Karakter Kepemimpinan Fir’aun

Karakter Kepemimpinan Fir'aun
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah.
www.majelistabligh.id -

3. Kekuasaan Fir’aun Menggunakan Ketakutan

Kepemimpinan Fir’aun juga dibangun melalui rasa takut. Allah berfirman:
فَمَا آمَنَ لِمُوسَىٰ إِلَّا ذُرِّيَّةٌ مِنْ قَوْمِهِ عَلَىٰ خَوْفٍ مِنْ فِرْعَوْنَ وَمَلَإِهِمْ
“Tidak ada yang beriman kepada Musa, kecuali sebagian keturunan dari kaumnya, karena takut kepada Fir’aun dan para pemuka mereka.” (QS. Yunus [10]: 83).

Ini menunjukkan bahwa kekuasaan dapat bertahan bukan hanya karena masyarakat setuju, tetapi juga karena masyarakat takut terhadap akibat dari ketidaksetujuan. Fir’aun menggunakan aparat kekuasaan, ancaman dan hukuman untuk membentuk kepatuhan.Bahkan ketika para penyihir Fir’aun akhirnya beriman kepada Allah, Fir’aun mengancam:
لَأُقَطِّعَنَّ أَيْدِيَكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ مِنْ خِلَافٍ وَلَأُصَلِّبَنَّكُمْ أَجْمَعِينَ
“Sungguh, akan kupotong tangan dan kaki kalian secara bersilang dan akan kusalib kalian semuanya.” (QS. al-A‘raf [7]: 124).
Artinya, ketika argumentasi kehilangan kekuatan, kekuasaan yang zalim cenderung menggantinya dengan ancaman.

3. Fir’aun Menggunakan Propaganda dan Pengendalian Opini
Fir’aun tidak hanya menggunakan kekerasan. Ia juga menggunakan narasi dan propaganda. Ketika Nabi Musa alaihis salam membawa dakwah tauhid, Fir’aun mengatakan:
إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ
“Aku khawatir dia akan mengganti agama kalian atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (QS. Ghafir [40]: 26).

Menariknya, orang yang sebenarnya melakukan kerusakan justru menuduh pembawa perubahan sebagai pembuat kerusakan. Al-Qur’an menggambarkan Fir’aun sebagai orang yang memengaruhi kaumnya, kemudian mereka mematuhinya:
فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ
“Maka dia memperdaya kaumnya, lalu mereka mematuhinya.” (QS. al-Zukhruf [43]: 54).

Ayat ini memberikan pelajaran bahwa kekuasaan tidak selalu dipertahankan hanya melalui senjata. Penguasaan terhadap persepsi masyarakat juga dapat menjadi instrumen kekuasaan.

4. Fir’aun Memiliki Lingkaran Kekuasaan
Fir’aun bukan bekerja sendirian. Al-Qur’an berkali-kali menyebut Fir’aun dan para pemuka/pembesarnya. Dalam QS. al-Syu‘ara [26]: 34–37, Fir’aun mengumpulkan para pembesar dan ahli sihir dalam menghadapi Nabi Musa. Bahkan kepada para penyihir yang bersedia membelanya, Fir’aun menawarkan kedekatan dan kedudukan:
وَإِنَّكُمْ إِذًا لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ
“Dan sungguh, kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat (denganku).” (QS. al-Syu‘ara [26]: 42).

Tafsir Kementerian Agama menjelaskan bahwa Fir’aun menjanjikan kedudukan dekat dan fasilitas kepada para penyihir apabila mereka memenangkan pertandingan melawan Musa. (Quran Nuwajak)

Di sini kita melihat pola: loyalitas → kedekatan → fasilitas → kekuasaan. Ini merupakan salah satu bahaya politik kekuasaan: orang-orang yang seharusnya menjadi pengawas justru berubah menjadi lingkaran pembenar kekuasaan.

5. Kepemimpinan Islam: Kekuasaan adalah Amanah
Islam memberikan paradigma yang berbeda secara mendasar. Allah berfirman:
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.” (QS. al-Nisa’ [4]: 58).

Ayat ini memberikan dua prinsip penting: pertama, amanah; kedua, keadilan. Karena itu, kepemimpinan Islam bukanlah: “Bagaimana mendapatkan kekuasaan?” melainkan: “Bagaimana melaksanakan amanah kekuasaan dengan adil?” Perbedaannya sangat fundamental.

Dalam perspektif Islam, pemimpin tidak boleh menempatkan dirinya sebagai sumber kebenaran mutlak. Kebenaran tertinggi adalah milik Allah, sedangkan manusia; termasuk pemimpin, adalah hamba dan khalifah yang bertanggung jawab kepada-Nya.

6. Kepemimpinan Islam Berdasarkan Syura
Allah berfirman tentang orang-orang beriman وَأَمْرُهُمْ شُورَىٰ بَيْنَهُمْ “Sedang urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. al-Syura [42]: 38). Nabi Muhammad ﷺ sendiri diperintahkan وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ “Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.” (QS. Ali ‘Imran [3]: 159).

Dengan demikian, syura merupakan prinsip penting dalam kepemimpinan Islam. Namun syura tidak identik secara keseluruhan dengan demokrasi modern. Syura berakar pada kerangka tauhid dan wahyu, sedangkan demokrasi modern berkembang sebagai sistem politik yang memiliki variasi kelembagaan dan teori yang berbeda-beda.

Kajian tentang hubungan syura dan demokrasi menunjukkan adanya titik temu pada prinsip seperti musyawarah, keadilan dan kesetaraan, tetapi juga terdapat perbedaan historis dan konseptual yang perlu diperhatikan (Sari & Saputra, 2024). (E-Journal)

 

Tinggalkan Balasan

Search