Karakter Kepemimpinan Moderat dan Tranformatif Ala Muhammadiyah

Karakter Kepemimpinan Moderat dan Tranformatif Ala Muhammadiyah
*) Oleh : Dr. Risman Muchtar, M.Si
Wakil Ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

#Memadukan Keteguhan Prinsip dan Kemampuan Mengubah Zaman

Di tengah kehidupan bangsa yang semakin kompleks, kebutuhan akan pemimpin yang mampu menyatukan, mencerahkan, dan menggerakkan masyarakat menjadi semakin mendesak. Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar, tidak pula kekurangan orang yang memiliki jabatan. Namun yang sering langka adalah pemimpin yang mampu menjaga keseimbangan antara keteguhan prinsip dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Dalam konteks inilah model kepemimpinan Muhammadiyah menjadi menarik untuk dikaji.

Sejak didirikan oleh Ahmad Dahlan pada tahun 1912, Muhammadiyah tampil sebagai gerakan dakwah dan tajdid yang tidak hanya berorientasi pada pemurnian ajaran Islam, tetapi juga pada transformasi sosial. Gerakan ini berhasil membangun ribuan sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, lembaga ekonomi, dan berbagai amal usaha lainnya. Di balik keberhasilan tersebut terdapat model kepemimpinan yang khas, yaitu kepemimpinan yang moderat sekaligus transformatif.

Moderat dan transformatif sering dipahami sebagai dua hal yang berbeda. Moderat dipersepsikan sebagai sikap yang cenderung menjaga keseimbangan dan menghindari ekstremitas, sedangkan transformatif dipahami sebagai dorongan untuk melakukan perubahan. Dalam Muhammadiyah, keduanya justru berpadu secara harmonis. Moderasi menjadi kompas yang menjaga arah perubahan, sedangkan transformasi menjadi energi yang menggerakkan kemajuan.

Berakar pada Tauhid
Karakter utama kepemimpinan Muhammadiyah adalah tauhid. Seluruh aktivitas organisasi pada hakikatnya merupakan bentuk ibadah kepada Allah Swt. Karena itu, jabatan tidak dipandang sebagai sarana mencari popularitas, kekuasaan, atau keuntungan pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Prinsip ini sejalan dengan semangat Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang menegaskan bahwa tujuan perjuangan Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.¹
Kesadaran tauhid melahirkan pemimpin yang ikhlas, rendah hati, serta tidak mudah tergoda oleh kepentingan sesaat. Ia bekerja bukan karena ingin dipuji manusia, tetapi karena mengharap ridha Allah.

Moderat tetapi Teguh dalam Prinsip
Moderasi dalam Muhammadiyah bukan berarti mengurangi kemurnian ajaran Islam atau mencampuradukkan yang benar dan yang salah. Moderasi berarti menempatkan segala sesuatu secara proporsional, adil, dan bijaksana.

Allah Swt. menyebut umat Islam sebagai ummatan wasathan (umat pertengahan) yang bertugas menjadi saksi bagi seluruh manusia (QS. Al-Baqarah [2]: 143). Dari ayat ini lahir prinsip keseimbangan, keadilan, dan keterbukaan yang menjadi ciri dakwah Muhammadiyah.
Dalam menghadapi perbedaan pendapat, Muhammadiyah lebih mengedepankan dialog daripada konflik, argumentasi ilmiah daripada celaan, serta dakwah bil hikmah daripada pemaksaan. Namun dalam masalah prinsip akidah dan nilai-nilai dasar Islam, Muhammadiyah tetap menunjukkan keteguhan sikap.

Sikap moderat seperti inilah yang menjadikan Muhammadiyah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat tanpa kehilangan identitas keislamannya.

Kepemimpinan yang Mengubah Keadaan
Jika moderasi menjadi fondasi, maka transformasi merupakan orientasi gerakannya. Sejak masa awal, Muhammadiyah tidak puas hanya menyampaikan ceramah atau pengajian. Dakwah harus melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan masyarakat.
Ketika umat menghadapi keterbelakangan pendidikan, Muhammadiyah mendirikan sekolah. Ketika masyarakat mengalami kesulitan akses kesehatan, Muhammadiyah membangun rumah sakit. Ketika kemiskinan menjadi persoalan sosial, Muhammadiyah mengembangkan pelayanan sosial dan pemberdayaan ekonomi.
Inilah bentuk nyata kepemimpinan transformatif. Pemimpin tidak sekadar mengelola keadaan yang sudah ada, tetapi menghadirkan solusi terhadap berbagai persoalan umat.

Dalam perspektif Islam Berkemajuan yang ditegaskan kembali pada Muktamar Muhammadiyah ke-48, kepemimpinan dituntut mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan pijakan pada nilai-nilai wahyu.²

Kolektif-Kolegial, Bukan Personalistik
Salah satu kekuatan Muhammadiyah yang sering luput dari perhatian adalah sistem kepemimpinan kolektif-kolegial. Keputusan organisasi tidak ditentukan oleh satu orang, tetapi melalui musyawarah bersama. Prinsip ini merupakan implementasi dari firman Allah: “Dan urusan mereka diputuskan dengan musyawarah di antara mereka.” (QS. Asy-Syura [42]: 38).

Melalui sistem ini, Muhammadiyah relatif terhindar dari kultus individu. Organisasi berjalan berdasarkan sistem, bukan bergantung pada figur tertentu. Pergantian pimpinan tidak menimbulkan guncangan berarti karena yang dijaga adalah kesinambungan gerakan, bukan dominasi personal.

Model kepemimpinan semacam ini sangat relevan bagi kehidupan bangsa yang sering terjebak dalam politik figur dan personalisasi kekuasaan.

Melayani, Bukan Dilayani
Dalam tradisi Muhammadiyah, jabatan dipahami sebagai amanah pelayanan. Semakin tinggi posisi seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya untuk melayani umat.
Karena itu, banyak tokoh Muhammadiyah yang dikenal hidup sederhana meskipun memimpin organisasi besar. Mereka memandang kepemimpinan sebagai bentuk pengabdian, bukan sarana memperoleh privilese.

Prinsip ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.”³ Kepemimpinan yang melayani melahirkan kedekatan dengan masyarakat, kepekaan sosial, dan kemampuan memahami kebutuhan umat secara nyata.
Mengutamakan Keteladanan

Muhammadiyah meyakini bahwa pengaruh terbesar seorang pemimpin tidak lahir dari pidatonya, tetapi dari keteladanannya. Karena itu, integritas menjadi syarat utama kepemimpinan.
Sifat-sifat kenabian seperti ṣidq (jujur), amānah (dapat dipercaya), tablīgh (komunikatif), dan faṭānah (cerdas) menjadi karakter yang harus melekat pada setiap pemimpin.
Di tengah krisis keteladanan yang melanda berbagai sektor kehidupan, kebutuhan terhadap pemimpin yang berintegritas menjadi semakin penting. Umat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai berbicara, tetapi juga pemimpin yang mampu menunjukkan keselarasan antara ucapan dan tindakan.

Kepemimpinan Berkemajuan untuk Masa Depan Bangsa
Indonesia saat ini menghadapi berbagai tantangan besar, mulai dari korupsi, ketimpangan sosial, polarisasi politik, krisis moral, hingga disrupsi teknologi. Semua tantangan tersebut membutuhkan model kepemimpinan yang tidak ekstrem, tidak reaktif, tetapi juga tidak pasif.

Karakter kepemimpinan Muhammadiyah menawarkan jalan tengah yang konstruktif. Keteguhan tauhid menjadi fondasi moralnya, moderasi menjadi pendekatan dakwahnya, sedangkan transformasi menjadi orientasi perjuangannya.

Kepemimpinan seperti ini tidak hanya relevan bagi Muhammadiyah, tetapi juga bagi bangsa Indonesia secara keseluruhan. Pemimpin yang berpegang teguh pada nilai, mampu berdialog dengan perbedaan, berani melakukan perubahan, serta menjadikan pelayanan sebagai orientasi utama merupakan kebutuhan mendesak bagi masa depan bangsa.

Pada akhirnya, kepemimpinan moderat dan transformatif ala Muhammadiyah bukan sekadar konsep organisasi, melainkan ikhtiar menghadirkan nilai-nilai Islam sebagai kekuatan yang mencerahkan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan umat manusia. Inilah kepemimpinan yang berusaha meneladani risalah kenabian: teguh dalam prinsip, lapang dalam pergaulan, dan produktif dalam menghadirkan kemaslahatan. Nashrun Minallahi Wafathun Qarieb.

Bodynote:
1. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah.
2. Muktamar Muhammadiyah ke-48, Risalah Islam Berkemajuan dan Dokumen Tanwir Muhammadiyah.
3. Hadis riwayat Al-Mu’jam al-Awsath karya Sulaiman ath-Tabarani, dengan makna yang didukung oleh berbagai riwayat tentang amanah kepemimpinan.
4. Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM).
5. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah (MKCH).
6. Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Kepribadian Muhammadiyah.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search