Hidup Bersenang-senang, Berakhir Kebinasaan

Hidup Bersenang-senang, Berakhir Kebinasaan
*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
Wakil Ketua Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jatim
www.majelistabligh.id -

Pada umumnya manusia yang diberi kekayaan berlimpah menghabiskan waktunya dengan bersenang-senang. Menikmati hidup dengan pesta pora, hidup glamor, hingga berbagai gaya hidup yang ujungnya menghamburkan uang. Hidupnya mengarah pada hedonisme yang pada akhirnya mengarah pada kebinasaan diri.

Kekayaan yang dianugerahkan padanya, bukan untuk memberi manfaat kepada orang lain tetapi justru menahannya serta mengalihkan kepada hal-hal yang minimal kemanfaatannya pada masyarakat banyak. Dengan kata lain, harta kekayaan hanya dipamerkan kepada mereka yang berhak, sehingga melahirkan kebencian. Hal inilah yang membuat Allah membiarkannya dalam kebinasaan.

Hidup Senang-Senang
Potret buram manusia yang berlimpah kekayaan seringkali terjadi. Alih-alih memanfaatkan kenikmatan besar untuk kebermafaatan pada Masyarakat kebanyakan, perilaku pemilik hart aini justru menampilkan hal yang kontras.

Kaum terdahulu berlomba-lomba menggunakan hartanya untuk bermegah-megahan dalam membangun rumah seperti istana. Ada pula yang membeli dan mengumpulkan barang-barang dan perkakas mewah. Bahkan ada pula yang memamerkan hartanya kepada semua orang agar dirinya diakui dan diagungkan sebagai pemilik harta yang banyak.

Ada pula kelompok masyarakat dengan kekayaannya untuk menikmati dan berpesta pora dan foya-foya. Ada juga para pemilik harta menjadi pemback up untuk menentang kebenaran. Dengan kata lain, pemilik harta yang melimpah menyalahgunakan amanah itu untuk merusak dirinya dan mengundang amarah Allah hingga menyambut kebinasaan. Hal ini ditegaskan Allah sebagaimana firman-Nya :

وَكَمْ اَهْلَـكْنَا مِنْ قَرْيَةٍۢ بَطِرَتْ مَعِيْشَتَهَا ۚ فَتِلْكَ مَسٰكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِّنْۢ بَعْدِهِمْ اِلَّا قَلِيْلًا ۗ وَكُنَّا نَحْنُ الْوٰرِثِيْنَ
“Dan betapa banyak (penduduk) negeri yang sudah bersenang-senang dalam kehidupannya yang telah Kami binasakan, maka itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) setelah mereka, kecuali sebagian kecil. Dan Kamilah yang mewarisinya.” (QS. Al-Qasas : 58)

Dengan kekayaan yang dimiliki, keluarganya tak pernah dapat cipratan. Orang-orang miskin dan mereka yang hidup dalam keterbatasan tak pernah tersentuh kenikmatan hartanya. Bahkan perilakunya menyakitkan. Bahkan uangnya dihabiskan untuk berfoya-foya dengan teman dan koleganya.

Mereka yang berlimpah harta, menghabiskan propertinya untuk investasi kerusakan dunia tanpa memiliki efek akherat. Menghalalkan segala cara pun ditempuh. Mereka beranggapan bahwa hidup di dunia perlu dipuaskan. Kalau pun ada akhirat, mereka yakin akan hidup dalam keadaan baik-baik saja sebagimana ketika mereka hidup di dunia.

Dengan kata lain, kalau pun ada hari kebangkitan, mereka beranggapan akan dibangkitkan diliputi dengan kebahagiaan. Mereka pada umumnya menolak kehidupan akherat. Al-Qur’an menggambarkan bahwa mereka yang berlimpah harta dan menghabiskan dengan kemaksiatan beranggapan bahwa hidupnya sama sebagaimana keadaan orang beriman.

Mengejar Surga
Berbeda dengan pemilik keimanan yang kokoh. Mereka yakin dengan janji surga yang dijanjikan Allah kepadanya. Mereka yakin bahwa ketaatan pada aturan dan hukum Allah merupakan refleksi untuk mendapatkan janji surga.

Bagi orang beriman, kekayaan merupakan anugerah yang dimanfaatkan untuk meraih surga. Hartanya dimanfaatkan untuk kebaikan dengan mensedekahkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan. Kalau pun tidak memiliki harta yang banyak, mereka tidak menuntut hidup dalam keberlimpahan harta di dunia. Mereka yakin bahwa janji Allah yang akan mendapatkan kenikmatan di surga, tidak sebanding dengan mereka yang menghabiskan waktu bersenang-senang saat di dunia.

Al-Qur’an memastikan bahwa kehidupan orang yang beriman sungguh kontras dengan mereka yang berlimpah harta. Orang beriman hidup sederhana meski memiliki harta melimpah. Hartanya dimanfaatkan untuk kebaikan orang banyak, seperti memberi kepada orang miskin dan berkebutuhan akan hartanya. Hartanya juga dimanfaatkan membangun sarana pendidikan, pesantren, dan lembaga sosial.

Tinggalkan Balasan

Search