Malam itu, dia sudah mengambil mushaf dari laci meja. Sudah lama mushaf itu tidak dibuka, mungkin tiga hari, mungkin lebih. Tapi malam ini berbeda. Ada sesuatu yang menggerakkan hatinya. Dia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas panjang, dan membuka halaman pertama.
Tiga menit kemudian, mushaf itu tertutup kembali.
Bukan karena ada yang mengganggunya. Bukan karena ada notifikasi masuk. Matanya tiba-tiba terasa sangat berat. Pikirannya melayang ke hal-hal yang terjadi hari itu — percakapan tadi siang, daftar belanja yang belum dibeli, pesan yang belum dibalas. Dan tanpa sadar, tangannya sudah meraih ponsel.
Mushaf itu tergeletak di kasur, masih terbuka di halaman yang sama.
Pernahkah kamu merasakan hal yang sama? Allah Wa Ta’ala mengabadikan pengakuan Iblis sendiri dalam Al-Quran:
“Kemudian, pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A’raf: 17)
Empat arah. Bukan satu. Bukan dua.
Para ulama tafsir menjelaskan ini bukan sekadar arah mata angin. Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan bahwa serangan dari depan adalah meragukan akhirat, dari belakang adalah mencintai dunia secara berlebihan, dari kanan adalah mengaburkan kebenaran agama, dan dari kiri adalah menghiasi kemaksiatan agar tampak indah.
Iblis tidak datang dengan tanduk dan api. Ia datang dengan rasa kantuk yang sangat wajar. Dengan pikiran yang terasa perlu diselesaikan dulu. Dengan kekhawatiran yang terasa sangat mendesak.
Dan itu bukan kebetulan.
Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sudah menjelaskan salah satu strategi paling efektif setan ini sejak 14 abad yang lalu:
Dari Abdullah radhiyallahu ‘anhu, beliau melaporkan kepada Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam perihal seseorang yang tertidur melewati malamnya hingga pagi. Maka Nabi Shalallahu Alaihi Wasallam bersabda:
“Itulah orang yang dikencingi setan pada kedua telinganya.” (HR Bukhari No. 3270; Muslim No. 774 Shahih)
Perhatikan betapa spesifiknya gambaran Nabi Shalallahu Alaihi Wasallim ini. Setan tidak perlu membuatmu membenci ibadah. Setan tidak perlu membuatmu menjadi jahat. Ia cukup memastikan kamu tidak sempat melakukannya. Rasa kantuk yang menyerang tepat saat kamu ingin salat malam. Pikiran yang melayang tepat saat kamu ingin membaca Al-Quran. Kesibukan yang tiba-tiba terasa mendesak tepat saat azan berkumandang.
Itulah serangan dari empat arah yang Iblis janjikan kepada Allah. Dan ia menepati janjinya — setiap malam.
Empat belas abad setelah sumpah Iblis itu terekam dalam Al-Quran, para ilmuwan menemukan mekanismenya melalui sains.
Lamy, Leber, dan Egeth (2012) dalam riset mereka tentang Selective Attention yang diterbitkan dalam Handbook of Perception and Cognition menemukan bahwa otak manusia memiliki kapasitas perhatian yang sangat terbatas.
Setiap detik, indera kita menerima sekitar 11 juta bit informasi dari lingkungan sekitar. Namun otak sadar hanya mampu memproses 40 bit saja — kurang dari 0,0004% dari seluruh informasi yang tersedia. Artinya, otak secara aktif dan otomatis mengabaikan hampir semua hal di sekitar kita. Dan yang memutuskan apa yang diperhatikan dan apa yang diabaikan adalah sistem yang bekerja di bawah kesadaran kita.
Di sinilah titik masuknya. Iblis tidak perlu memaksamu. Ia cukup menempatkan sesuatu yang lebih menarik tepat di jalur perhatianmu, dan otakmu akan melakukan sisanya secara otomatis, tanpa kamu sadari, tanpa kamu inginkan.
Notifikasi yang berdering tepat waktu. Pikiran yang terasa sangat penting untuk diselesaikan sekarang. Rasa lelah yang tiba-tiba terasa tak tertahankan. Bukan kebetulan. Ini strategi.
Lalu, apakah kita tidak berdaya? Tidak. Karena Allah tidak meninggalkan kita tanpa pertahanan. Allah Wa Ta’ala sendiri memberikan kunci perlawanannya dalam ayat yang sama surat Al-A’raf:
“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, apabila mereka disentuh godaan setan, mereka segera ingat kepada Allah, dan ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (QS Al-A’raf: 201)
“Mereka segera ingat kepada Allah.”
Dalam ilmu neurosains, ini berhubungan dengan apa yang disebut attentional override — kemampuan otak untuk secara sadar memaksa perhatian kembali kepada satu titik fokus, mengesampingkan semua gangguan. Dan kemampuan ini bisa dilatih.
Itulah mengapa para ulama mengajarkan konsep muraqabah — kesadaran penuh bahwa Allah selalu menyaksikan setiap gerakmu. Ketika muraqabah hadir dalam hati, sistem perhatian otak berubah. Ia tidak lagi mudah dicuri oleh hal-hal kecil. Karena ada sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih nyata yang menempati pusat kesadaranmu.
Muraqabah bukan sekadar amalan hati. Ia adalah perisai neurologis yang paling kuat. Malam ini, sebelum kamu menutup mata, letakkan mushafmu di atas bantal, bukan di dalam laci. Letakkan di tempat yang pertama kali terlihat matamu saat berbaring. Matikan notifikasi ponsel satu jam sebelum tidur.
Dan bisikkan dalam hati: “Ya Allah, aku tahu Engkau melihatku sekarang.”
Satu kalimat itu — Allah melihatku — lebih kuat dari semua strategi produktivitas yang pernah ada. Karena Iblis bisa mengalihkan perhatianmu dari segalanya. Tapi ia tidak bisa mengalihkanmu dari Allah — selama kamu yang lebih dulu mengingat-Nya.
Doa Perlindungan dari Godaan Setan:
“Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk.” (Dibaca 3x setiap pagi dan petang. HR Abu Dawud No. 775)
Iblis sudah bersumpah menyerangmu dari empat arah. Tapi ia lupa satu hal, ia tidak bisa masuk ke hati yang penuh dengan nama Allah. || ismirzaf@gmail.com ; fimdalimunthe55@gmail.com
