Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, mengajak negara-negara mayoritas Muslim untuk memperkuat persatuan dan konsisten mendorong terwujudnya kemerdekaan Palestina. Menurutnya, hal ini merupakan bentuk komitmen nyata dunia Islam terhadap perdamaian dan keadilan global.
Pesan kuat tersebut disampaikan Muzani saat menghadiri International Summit of Religious Affairs di Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (12/6/2026). Ia menegaskan bahwa dunia Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan penghentian konflik dan mendukung hak kedaulatan rakyat Palestina.
“Ini harus kita wujudkan. Ini adalah utang kita bersama. Lebih dari itu, kemerdekaan Palestina juga merupakan amanat konstitusi Indonesia,” ujar Muzani.
Muzani menjelaskan bahwa dukungan Indonesia terhadap Palestina tidak sekadar didasari atas kepedulian kemanusiaan, melainkan tertuang jelas dalam Pembukaan UUD 1945. Konstitusi tersebut menegaskan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan penjajahan harus dihapuskan karena bertentangan dengan peri kemanusiaan serta peri keadilan.
Di hadapan para pemimpin dan tokoh Islam dunia yang hadir, ia menyerukan agar semua pihak bergerak bersama menghentikan perang yang masih membara di Timur Tengah.
“Perang adalah kejahatan yang menghancurkan kehidupan manusia. Anak-anak menjadi korban, ratusan ribu nyawa melayang, dan situasi geopolitik menjadi tidak menentu,” tambahnya. Ia menilai krisis ini bukan lagi sekadar persoalan regional, melainkan tantangan besar bagi komunitas internasional dalam menjaga nilai kemanusiaan.
Peningkatan SDM dan Adaptasi Zaman
Selain isu Palestina, Ahmad Muzani juga menyoroti pentingnya penguatan peran dunia Islam dalam menghadapi berbagai tantangan global. Negara-negara Muslim didorong untuk fokus meningkatkan kualitas pendidikan, kesehatan, penguasaan teknologi, serta mempercepat pengentasan kemiskinan.
Sebagai contoh, ia memaparkan perjalanan Indonesia dan Malaysia yang berhasil berkembang pesat lewat pembangunan sumber daya manusia (SDM) dan stabilitas ekonomi.
“Lihatlah Indonesia dan Malaysia hari ini. Pada tahun 1940-an dan 1950-an, kedua negara masih merangkak untuk keluar dari kemiskinan. Namun hari ini, kita bersiap bertransformasi menjadi negara maju,” ungkapnya optimistis.
Muzani menilai, kemajuan dunia Islam harus berjalan selaras dengan kemampuan beradaptasi. Umat Islam dituntut terus berinovasi dan kreatif agar Islam semakin dikenal sebagai ajaran yang toleran, moderat, dan inklusif.
“Islam harus relevan dengan perkembangan zaman. Inovasi dan kreativitas diperlukan agar wajah Islam yang toleran dan moderat semakin nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” jelasnya. (*/tim)
