Setiap kejadian dalam hidup kita tidak selalu terlihat balance. Ada yang terasa baik. Ada yang terasa buruk. Tapi sering kali, baik dan buruk juga bergantung pada arah pikiran kita dalam melihatnya.
Allah mengingatkan:
ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْــئًا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّـکُمْ ۚ وَعَسٰۤى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْــئًا وَّهُوَ شَرٌّ لَّـكُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ وَاَ نْـتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS Al-Baqarah 2: 216)
Begitu juga saat menilai orang lain. Kita hanya melihat apa yang tampak, sementara Allah mengetahui apa yang tersembunyi di dalam hati dan kehidupan seseorang.
Jadi, sebelum berpikir buruk tentang seseorang, beri ruang untuk berprasangka baik. Sebelum menganggap sebuah kejadian sebagai musibah, ingat bahwa mungkin ada hikmah yang belum kita lihat. Karena keterbatasan kita dalam melihat, bukan berarti kita tahu seluruh ceritanya.
Belajar melihat dengan iman, bukan hanya dengan perasaan.
Semoga menjadi pengingat bagi diri sendiri dan siapa pun yang membacanya. (*)
