Khutbah Idulfitri 1447 H: Fitri Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Revolusi Hati

Khutbah Idulfitri 1447 H: Fitri Bukan Sekadar Tradisi, Tapi Revolusi Hati
*) Oleh : Pujiono
Mudir PonpesMU Manafi'ul 'ulum Boyolali & Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

الحمد لله الحمد لله الحمد لله

الحمد لله الذي هدانا للإسلام، ووفقنا للصيام والقيام، وبلغنا يوم الفطر في أمن وإيمان.

أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

اللهم صلِّ على محمد، وعلى آل محمد، كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد.

أما بعد،

فيا عباد الله أوصيكم ونفسي بتقوى الله، فإن تقوى الله خير زاد ليوم المعاد.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini adalah hari kemenangan. Hari yang penuh kegembiraan setelah sebulan kita ditempa oleh madrasah Ramadan.

Namun marilah kita bertanya kepada diri kita sendiri.

Apakah Idulfitri hanya sekadar tradisi tahunan?
Apakah ia hanya sekadar pakaian baru, makanan melimpah, dan ucapan maaf di bibir?

Jika Idulfitri hanya berhenti pada itu semua, maka kita belum benar-benar memahami makna fitrah.

Allah berfirman:

> قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى ۝ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan dirinya dan mengingat nama Tuhannya lalu ia shalat.”
(QS. Al-A’la: 14–15)

Kemenangan Idulfitri adalah kemenangan hati.

Ramadan telah melatih kita menahan lapar, menahan amarah, menahan hawa nafsu, dan menahan lisan.

Tetapi sesungguhnya yang paling sulit adalah membersihkan hati dari kebencian, iri, dan kesombongan.

Rasulullah bersabda:

> إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ
“Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.”
(HR. Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hari ini kita hidup di zaman yang sangat cepat.

Berita menyebar dalam hitungan detik.
Kata-kata tersebar dalam hitungan detik.

Namun sering kali yang tersebar bukan kebaikan, tetapi kemarahan dan kebencian.

Betapa banyak manusia yang lebih cepat menekan tombol kirim daripada menahan emosi.

Betapa banyak orang yang menyebarkan berita tanpa memeriksa kebenarannya.

Padahal Allah telah memperingatkan:

> يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu suatu berita maka periksalah dengan teliti.”
(QS. Al-Hujurat: 6)

Betapa banyak persaudaraan rusak karena pesan singkat.

Betapa banyak keluarga retak karena kata-kata yang ditulis dengan emosi.

Padahal Rasulullah bersabda:

> الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
Seorang muslim adalah yang membuat muslim lain selamat dari lisan dan tangannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Izinkan saya menyampaikan sebuah kisah yang sering terjadi dalam kehidupan kita.

Pada suatu hari Idulfitri, seorang anak pulang ke rumah orang tuanya.

Ia datang membawa oleh-oleh dan hadiah.

Namun ketika ia sampai di rumah, ia melihat sesuatu yang membuat hatinya hancur.

Ayahnya sudah terbaring di ruang tamu… dibungkus kain kafan.

Ia menangis sejadi-jadinya sambil berkata:

“Ayah… aku pulang untuk meminta maaf.”

“Aku ingin memeluk ayah seperti dulu.”

“Tetapi mengapa aku selalu menunda pulang?”

“Mengapa aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku?”

“Mengapa aku baru sadar ketika semuanya sudah terlambat?”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Banyak manusia menyesal ketika kesempatan itu sudah tidak ada lagi.

Hari ini kita masih diberi kesempatan oleh Allah.

Masih bisa memeluk orang tua.
Masih bisa bersalaman dengan saudara.
Masih bisa memperbaiki hubungan yang retak.

Karena itu jangan menunda meminta maaf.

Jangan menunda memperbaiki hubungan.

Karena kita tidak pernah tahu Idulfitri tahun depan apakah kita masih ada atau tidak.

Allah berfirman:

> كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ
“Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan kematian.”
(QS. Ali Imran: 185)

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Idulfitri harus menjadi revolusi hati.

Revolusi untuk membersihkan hati dari kebencian.

Revolusi untuk memperbaiki hubungan dengan sesama.

Revolusi untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada sebelumnya.

Allah berfirman:

> إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.”
(QS. Al-Hujurat: 10)

Jika hati manusia bersih, masyarakat akan damai.

Jika masyarakat damai, negeri akan kuat.

Namun jika hati manusia penuh kebencian, maka perpecahan akan mudah terjadi.

Semoga Idulfitri ini benar-benar menjadikan kita manusia yang kembali kepada fitrah. Akhirnya Mari kita berdoa untuk kebaikan hati Kita Semuanya.

اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا وركوعنا وسجودنا.

اللهم اغفر لنا ولوالدينا ولجميع المسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات.

اللهم إن كانوا معنا فاحفظهم، وإن كانوا تحت الثرى فارحمهم.

اللهم من كان بينه وبين والديه تقصير فاغفر له ووفقه لبرهما.

اللهم من كان بينه وبين أخيه خصومة فأصلح بينهما يا رب العالمين.

اللهم طهر قلوبنا من الحقد والحسد والبغضاء.

اللهم لا تجعل هذا العيد آخر العهد منا بالحياة.

اللهم إن أحييتنا إلى رمضان القادم فبلغنا إياه ونحن في صحة وإيمان.

وإن قبضتنا قبل ذلك فاجعل خير أعمالنا خواتيمها وخير أيامنا يوم نلقاك.

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار.

وصلِّ اللهم على محمد وعلى آل محمد.
والحمد لله رب العالمين.

 

 

Tinggalkan Balasan

Search