punya telinga, tetapi tidak mau mendengar.
Punya mata, tetapi buta terhadap kesalahan sendiri.
Punya akal, tetapi digunakan untuk membenarkan hawa nafsu.

Nasihat dianggap hinaan. Kritik dianggap serangan. Padahal orang beriman justru tumbuh melalui nasihat.

Allah berfirman:
وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَىٰ تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ
Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
> (QS Adz-Dzariyat: 55)

Rasulullah ﷺ juga bersabda:
اَلدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama itu adalah nasihat.” (HR Muslim)

Karena itu, ketika seseorang sudah sulit menerima nasihat, mudah marah saat diingatkan, bahkan sibuk mencari pembenaran atas kesalahannya sendiri, maka sesungguhnya ia sedang membiarkan sisi hewani menguasai dirinya.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata:

مِنْ أَعْظَمِ الْهَلَاكِ أَنْ لَا يَرَى الْإِنْسَانُ عَيْبَ نَفْسِهِ
Termasuk kebinasaan terbesar adalah ketika seseorang tidak mampu melihat aib dirinya sendiri

Ada pula ungkapan yang sangat dalam maknanya:
مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ اشْتَغَلَ بِإِصْلَاحِهَا عَنْ عُيُوبِ غَيْرِهِ
Siapa yang mengenal dirinya, ia akan sibuk memperbaiki dirinya daripada mencari-cari kesalahan orang lain.”

Hari ini kita hidup di zaman yang aneh. Banyak orang mudah tersentuh hiburan, tetapi sulit tersentuh nasihat. Cepat menangis karena film, tetapi keras hatinya terhadap ayat-ayat Allah. Fasih berbicara agama, tetapi enggan menerima kebenaran ketika datang kepada dirinya sendiri.

Karena itu, Iduladha bukan hanya tentang menyembelih hewan kurban, tetapi juga momentum menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri: kesombongan, kerakusan, egoisme, amarah, dan hawa nafsu.

Dan yang lebih penting lagi, jangan sampai kita mendidik anak-anak menjadi manusia-manusia ternak: generasi yang hanya ikut-ikutan, miskin adab, anti nasihat, dan kehilangan nurani.

Didiklah mereka seperti Ibrahim mendidik Ismail: dengan tauhid, keteladanan, dialog, kesabaran, dan kedekatan kepada Allah.

Sebab kemuliaan manusia bukan pada rupa atau jabatan, melainkan pada hati yang hidup, lembut menerima kebenaran, dan tunduk kepada petunjuk Allah Swt.

Mungkin hari ini kita rajin berkurban, tetapi sudahkah kita menyembelih ego dalam diri?
Mungkin tangan kita mampu memberi makan banyak orang, tetapi apakah hati kita masih lapar akan nasihat?
Mungkin kita marah ketika disebut seperti hewan ternak, tetapi bukankah terkadang kita hidup hanya mengikuti arus, hawa nafsu, dan gengsi tanpa arah?

Jangan-jangan yang sedang disembelih setiap Iduladha hanyalah kambing dan sapi, sementara kesombongan, keras kepala, dan hawa nafsu dalam diri justru terus hidup dan dipelihara.

Padahal sejatinya, qurban terbesar adalah ketika manusia mampu menyembelih keakuannya sendiri dan menerima setiap nasihat demi tunduk kepada Allah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search