Simbol “matahari” yang menjadi identitas utama Persyarikatan Muhammadiyah bukan sekadar rancangan visual tanpa makna. Di balik bentuknya yang khas dan lagunya yang abadi, “Sang Surya”, tersemat filosofi pencerahan peradaban yang digagas oleh KH Siradj Dahlan, putra sulung sang pendiri, KH Ahmad Dahlan.
Fakta sejarah ini diungkapkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, saat meresmikan logo Tanwir dan Milad ke-114 Muhammadiyah di Kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, akhir pekan lalu. Haedar merujuk penuturan para tokoh senior seperti H Djarnawi Hadikusumo dan Wasthan Sudjak melalui HM Sukriyanto AR.
Sebagai ahli falak sekaligus seniman kaligrafi, KH Siradj Dahlan mewarisi kecendekiaan dan jiwa seni sang ayah. Karya desainnya memadukan identitas keagamaan dan estetika yang sarat pesan spiritual.
Logo Muhammadiyah menampilkan tulisan Arab “Muhammadiyah” di bagian tengah, dilingkari dua kalimat syahadat dan 12 pancaran sinar matahari berwarna putih, seluruhnya berlatar hijau.

Tulisan di tengah menegaskan komitmen gerakan yang meneladani Nabi Muhammad saw sejak berdiri pada 1912. Sementara itu, lingkar syahadat menjadi cerminan keteguhan tauhid dan ketundukan kepada Allah Swt.
Haedar menekankan bahwa matahari dipilih karena perannya sebagai sumber cahaya dan kehidupan. Menurutnya, simbol ini menuntut penjiwaan dari seluruh warga Persyarikatan.
“Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah di mana pun berada harus menjadi cahaya kehidupan. Di kala orang mulai putus asa, seberat apa pun keadaannya, kita wajib menjadi penyulut harapan dan tidak ikut memperkeruh suasana. Di sinilah letak urgensi Muhammadiyah,” tegas Haedar.
Kesejukan dan Keikhlasan dalam Warna
Kedalaman makna logo ini juga terpancar dari pemilihan warnanya. Merujuk catatan HM Sukriyanto AR di Majalah Suara Muhammadiyah (2015), warna hijau terinspirasi dari Al-Qur’an tentang kenikmatan surga, sebagaimana termaktub dalam QS Ar-Rahman: 76, QS Al-Insan: 21, dan QS Al-Kahfi: 31.
Dalam tradisi dakwah Muhammadiyah, hijau memaknai kesejukan, kedamaian, dan ketenteraman. Hal ini selaras dengan misi Rahmatan lil ‘Alamin—menghadirkan Islam yang mencerahkan dan menyejukkan melalui amal saleh nyata.
Adapun warna putih pada 12 sinar matahari merepresentasikan kesucian niat dan ketulusan hati. Warna favorit Rasulullah saw ini menjadi pegangan dalam menjalankan dakwah amar ma’ruf nahi munkar secara murni, tanpa pamrih, semata-mata mengharap keridaan Allah SWT.
Melalui momentum Milad ke-114, Haedar mengajak seluruh kader untuk menyadari pentingnya mempertautkan antara keindahan visual dan kedalaman nilai.
“Muhammadiyah sejak awal telah melahirkan simbol yang berkelas. Kita harus belajar memahami estetika sekaligus makna di baliknya. Makna adalah nilai hakiki, sedangkan estetika memberi sentuhan keindahan,” tuturnya.
Bagi Haedar, simbol matahari tidak boleh berhenti sebagai ornamen visual semata. Logo tersebut harus menjelma menjadi spirit gerakan yang hidup, memancarkan pencerahan di tengah pusaran persoalan keumatan, kebangsaan, hingga kemanusiaan global. || Bhisma
