Kesalehan sosial menjadi fondasi utama Persyarikatan Muhammadiyah untuk terus maju, berkembang, dan menebar manfaat luas bagi umat melalui jaringan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Pesan kunci tersebut ditegaskan oleh Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, dalam Pengajian Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wanayasa, Banjarnegara.
Fathurrahman mengungkapkan, sekumpulan orang berilmu belum tentu mampu mendirikan dan mempertahankan lembaga pendidikan jika tidak diimbangi komitmen, keikhlasan, serta kolaborasi yang solid. Sebaliknya, orang-orang dengan kemampuan sederhana justru mampu membangun sekolah, masjid, rumah sakit, hingga panti asuhan ketika dipadukan oleh kesatuan visi dan kesungguhan beramal.
“Orang yang salih secara individual belum tentu mampu membangun sekolah atau rumah sakit. Namun, ketika kesalehan itu disatukan dengan kesalehan orang lain, lalu dihimpun dan diorganisasikan, lahirlah kekuatan besar yang mampu melayani umat,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya mentransformasikan kesalehan personal menjadi kesalehan sosial. Proses transformasi tersebut, menurut Fathurrahman, melewati tiga tahapan utama:
- Kesalehan Individual: Berupa kokohnya keimanan, keluhuran akhlak, dan ketaatan pribadi kepada Allah Swt.
- Kesalehan Relasional: Kemampuan menularkan kebaikan melalui silaturahmi, keteladanan, kepedulian, dan kerja sama antarindividu.
- Kesalehan Institusional: Berhimpunnya orang-orang salih dalam wadah organisasi yang mampu melahirkan perubahan sosial secara terencana dan berkelanjutan.
Ia menyimpulkan bahwa kesalehan institusional pada hakikatnya adalah manifestasi keimanan menjadi amal nyata—yang dalam konteks Muhammadiyah mewujud secara konkret melalui hadirnya berbagai Amal Usaha Muhammadiyah. (*/tim)
