#Dua Tanda Kepekaan Iman: Bergembira karena Kebaikan dan Bersedih karena Kemaksiatan
Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau identitas yang melekat pada diri seseorang. Iman juga memiliki jejak dalam kehidupan batin: bagaimana seseorang menyambut kebaikan dan bagaimana ia menyikapi keburukan. Rasulullah ﷺ memberikan ukuran penting untuk membaca kepekaan hati seorang mukmin melalui sabdanya:
عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ عَنِ الْإِيمَانِ، فَقَالَ:
«إِذَا سَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ، وَسَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ، فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ»
Artinya: “Apabila kebaikanmu membuatmu gembira dan keburukanmu membuatmu bersedih, maka engkau adalah seorang mukmin.”¹
Hadits ini mengandung pelajaran mendalam tentang hubungan antara iman dan kepekaan moral. Kebaikan yang dilakukan seorang hamba semestinya melahirkan kegembiraan, bukan semata-mata karena memperoleh pujian manusia, melainkan karena Allah memberinya kemampuan untuk menaati-Nya. Sebaliknya, ketika terjatuh dalam dosa, seorang mukmin tidak bersikap acuh tak acuh. Ia merasa menyesal, menyadari kekurangannya, dan terdorong untuk memperbaiki diri.
Pertama, bergembira karena ketaatan. Kegembiraan atas amal saleh merupakan tanda bahwa hati masih menghargai kebaikan. Shalat, sedekah, membaca Al-Qur’an, menjaga amanah, dan menolong sesama bukan sekadar rutinitas, melainkan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Namun, kegembiraan ini harus dijaga dari kesombongan dan keinginan memperoleh sanjungan. Amal saleh semestinya melahirkan syukur dan kerendahan hati.
Kedua, bersedih karena kemaksiatan. Dosa yang dilakukan tanpa penyesalan dan tanpa keinginan bertobat merupakan keadaan yang patut diwaspadai. Kesedihan seorang mukmin bukanlah keputusasaan, melainkan pintu menuju taubat. Ia mengakui kesalahan, memohon ampun kepada Allah, memperbaiki akibat perbuatannya, dan berusaha tidak mengulanginya. Dengan demikian, penyesalan bukan akhir perjalanan, tetapi awal perubahan.
Dalam riwayat yang sama, Rasulullah ﷺ juga menjelaskan tentang dosa:
«إِذَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ شَيْءٌ فَدَعْهُ»
Artinya: “Apabila ada sesuatu yang mengganjal di dalam dadamu, maka tinggalkanlah.”²
Pesan ini mengajarkan kehati-hatian terhadap perkara yang meragukan. Meski demikian, perasaan tidak nyaman tidak boleh dijadikan satu-satunya penentu halal dan haram. Keraguan perlu ditimbang dengan ilmu, dalil syariat, dan bimbingan ulama.
Pada akhirnya, pertanyaan penting bagi setiap muslim bukan hanya, “Berapa banyak amal yang telah saya kerjakan?” tetapi juga, “Apakah amal itu membuat saya semakin bersyukur? Apakah dosa masih membuat saya menyesal?” Sebab, hati yang peka terhadap kebaikan dan keburukan merupakan modal penting untuk terus memperbaiki kualitas iman.
Jangan takut hanya karena pernah berbuat dosa; takutlah apabila dosa tidak lagi mengusik hati dan tidak mendorong kita untuk bertobat.
Iman bukan sekadar pengakuan lisan atau identitas yang melekat pada diri seseorang. Iman juga memiliki jejak dalam kehidupan batin
Catatan Kaki:
1. Aḥmad ibn Ḥanbal, al-Musnad, ed. Shuʿayb al-Arnaʾūṭ (Beirut: Muʾassasat al-Risālah, 2001), riwayat Abū Umāmah al-Bāhilī tentang tanda iman.
2. Aḥmad ibn Ḥanbal, al-Musnad, riwayat Abū Umāmah al-Bāhilī, dalam rangkaian hadis tentang iman dan dosa.
